Peran Media Massa dalam Melawan Terorisme

Terorisme di mata saya adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang mempermainkan rasa takut manusia–menstimulus perasaan terancam–untuk memperoleh kekuasaan atau perasaan berkuasa (atas pihak lain, baik perorangan maupun perkelompok). Aksi teror yang dilakukan dalam rangka menimbulkan ketakutan berupa teror fisik–penembakan, percobaan pembunuhan, penyanderaan, dan yang paling populer, yaitu bom.

Saya sendiri belum pernah mengalami aksi teror maupun menyaksikan kerabat atau anggota keluarga menjadi korban. Tetapi, media nasional dan internasional sudah banyak sekali menyuguhkan liputan pemberitaan mengenai kejadian teror dan sebagiannya sangat menyentuh saya secara personal, salah satunya penembakan massal di sebuah klub malam di Orlando.

Tumbuh besar di Indonesia, di tengah masyarakat yang sangat diskriminatif dan kejam pada orang-orang homoseksual dan transgender membuat saya selalu berempati ketika kelompok tertindas ini mengalami penyerangan, apalagi yang dilakukan Omar Mateen di sana sangatlah brutal.

Saya kemudian bertanya-tanya, “bagaimana individu dapat dipenuhi begitu banyak kebencian sehingga ia bisa dengan gampangnya membunuh individu lain yang bahkan ia kenal pun tidak?” Lalu, saya membaca beberapa sumber yang membahas faktor penyebab terorisme. Tentu saja ada banyak hipotesis dan teori yang berkembang, namun di dalam artikel ini, saya akan pakai argumen teoris yang menitikberatkan perubahan sosial.

Dari Ekstremisme ke Terorisme

Leontiev (dalam Zinchenko, 2009) memakai pendekatan psikologi aktivitas untuk memahami penyebab berkembangnya terorisme. Lewat pendekatan ini, didapati beberapa faktor antara lain, (1) instabilitas sosial dalam kondisi perubahan sosial, (2) fenomena sosial baru yang tidak umum, (3) perubahan opini publik yang mulai menampakkan keberbedaan ide dari kelompok sosial yang beragam, (4) munculnya berbagai gerakan sosial masif dengan gagasan radikal yang di dalamnya terdapat “kelompok berisiko” (risk-groups) dengan kecenderungan ke arah ekstremisme (Zinchenko, 2009:460-1).

Dari sini, kita dapat melihat bahwa terorisme berkembang ketika sebuah masyarakat mengalami perubahan yang cepat sehingga suasana terasa tidak stabil dan penuh dengan fenomena baru yang tidak lazim (anti-mainstream), lalu keberbedaan di tengah masyarakat mulai mencolok dan lengkap dari kutub ekstrem paling kiri ke paling kanan.

Kalau kita berkaca pada dunia hari ini, banyak orang bergerak dari bertuhan menjadi tidak bertuhan, beragama menjadi tidak beragama, tadinya homoseksual tersembunyi kini bisa terbuka bahkan menikah secara legal, orang banyak mempraktikkan nudity, feminazi melakukan berbagai aksi yang dianggap ekstrem termasuk mencucurkan darah menstruasi di jalan raya, hidup bersama tanpa menikah menjadi lazim, dan seterusnya.

Perubahan semacam ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat. Dan agama, sebagai sebuah budaya yang cenderung resisten terhadap perubahan tentu saja menjadi ide yang paling rentan untuk menjelma menjadi terorisme. Seperti di Amerika hari ini, Kristen fundamentalis mulai berkembang lagi dan sudah berulah di beberapa tempat, termasuk melakukan upaya pengusiran pasangan sesama jenis dari rumah mereka di sebuah kompleks mayoritas Kristen dan melakukan aksi anti-LGBT dengan nada mengutuk seperti, “Homoseksual masuk neraka!” di depan gedung putih.

Sebagian orang beragama yang lebih terbuka pada perbedaan bisa menghasilkan ide-ide agama yang progresif, menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan manusia. Sebagian lainnya yang sangat resisten terhadap perubahan berusaha memukul mundur perubahan yang sedang terjadi. Inilah yang dimaksud dengan “munculnya berbagai gerakan sosial masif dengan gagasan radikal”. Radikalisme agama ini biasanya hanya menunggu waktu saja untuk bertransformasi menjadi aksi bom bunuh diri atau penembakan massal.

Karena idenya radikal, mereka punya kecenderungan alergi terhadap perbedaan–saya sebut sebagai bhinekaphobia. Para bhinekaphobia ini mau implementasi ide yang menyeluruh, karena mereka percaya betul agama yang diimaninya adalah yang paling benar dan kalaupun agama lain (atau prinsip moral lain) ada di tengah masyarakat, kekuasaan atas hukum dan budaya harus dikooptasi oleh nilai-nilai agamanya. Di Indonesia sendiri contoh kasusnya sudah banyak, termasuk pengusiran jemaat Syiah, pengerusakan masjid Ahmadiyah, dan gerakan perluasan pasal zinah oleh AILA.

Gerakan AILA langsung mencomot label “agama” agar seolah-olah mereka tidak melakukan monopoli nilai. Pada kenyataan, AILA adalah organisasi Islam dan dari mazhab tertentu saja. Apakah kelompok Islam lain setuju dengan pandangannya? Belum tentu. Tapi ya mereka sudah pakai label “agama” untuk memperjuangkan ide radikal-bhinekaphobik-nya itu.

Nah, di dalam gerakan masif bernilai radikal inilah, Leontiev menyebut adanya “kelompok berisiko” (“risk groups”) dengan kecenderungan ke arah ekstremisme. Lalu, bagaimana kelompok berisiko ini akhirnya betul-betul memutuskan menjadi teroris? Terdapat beberapa tahapan kondisi mental seseorang sehingga akhirnya betul-betul menjadi teroris, yakni (1) sosialisasi dini tentang nilai dan idealisme ekstrimisme, (2) memiliki kelainan narsisisme, (3) mengalami situasi konflik, dan (4) interaksi personal dengan anggota organisasi teroris (Zinchenko, 2009:462-3).

Media dan Terorisme

Untuk mencegah individu dalam kelompok berisiko terinjeksi terorisme dan menjadi pelaku aksi teror, media massa punya peran besar. Sosialisasi nilai dan idealisme terorisme tentu saja dilakukan lewat penyebaran informasi melalui media. Selain itu, cara media memberitakan aksi terorisme juga harus diperhatikan. Jangan sampai menunjukkan prasangka, perilaku yang tidak adil, interpretasi yang salah atas situasi, menyebut kelompok teroris sebagai pemberontak dengan citra yang jauh dari tujuan mereka sebenarnya (Zinchenko, 2009:471-2).

Setelah aksi teror terjadi, kelompok berisiko berada dalam kondisi rentan dan sensitif, media perlu sangat berhati-hati dalam memberitakannya, karena bisa memperburuk keadaan dan justru membantu organisasi teroris menginfiltrasi ideologinya. Terkadang juga mereka secara sengaja memancing media memberitakan mereka dengan cara yang telah mereka rencanakan.

Karena dengan model pemberitaan semacam itu, mereka yakin target potensial mereka akan mantap ikut memperjuangkan gerakan terorisme. Media bisa bergerak dengan lebih banyak menunjukkan fakta tanpa pretensi dan framing yang tendensius mengarah pada penghakiman massa yang kejam dan semakin mengalienasi mereka.

Saya pribadi kerap mengamati media radikal di Line yang bernama “Dakwah Islam” dan “Dakwah Muslimah”–gejala radikalisme yang saya amati adalah derajat bhinekaphobia yang sangat tinggi, bahkan sampai pada titik mengabsolutkan ide bahwa jilbab yang syar’i itu harus yang sampai menutup seluruh tubuh kecuali mata.

Ketika terjadi aksi teror dengan pelakunya mengucap “allahuakbar” sebelum meledakkan bom bunuh diri, media-media ini langsung gencar memberitakan bahwa terorisme tidak memiliki agama (terrorism has no religion) dan media-media besar berkonspirasi untuk menghancurkan citra Islam, dan seterusnya. Saya pikir tidak ada salahnya untuk media besar mulai menyebut pelaku teror sebagai “tafsir Islam tertentu” atau “terduga Muslim”, intinya terbuka pada ragam interpretasi dan praktik beragama di dalam tubuh Islam sehingga tidak terkesan pukul rata dan overgeneralisasi.

Sementara itu, media yang mempublikasikan opini harus lebih banyak mengelaborasi motif. Menjelaskan bahwa dunia memang berubah dengan cepat dan tidak semua kelompok masyarakat dapat dengan tenang menghadapinya. Influencer bisa lebih banyak menyuarakan bahwa berubah adalah esensi dari kebudayaan karena budaya melekat pada manusia dan manusia sejatinya selalu berubah.

Media harus mengkampanyekan nilai-nilai kemanusiaan yang ramah pada perubahan dan perbedaan. Meskipun di dalam koridor pribadi dan keluarga sendiri, individu sangat mungkin melestarikan tradisi, tidak mau berubah, dan menjaga homogenitas sosial seperti Arab yang harus nikah dengan Arab atau Cina yang harus nikah dengan Cina, media harus terus menyampaikan bahwa individu lain dan keluarga lain mungkin sekali berubah dan mempraktikkan budaya yang sama sekali berbeda.

Situasi konflik batin yang dialami individu berisiko muncul dari keterkejutan akan perubahan yang cepat, maka ada baiknya juga kampanye media dilakukan secara perlahan, persuasif, dan akomodatif. Jangan memperkeruh keadaan dengan menciptakan dikotomi “kami dan mereka”, jangan melawan teror dengan teror. Upaya perlawanan, bahkan dalam discursive arena sekalipun, harus dilakukan dengan cara yang sedamai mungkin dan tidak agresif.

 

SUMBER JURNAL

Zinchenko, Yuri P. “Mass Media as an Effective Tool for Prevention of Socio-Psychological Factors in the Development of Terrorism” dalam Psychology in Russia: State of the Arts (2009): hlm.459-471.

* Tentang Penulis

3771total visits,1visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *