Terorisme dan Ekstremisme Brutal dalam Beragama: Bagian I, Sejarah dan Sayap Gerakan

Serangan teror 11 September 2001 dalam perjalanannya berhasil menggiring persepsi masyarakat, termasuk para akademisi, terkait aksi kekerasan atas nama agama. Meskipun bukan yang pertama, aksi kekerasan atas nama agama di Amerika Serikat tersebut cukup memberikan efek kejut semua pihak. Selain jumlah korban dan dampak yang ditimbulkan,  topik yang kemudian juga diangkat media adalah terkait pelaku aksi teror, kelompok ektrimis agama (religious extremism).

Kelompok ektrimis agama (religious extremist groups) umumnya dicirikan dengan beberapa karakteristik utama; menolak berkompromi dengan nilai-nilai liberal dan institusi sekuler; menolak untuk tunduk pada logika masyarakat sekuler terkait agama; dan mencoba menciptakan bentuk baru religiositas yang lebih sesuai dengan standar nilai-nilai tradisional agama yang mereka yakini.[1]

Selain itu, kelompok ektrimis agama juga memiliki kecenderungan untuk memonopoli kebenaran atas tafsir agama—menganggap dirinya sebagai pemegang otoritas tafsir agama yang paling absah—serta menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigid (kaku), literalis (tekstual), absolut, dan dogmatis. Dengan dasar tersebut, mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk perang suci (holy war) yang dilegitimasi oleh ajaran agama.[2]

 

Dari Khawarij ke ISIS

Dalam sejarah, keberadaan kelompok ektrimis agama menjadi fakta tak terbantahkan. Mereka muncul menyerang pihak-pihak yang berbeda keyakinan, sekaligus melucuti setiap pandangan yang cenderung bertentangan. Hampir setiap agama, khususnya agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) memiliki catatan sejarah terkait kelompok yang dalam literatur modern diidentikkan dengan ‘teroris’.

Dalam literatur sejarah Islam, misalnya, akar kemunculan kelompok ektrimis agama dapat ditelusuri bahkan dalam rentang awal perkembangan Islam yang, seperti kita mahfum, penuh gejolak konflik: perang antar dinasti ataupun antar aliran (teologi).[3] Adalah kaum Khawarij—kelompok yang keluar dari barisan Ali setelah menganggap Ali bersalah karena mengkompromikan kehendak Allah dengan menyetujui cara arbitrasi (tahkim)—yang dalam sejarahnya tercatat sebagai kelompok ektrimis Islam awal. Setelah memisahkan diri dari Ali, mereka membentuk komunitas yang dengan merujuk secara ketat (tekstual) Al-Qur’an dan As-Sunnah memerangi musuh-musuh mereka atas nama Allah. Hanya ada dua dunia pilihan bagi mereka, beriman atau kafir. Menganggap diri sebagai tentara Allah, mereka akan mencapai ‘tujuan suci’ mereka dengan beragam cara, termasuk dengan jalan kekerasan. Pola inilah yang kemudian mereka gunakan sebagai justifikasi membunuh khalifah Ali, r.a yang dinggap telah menyalahi ajaran agama.[4]

Selain Khawarij, dapat juga dicatat keberadaan kaum Assassin, komunitas pembunuh yang bergerak berdasarkan ideologi rahasia Isma’iliyyah. Tercatat sebagai salah satu aliran dalam Syiah, kelompok yang mengatasnamakan Imam Ghaib ini hidup di masa dinasti Abbasiyah dan aktif meneror—termasuk dalam banyak kasus, membunuh— pangeran, jenderal, bahkan ulama. Kelompok ini berhasil dihancurkan oleh bangsa Mongol dengan menghukum mati pimpinan mereka pada tahun 1256.[5]

Jejak aksi serta pandangan ekstrim kaum Khawarij dan kaum Assassin dalam perkembangannya dapat ditemui pada gerakan Wahabi di Arab Saudi (abad ke-18). Sebagaimana kaum Khawarij, Wahabi juga memegang prinsip, semua pihak terutama kaum muslim yang menolak pendapat mereka dikategorikan sebagai kelompok kafir yang dapat diperangi dan dibunuh. Gerakan ini merupakan kolabari sempurna antara Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan Muhammad ibn Saud. Di masa awal pendirian, mereka melancarkan berbagai ‘perang suci’ mulai dari menyerang Mesir dan Suriah hingga membajak kapal-kapal Inggris.[6]

Gerakan puritan awal, demikian Khaled Abou el Fadl (2005) menyebut kelompok ini.  Gagasan utama yang menjadi titik berangkat Wahabi adalah bahwa umat Islam telah menyimpang sehingga perlu adanya upaya membebaskan Islam dari semua penyimpangan ajaran—mereka sering menyebutnya sebagai bid’ah—yang semakin menguat, Kembali ke Islam yang lurus dan diridai Allah adalah target akhir Wahabi yang selanjutnya diberlakukan kepada kelompok-kelompok tasawuf, tawasul, ataupun pengikut Syiah. Dengan prinsip dasar yang mereka yakini, kelompok ini dalam perkembangannya membangun relasi yang sangat baik dengan kelompok-kelompok pelaku aksi kekerasan atas nama agama, termasuk Al-Qaeda dan Taliban di Afganistan.[7]

Al-Qaeda didirikan oleh Osama bin Laden pada tahun 1988. Bersama dengan Abdallah Azzam—berjasa memberi nama organisasi ini di masa pembentukan—Osama memimpin gerakan perlawanan terhadap negara Barat. Di masa awal, gerakan yang berprinsip “No God but Allah” ini bertujuan menggalang kekuatan untuk mengusir Uni Soviet pada Perang Afghanistan. Namun dalam perkembangannya, terlebih setelah Soviet runtuh tahun 1991, setiap yang terkait dengan Barat (khususnya Amerika Serikat) adalah musuh mereka yang harus diperangi.[8]

Dengan dasar itulah Osama merilis ‘Declaration of Jihad against the Americans Occupying the Land of the Two Holy Place’ pada 23 Agustus 1996, serta menyusul kemudian sebuah fatwa bertajuk, “Jihad against Jews and Crusaders” pada 23 Februari 1998, yang keduanya menjadi acuan bagi para pengikutnya untuk membunuh orang Amerika dan para sekutunya, baik itu militer maupun sipil. Membunuh musuh Allah diyakini oleh mereka sebagai misi suci yang sudah menjadi kewajiban setiap Muslim. Terlebih jika aksi ini dilakukan untuk membebaskan Masjidil Aqsha di Palestina dari cengkeraman penjajah.[9]

On that basis, and in compliance with Allah’s order, we issue the following fatwa to all Muslims: The ruling to kill the Americans and their allies — civilians and military — is an individual duty for every Muslim who can do it in any country in which it is possible to do it, in order to liberate the al-Aqsa Mosque and the holy mosque [Mecca] from their grip, and in order for their armies to move out of all the lands of Islam, defeated and unable to threaten any Muslim. This is in accordance with the words of Almighty Allah,”and fight the pagans all together as they fight you all together,” and “fight them until there is no more tumult or oppression, and there prevail justice and faith in Allah.”[10]

 

Demikianlah, setelah pada tahun 1992 berhasil meledakkan bom di sebuah hotel di Adeb, Yaman —kerap dihuni oleh tentara AS—serta menembak jatuh dua helikopter-serbu The US Black Hawk (membunuh 18 anggota pasukan yang berada di dalamnya), Al-Qaeda meledakkan bom di the World Trade Center di New York City tahun 1993 (membunuh 6 orang serta melukai sekitar 1000 orang), serta selanjutnya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tanzania dan Kenya tahun 1998 yang berhasil menewaskan 263 warga sipil serta melukai lebih dari 5.500 orang. Adapun pada tahun 2000, Al-Qaeda bertanggung jawab atas pengeboman terhadap kapal perang USS Cole yang menewaskan 17 anggota Angkatan Laut AS dan melukai 40 lainnya di Pelabuhan Aden, Yaman. Puncaknya, Al-Qaeda melakukan serangan 11 September 2001 yang menewaskan lebih dari 3000 orang AS, sebuah peristiwa yang menyulut reaksi keras dari dunia internasional.[11]

Sementara Taliban, kelompok ini tidak jauh berbeda dengan Al-Qaeda dalam konteks aksi dan pemikiran. Sejak dibentuk oleh Mullah Mohammed Omar tahun 1994, Taliban melancarkan beragam aksi jihad di wilayah Afganistan. Setelah berhasil menguasai Kandahar, Taliban berhasil menancapkan kekuasaannya hampir di seluruh wilayah Afganistan (di antaranya: Kabul, Urzgan dan Zabul). Aksi bom bunuh diri, pengeboman pangkalan militer AS, serta penyerangan terhadap tentara AS menjadi sederet aksi yang dilakukan Taliban.[12]

Selain kedua kelompok ini, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tentu tak bisa dinafikan sebagai ektrimis agama di era kontemporer. Gerakan yang awalnya bernama Jama’at al-Tawhid wal-Jihad ini menurut sebagian kalangan adalah bentuk lanjut dari al-Qaeda yang dianggap sudah mulai pasif dalam melancarkan aksi ‘perang suci’. ISIS didirikan oleh Abu Musab al-Zarqawi, seorang berkebangsaan Jordania, dan mulai beroperasi sejak 1999. Setelah Zarqawi tewas terbunuh dalam operasi serangan udara militer Amerika Serikat pada 7 juni 2006 di Ba’qubah, Irak, tampuk pimpinan ISIS selanjutnya dipegang oleh Abu Umar al-Baghdadi (wafat tahun 2019), serta terakhir Abu Bakr al-Baghdadi.[13]

Seperti juga kelompok ektrimis agama lainnya, ISIS menyerang musuh-musuhnya, baik melalui pengeboman sebuah wilayah maupun dengan aksi bom bunuh. Hanya saja, ISIS telihat lebih brutal karena dalam beberapa kesempatan, mereka melakukan aksi pemenggalan atas tawanan mereka. Kasus pemenggalan Nick Berg, warga Pennsylvania, AS, adalah contoh nyata betapa brutal ISIS. Video pemenggalan tersebut disebarkan oleh ISIS pada 11 Mei 2004 melalui situs Muntada al Ansar dengan judul, “Sheik Abu Musab al-Zarqawi slaughters an American infidel with his hands and promises Bush more.”[14]

Tidak hanya kelompok militer (tentara AS), ISIS juga tak jarang melancarkan serangan kepada penduduk sipil. Tahun 2007, misalnya, ISIS melakukan serangan terhadap masyarakat Iraq. Selain di Irak serta tentunya AS, ISIS menyasar berbagai negara yang dianggap sebagai musuh Islam sebagai target, salah satunya Perancis yang dianggap ISIS sebagai sarang prostusi dan kebejatan. Tepatnya 16 November 2015, ISIS melancarkan serangan brutal ke kafe, stadion Stade de France, gedung pertunjukan di Perancis hingga menewaskan 132 orang dan melukai lebih dari 100 orang dan menyebabkan 99 orang berada dalam kondisi kritis.[15]

Terakhir, Inggris menjadi saksi kebrutalan ISIS. Setelah pada 22 Mei 2017 melakukan aksi bom bunuh diri di konser Ariana Grande di Manchester Arena yang menewaskan sekitar 22 orang, ISIS selanjutnya menyerang dua lokasi: London Bridge, Borough Market. Serangan ini menewaskan tujuh orang, dan melukai puluhan orang lainnya.[16]

 

Sayap Gerakan

Dilihat dari peta persebaran, gerakan ekstrimis agama tidak hanya dimonopoli oleh satu kawasan. Gerakan kelompok ini berkembang di beberapa titik wilayah. Selain di Arab Saudi (Wahabi), Afganistan (Al-Qaeda, Taliban), atau Irak, Suriah (ISIS), gerakan ektrimis Islam muncul secara masif di Mesir. Terutama ketika tampuk pemerintahan berpindah tangan kepada Anwar Sadat, Mesir disemarakkan oleh kemunculan setidaknya empat kelompok ektrimis Islam selain Ikhwan al-Muslimin, yaitu Jama’ah al-Muslimin (Kelompok umat Islam) di bawah pimpinan Syukri Mustafa, Jama’ah Syabab Muhammad (Para Pengikut Muhammad) di bawah pimpinan Shalih Sirriyyah, al-Jama’ah al-Islamiyyah (Kelompok Islam), dan kelompok Tanzhim al-Jihad (Organisasi Jihad) di bawah kepemimpinan Abd al-Salam Faraj. Kelompok-kelompok ektrimis tersebut berusaha merebut kekuasaan dari tangan kaum militer dengan segala cara. Keberhasilan mereka hampir terpenuhi saat Anwar Sadat mereka bunuh dalam Parade Militer 6 Oktober 1981.[17]

Dalam sejarahnya, Mesir memang tidak asing bagi munculnya gerakan ektrimis. Di wilayah ini, perbedaan cara pandang (pola pikir) dapat menyebabkan aksi pembunuhan terjadi, seperti dialami oleh Farag Faudo yang ditembak mati oleh kelompok Jamaah Islamiyah karena dianggap sebagai sosok sekuler sekaligus kafir sehingga harus dilumpuhkan tidak hanya pemikirannya namun juga nyawanya.[18]

Selain di Timur Tengah, kelompok ekstrimis agama juga menyebar ke berbagai wilayah. Di Asia Selatan, Lashkar-e-Tayyiba menjadi kelompok yang penting dicatat keberadaannya. Aksi teror yang dilakukan kelompok ini di Mumbai, India (26-29 November, 2008) berhasil menewaskan lebih dari 160 orang dan melukai ratusan orang di dua hotel, stasiun kereta api, kafe, dan rumah sakit. Seperti pola yang digunakan ISIS ketika menyerang Perancis tahun 2015 lalu, kelompok Lashkar-e-Tayyib juga menggunakan bom bunuh diri sebagai media penyerangan.[19]

Bermarkas di Pakistan, Lashkar-e-Tayyiba merupakan gerak lanjut dari Markaz Dawa-wal-Irshad (MDI) yang didirikan sekitar tahun 1987 oleh tiga akademisi (profesor) asal universitas Pakistan: Hafiz Saeed, Zafaq Iqbal, dan Abdul Rehman Makki, dengan dukungan dari Sheikh Abdullah Azzam, seorang tokoh Islam yang membawa pengaruh besar pada Osama bin Laden.[20] Kelompok ini disinyalir sebagai kelompok ektrimis agama yang sama berbahayanya dengan al-Qaeda. Beberapa sebab, di antaranya: 1) visi global dan ambisi internasional yang dimiliki; 2) keyakinan ideologi keagamaan serta kebijakannya untuk berkolaborasi dengan kelompok teroris lainnya; 3)  perluasan jaringan guna memobilisasi sumber daya: bergerak dalam skala internasional seraya terus merekrut anggota sehingga memimalisir ketergantungan terhadap negara; 4) struktur organisasi yang terpadu dan hirarkis sehingga efektif dalam aksi (kekerasan); serta 5) kemahiran memanfaatkan sains dan teknologi.[21]

Di Afrika, Boko Haram perlu dicatat sebagai salah satu kelompok ektrimis agama yang cukup berpengaruh. Didirikan oleh Mohammed Yusuf pada tahun 2002, kelompok ini bertujuan untuk memerangi hal-hal yang berkaitan dengan Barat (Westernisasi) dengan pola pendirian negara Islam berdasarkan hukum syariah. Pada tahun 2009, Boko Haram melancarkan aksi pemberontakan terhadap pemerintah wilayah Maiduguri dan menewaskan sekitar 800 orang dalam 5 hari.[22]

Pada tahun yang sama, pemimpin mereka, Mohammed Yusuf berhasil ditembak mati polisi. Akan tetapi kematian Yusuf tak membawa dampak berarti bagi kelompok ini. Boko Haram tetap beroperasi di beberapa wilayah Nigeria, khususnya di Nigeria Utara dan Tengah, dan tetap melancarkan aksinya dengan kejam dan brutal. Kimemia (2015) mencatat, dalam rentang tahun 2008-2013, sekitar 8000 orang tewas akibat kekejaman kelompok Boko Haram di Nigeria.[23] Sementara Smith (2015) memberi data, pada tahun 2011 mereka membunuh sekitar 23 orang dalam aksi serangan bom bunuh diri di markas besar polisi wilayah Abuja. Tahun 2012, dalam serangan bom di Kano, mereka berhasil menewaskan sekitar 185 orang.[24]

Di Asia Tenggara, kelompok Abu Sayyaf (Al Harakat al Islamiya) menjadi contoh gerakan ektrimis agama yang cukup berpengaruh. Beroperasi di Filipina Selatan kelompok ini dipimpin oleh Abdulrajak Janjalani, anak dari tokoh ulama Basilan.[25] Setelah merekrut para anggota Moro National Liberation Front (MNLF) yang merasa tidak puas dengan kinerja Nur Misuari (pendiri sekaligus ketua MNLF), seperti Wahab Akbar, Amil hussin Jumaani dan Abdul Ashmad pada kisaran tahun 1989, Janjalani melancarkan ragam aksi teror, termasuk berupaya menganggu proses perdamaian yang tengah berlangsung antara pemerintah Filipina dengan MNLF. Selain untuk melakukan sabotase, langkah ini diambil sekaligus untuk mendiskreditkan pimpinan MNLF.[26]

Dalam perkembangannya, Osama bin Laden menjadikan Abu Sayyaf sebagai jaringan sel Al-Qaeda untuk wilayah Asia Tenggara. Selain membiayai operasional gerakan, bin Laden juga memberikan pendampingan, termasuk pelatihan militer bagi organisasi ini. Dibantu oleh Wali Khan Amin Shah, militan senior yang berjuang bersama bin Laden di Afghanistan, bin Laden melakukan rekrutmen secara lebih masif.[27] Penghacuran M/V Doulos, kapal misionaris Kristen yang berlabuh di Zamboanga, Filipina Selatan pada Agustus 1991 adalah contoh aksi teror yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf, selain aksi-aksi lain yang ditujukan untuk menyerang pihak yang mereka anggap sebagai musuh Islam.

Selain Abu Sayyaf, Jemaah Islamiyah adalah kelompok ekstrimis agama lain di kawasan Asia Tenggara yang patut dicatat. Tahun 2002, organisasi ini ditetapkan secara resmi oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai organisasi teroris yang berada di balik serangan Bom Bali 12 Oktober 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang.[28] Abdullah Sungkar dan Abdullah Ba’asyir adalah dua nama yang berperan penting dalam pembentukan Jamaah Islamiyah. Abdullah Sungkar, sejauh ini sering dikaitkan dengan kelompok ‘Jamaah Mujahidin Anshorullah’ yang didirikannya pada akhir 1970-an. Sedangkan Abdullah Ba’asyir lebih dikenal sebagai pendiri dan pengasuh pesantren Ngruki.

Secara keorganisasian, tidak ada keterangan yang pasti kapan Jamaah Islamiyah secara resmi dibentuk. Beberapa menyebut Jamaah Islamiyah didirikan oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir pada tahun 1995 di Malaysia. Pada periode tahun tersebut keduanya diketahui berada dalam kejaran pemerintah Indonesia sebagai akibat dari sikap penolakan mereka atas azas tunggal Pancasila. Dari pengasingan di Malaysia itulah mereka membangun kekuatan dan akhirnya bermetamorfosa menjadi sebuah organisasi militan Islam di Asia Tenggara yang berupaya mendirikan sebuah negara Islam raksasa di wilayah negara-negara Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand dan Filipina.[29]

Selain Bom Bali, Jamaah Islamiyah seperti diutarakan oleh Omar Al-Faruq (kaki tangan Osama bin Laden di Asia Tenggara, disinyalir telah melakukan aksi teror lain, seperti peledakan Masjid Istiqlal tahun 1999, serta pengeboman gereja-gereja di Indonesia yang terjadi serentak di malam Natal tahun 2000. Menurut Al-Faruq, semua aksi tersebut didalangi oleh Jamaah Islamiyah dengan komando langsung dari Abu Bakar Ba’asyir.[30] Selain beberapa aksi teror tersebut, Jamaah Islamiyah juga bertanggung jawab atas pengeboman Hotel Jw Marriot, Jakarta (5 Agustus 2003), pengeboman Kedutaan Australia di Indonesia (9 September 2004), pengeboman SuperFerry di Filipina (14 Februari 2004), serta Bom Bali II (1 Oktober 2005).[31]

 

Bersambung …

[1] Mark Juergensmeyer meletakkan kelompok ini dalam spektrum gerakan sehingga mendefinisikannya sebagai gerakan keagamaan radikal (the radical religious movements). Lihat Mark Juergensmeyer, “Terror in the Name of God,” Current History: A Journal of Contemporary World Affairs,100, November 2001, hal. 357-61

[2] Martin E. Marty dan R. Scott Appleby, Fundamentalism Observed (Chicago: The University of Chicago Press, 1991). Lihat juga, Bruce Lincoln, Holy Terrors: Thinking About Religion after September 11 (Chicago: University of Chicago Press, 2002).

[3] Meskipun masih memerlukan pembahasan lebih lanjut, perlu dilihat apakah pembunuhan Umar Bin Khatab oleh seorang anak Majusi, atau Utsman Bin Affan oleh kelompok Islam penentang Ustman dapat dikategorikan sebagai aksi kekerasan atas nama agama oleh kelompok ektrimis. Karena alih-alih berpikir tentang jasa Umar dan Utsman dalam membangun Islam—bahkan Ustman notabene termasuk “as-sabiqunal awwalun” (orang yang pertama masuk Islam)—kelompok ektrimis agama menganggap, baik Umar maupun Utsman sama-sama berstatus sebagai musuh bersama yang harus diperangi. Tidak heran jika pada saat Utsman wafat, sekelompok orang menolak jenazahnya dikebumikan di pemakaman muslim (pekuburan baqi) dan baru, setelah dua malam tak terurus, jenazah Utsman dimakamkan di Hisy Kaukab, sebuah areal pekuburan Yahudi. Al-Thabari, Tarikh al-Tabari, Beirut: Muassasatul I’lam lil Mathbu’at. Juz III: 439, seperti dikutip Farag Fouda, Kebenaran Yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim. Judul Asli: Al-Haqiqah al-Ghaibah, (Jakarta, Paramadina, 2008), hal. 26.

[4] John L Esposito, Unholly War: Terror in the Name of Islam, (Oxford: Oxford University Press, Inc, 2002), hal. 41-42. Lihat juga, Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: UI Press, 2002), hal. 8, 13-23.

[5] Esposito, Unholly War,….. hal.43.

[6] L. Corancez, History of the Wahhabis: From their Origin Until the End of 1809, trans. Eric Tabet, (London: Garnet, 1995).

[7] Khaled Abou El Fadl, The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists (San Francisco: HarperOne, 2005), hal. 101. Khusus sejarah awal dan dinimaka perkembangan Wahabi, lihat bab 3, “The Rise of Early Puritans” hal. 45-94.

[8] Menarik dicatat, sebelum aktif memerangi Amerika, Osama sejatinya adalah sekutu Amerika dan mendapat dukungan sepenuhnya dari CIA untuk melawan Sovyet. Beberapa pihak menyebut, Osama adalah proyek intelejen Amerika yang diciptakan pada era Perang Dingin yang kemudian berbalik melawan Amerika. Steve Coll, Ghost Wars: The Secret History of the CIA, Afghanistan, and Bin Laden, from the Soviet Invasion to September 10, 2001 (New York: Penguin Press, 2004)

[9] Gilles Kepel, Jihad: The Trail of Political Islam, (Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, 2002), khusunya bab “Osama bin Laden and the War against the West”, hal. 317-19.

[10] Osama bin Laden, “Jihad against Jews and Crusaders” (23 Februari 1998)” lampiran dalam, Vincenzo Olivetti, Terror’s Source: The Ideology of Wahhabi-Salafism and Its Consequences (Birmingham, U.K.: Amadeus Books, 2002), hal. 83.

[11] A.M. Hendropriyono, Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009), hal. 193-194.

[12] Michael Griffin, Reaping the Whirlwind: The Taliban Movement in Afghanistan (London: Pluto Press, 2001), hal. 44-45. Lihat juga Ahmed Rashid, Taliban: Militant Islam Oil and Fundamentalism in Central Asia (New Haven, London: Yale University Press, 2000);

[13] Sebelum tanggal 8 April 2013, ISIS dikenal dengan nama Negara Islami Jihadis Irak, serta Negara Islam Irak (Islamic State in Iraq/ISI). Organisasi ini dipimpin oleh Abu Umar al-Baghdadi yang meninggal pada April 2010. Setelah itu, Abu Bakr al-Baghdadi menggantikan posisinya dan berhasil memperluas wilayah kekuasaan ISI hingga ke Suriah. Atas keberhasilan tersebut, ISI mulai mengganti nama mereka menjadi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang digunakan hingga saat ini. Fawaz Gerges, ISIS: A History, (Princeton: Princeton University Press, 2016).

[14] Mark Oliver, “The life and death of Nick Berg”, theguardian.com, 12 Mei 2004, dalam  https://www.theguardian.com/world/2004/may/12/iraq.usa4; Dexter Filkinsmay, “The Struggle For Iraq: Revenge Killing; Iraq Tape Shows The Decapitation of An American, www.nytimes.com, 12 Mei 2004, http://www.nytimes.com/2004/05/12/world/struggle-for-iraq-revenge-killing-iraq-tape-shows-decapitation-american.html (Diakses pada 27 Juni 2017).

[15] The Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center, “ISIS Terrorist Attack in Paris Initial Overview and Implications (Updated to November 16, 2015)” http://www.terrorism-info.org.il/Data/articles/Art_20910/E_210_15_938363285.pdf (Diakses pada 27 Juni 2017). Terkait daftar aksi teror ISIS hingga tahun 2016, lihat Kyle Orton, Foreign Terrorist Attacks By The Islamic State, 2002-2016 (The Henry Jackson Society, 2017).

[16] “ISIS Claims Responsibility For London Attack That Killed 7, Injured 48” npr.org, 4 Juni 2017, http://www.npr.org/sections/thetwo-way/2017/06/04/531459784/raids-in-london-after-attack-that-killed-7-injured-48; “ISIS claims London terror attack was REVENGE for ‘Love from Manchester RAF bomb’” express.co.uk, 5 Juni 2017, http://www.express.co.uk/news/uk/813042/London-terror-attack-Manchester-bombing-ISIS-RAF-hellfire-missile-revenge (Diakses pada 27 Juni 2017).

[17] Gilles Kepel, Muslim Extremism in Egypt: The Prophet and Pharaoh (Berkeley, Los Angeles: University of California Press, 2002).

[18] Samsu Rizal Panggabean, “Faraj Faudah dan Jalan Menuju Toleransi”, Pengantar Buku, Farag Fouda, Kebenaran Yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim. Judul Asli: Al-Haqiqah al-Ghaibah, Ter. Novriantoni (Jakarta, Paramadina, 2008).

[19] Saroj Kumar Rath, Fragile Frontiers: The Secret History of Mumbai Terror Attacks (New Delhi: Routledge, Taylor & Francis Group, 2014); Stephen Tankel, Lashkar-e-Taiba: From 9/11 to Mumbai (ICSR, Mei 2009), Angel Rabasa, et al., The Lessons of Mumbai (Arlington, VA: RAND Corporation, 2009). Lihat juga, “Pakistani militant ‘masterminded Mumbai attacks,’ suspect says”, cnn.com, 21 Juli 2009, http://edition.cnn.com/2009/WORLD/asiapcf/07/20/india.mumbai.trial/index.html (Diakses pada 27 Juni 2017).

[20] Ashley J. Tellis, “The Menace That Is Lashkar-e-Taiba” Carnegie: Endowment for International Peace, Maret 2012, http://carnegieendowment.org/files/LeT_menace.pdf (Diakses pada 27 Juni 2017), hal. 3

[21] Tellis, “The Menace That Is Lashkar-e-Taiba”,…. hal. 1. Lihat juga, Saroj Kumar Rath, Fragile Frontiers: The Secret History of Mumbai Terror Attacks (New Delhi : Routledge, Taylor & Francis Group, 2014)

[22] Mike Smith, Boko Haram: Inside Nigeria’s Unholy War, (London: I.B. Tauris, 2015)

[23] Douglas Kimemia, Africa’s Social Cleavages and Democratization: Colonial, Postcolonial, and Multiparty Era, (Lanham: Lexington Books, 2015), hal. 262.

[24] Smith, Boko Haram: Inside Nigeria’s,…. hal. xiv.

[25] Janjalani adalah aktivis militan Moro yang  pada tahun 1980an mengikuti kamp pelatihan militer Afghanistan. Ia bergabung dengan pasukan Mujahidin Afghanistan dalam melawan invansi dan pendudukan Uni Soviet dibawah pimpinan Abdur Rab Rasul Sayyaf, seorang panglima militer Mujahidin dari faksi Ittihâd al-Islâmî. Dalam perkembangannya, Janjalani ditengarai turut membangun jaringan al-Qaeda, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Zachary Abuza, “Balik-Terrorism: The Return of the Abu Sayyaf”, Strategic Studies Institute, September 2005, 2, https://ssi.armywarcollege.edu/pdffiles/PUB625.pdf (Diakses pada 27 Juni 2017).

[26] National Intelligence Coordinating Agency (NICA), “Briefing on Al Harakat al Islamiya (AHAI),” seperti dikutip Abuza, “Balik-Terrorism: The Return of the Abu Sayyaf”, hal. 2-3.

[27] Abuza, “Balik-Terrorism: The Return of the Abu Sayyaf”, hal. 3.

[28] Beberapa data terkait Bom Bali dan keterlibatan Jamaah Islamiyah, termasuk jaringan operasi yang dimiliki, lihat ICG Asia Report No.43, Indonesia Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network Operates, 11 Desember 2002, dalam http://www.seasite.niu.edu/indonesian/islam/ICG-Indonesia%20Backgrounder%20JI.pdf (Diakses pada 27 Juni 2017).

[29] Target utama Jamaah Islamiyah, seperti terangkum dalam berita acara perkara pidana Nuri Soelarso di Pengadilan Negeri Wates 1982, adalah membentuk Negara Islam Indonesia dan memberlakukan hukum Islam secara positif yang berdasarkan kepada al-Qur’an dan Hadist dengan menggantikan atau mengubah dasar negara Republik Indonesia: Pancasila dan UUD 1945 dengan cara kekerasan dan senjata. Dasar ini pula yang mendorong sebagian pihak mengambil kesimpulan bahwa Jamaah Islamiyah merupakan transformasi dari gerakan Darul Islam (DI) yang pernah memberontak sekitar tahun 1950-an yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). M Zaki Mubarak, Genealogi Islam Radikal di Indonesia Gerakan, Pemikiran dan Prospek Demokrasi, (Jakarta: LP3ES, 2007), hal. 324-25.

[30] Kesaksian terkait peran Ba’asyir dalam teror tersebut juga diperkuat oleh Faiz Abubakar Bafana, mitra kerja Ba’asyir di Jamaah Islamiyah, yang ditangkap oleh pemerintah Singapura bersama 31 tersangka teroris lainnya. Bahkan dari mereka didapati pula keterangan bahwa Ba’asyir berencana menghabisi nyawa Megawati yang dianggap mendukung umat Kristen.”Ustad Ba’asyir mengatakan Megawati perlu dibunuh karena Megawati menyokong orang Kristen. Ide ini datang dari ustad,…” ujar Bafana dalam keterangannya. Tentang ini lihat Mubarak, Genealogi Islam Radikal,….. hal. 322.

[31] Peter Chalk, Angel Rabasa, William Rosenau, Leanne Piggott, The Evolving Terrorist Threat to Southeast Asia: A Net Assessment (RAND Corporation, 2009), hal. 98-99.

[32] Dalam beberapa kasus mereka yang meyakini prinsip tersebut seringkali merujuk pada sebuah hadist, “Barang siapa terbunuh karena membela hartanya, dia mati syahid; barang siapa terbunuh karena membela agamanya, dia mati syahid; barang siapa terbunuh karena membela darahnya, dia mati syahid; dan barang siapa yang terbunuh karena membela keluarganya dia mati syahid” (H.R. Tirmizi). Hadist inilah yang bagi mereka dijadikan sebagai legitimasi tekstual. Terkait uraian atas isu ini, lihat Roxanne L. Euben, “Killing (For) Politics: Jihad, Martyrdom, and Political Action” Political Theory, Vol. 30, No. 1 (Feb., 2002), hal. 4-35; Mark Sedgwick, “Jihad, Modernity, and Sectarianism” Nova Religio: The Journal of Alternative and Emergent Religions, Vol. 11, No. 2 (November 2007), hal. 6-27; Adam L. Silverman, “Just War, Jihad, and Terrorism: A Comparison of Western and Islamic Norms for the Use of Political Violence” Journal of Church and State, Vol. 44, No. 1 (Winter 2002), hal. 73-9.

[33] Onder Bakircioglu, “A Socio-Legal Analysis of The Concept of Jihad” The International and Comparative Law Quarterly, Vol. 59, No. 2 (April 2010), hal. 413-440.

781total visits,4visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *