Menyoal Politik yang Semata-mata Praktis

Dunia yang kita huni saat ini, bisa dibilang hampir segala hal yang ada di dalamnya, telah menjadi dunia politik. Politik telah mengisi seluruh aktifitas keseharian kita. Sebab itu kita mesti berpikir lebih serius lagi mengenai politik dan juga tentang prinsip-prinsip politik yang sedang berjalan.

Di abad ke-19, Ludwig Feuerbach pernah mengatakan, politik telah merenggut posisi agama. Bahkan politik telah merenggut segala hal. Jadi tak heran jika masyarakat begitu berharap berbagai persoalannya terselesaikan dengan politik dan oleh para politisi.

Politik sebagai Sentra Segala Hal?

Sulit untuk tidak menangkap kesan bahwa realitas politik dewasa ini cenderung tercerabut dari proses berpikir reflektif, tafakkur. Politik dimengerti sebagai semata-mata praktis, tindakan-tindakan yang lebih didorong oleh kepentingan politisi ketimbang sebuah visi yang berpijak pada nilai-nilai ideologis tertentu.

Politik yang terpisah dari pemikiran reflektif berpotensi menjadi hal yang menakutkan. Sebab tafakkur akan mempertimbangkan banyak hal dalam melangkah. Kalimat “berpikirlah sebelum bertindak” seharusnya juga berlaku dalam wilayah yang cukup luas semisal dalam dunia politik.

Melihat kembali bagaimana politik berkembang tampak bahwa istilah politik tidak seharusnya direduksi dalam pengertian yang semata-mata praktis. Gagasan politik Plato, Aristoteles, dan umumnya filsuf klasik lainnya, berasal dari gagasan filsafat. Filsafat menjadi pondasi gagasan politik mereka.

Sayangnya politik saat ini seolah telah terpisah dari akar gagasan filosofinya. Saat berbicara politik, kita sudah tak mengerti seperti apa bangunan filosofinya. Bukan suatu kebetulan jika ada yang mengatakan tentang “akhir ideologi.” Sementara ideologi dibangun atas dasar gagasan-gagasan filsafat, politik saat ini tak lagi bersandar kepada gagasan filsafat.

Misalnya, fondasi politik komunisme dibangun atas filsafat materialisme sejarah. Demikian halnya dengan isme-isme lainnya punya landasan filsafat dan kita mudah menemukan landasan filsafatnya. Akhir ideologi adalah akhir dari politik tanpa bangunan filsafat.

Tafakkur, Filsafat, dan Politik

Umumnya para ahli politik dan ekonomi berusaha menciptakan suatu gagasan ideologi sebagai paradigma alternatif dari gagasan sebelumnya. Juga kadang seorang pemikir ingin membuktikan gagasan teoretisnya dalam wilayah praktis. Itulah kenapa kita bisa temukan dalam sejarah, seorang filsuf terlibat dalam politik praktis, misalnya dalam menaikkan atau menurunkan rezim pemerintahan.

Meski demikian, tetap saja tak mudah menemukan relasi yang jelas antara politik dan filsafat.

Berbeda dengan Karl Popper, ia justru tak percaya terhadap gagasan filsafat klasik. Popper bahkan mengatakan Plato dan Hegel sebagai pendusta dan tak punya niat yang baik. Popper hanya percaya terhadap filsafat moderen.

Tapi apa bisa kita mengatakan pemikiran politik Plato yang hidup di abad ke 5 sebelum masehi menyebabkan Hitler berkuasa di abad 20 dan sekaligus menganggap konsep politik al-Farabi yang terpengaruh oleh Plato menyebabkan terjadinya kekerasan di dunia arab dan timur tengah? Tuduhan Popper atas mereka terlihat berlebihan.

Saat ini kita hanya bisa mengatakan bahwa ideologi seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, Nazisme, dan ideologi lainnya berakar dari filsafat moderen. Filsafat moderen menjadi basis gagasan politik dan ideologi saat ini, bahkan jika para politisi modern kita tidak menyadarinya. Teori konspirasi, misalnya, adalah hasil terbaik dari filsafat moderen yang tidak kita temukan sebelumnya, meskipun boleh jadi secara praktik fenomena konspirasi telah dilakukan jauh hari sebelumnya.

Intinya, meskipun kita tak tahu seperti apa kaitan antara filsafat dan politik namun tak dapat dipungkiri keduanya saling terkait, bahkkan jika kaitan itu tidak bersifat langsung. Sebab itu jika kita kembali ke makna politik yang sebenarnya kita akan mengatakan bahwa politik adalah tafakkur sebagaimana makna kata asalnya.

Maksudnya, bahkan jika memang aktivitas-aktivitas politik tidak selalu memiliki landasan filsafat, politik mustilah terkait dengan tafakkur atau proses berpikir reflektif, yang membuat kita akan menimbang segala persoalan dari berbagai pendekatan. Ini juga berlaku buat realitas politik modern dewasa ini, bahkan jika para politisi memahami politik sebagai yang semata-mata praktis.

1718total visits,4visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *