Terorisme, Media, dan Kebijakan Negara

Pada 25-27 Agustus 2017, Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks) dan Qureta kembali melaksanakan Workshop dan Pelatihan Menulis Esai Kontra-Terorisme. Bertempat di Batu Village Resort & Convention Hall, Kota Batu, workshop dan pelatihan kali ini mengangkat tema “Terorisme, Media, dan Kebijakan Negara”. Kegiatan diikuti oleh 25 peserta dari kalangan generasi muda, terdiri dari 1 (satu) siswa SMA dan 24 mahasiswa S1, yang berdomisili di Malang dan wilayah-wilayah sekitarnya.

Dr. Ali Munhanif (PPIM UIN Jakarta) dan Dr. Ade Armando bertindak selaku narasumber materi terorisme. Adapun Luthfi Assyaukanie (Qureta) dan Ignatius Heryanto (Remotivi) bertindak sebagai pelatih dalam kelas menulis esai kontra-terorisme. Selain sesi penyampaian materi oleh narasumber dan pelatihan menulis esai oleh pelatih, terdapat juga sesi pemutaran film dan diskusi “Menangkal Narasi Ekstremisme Brutal” yang dipandu oleh Nanang Sunandar (Indeks) yang bertindak sebagai fasilitator.

Negara vs Terorisme

Hari pertama kegiatan, Jumat, 25 Agustus 2017, dibuka pukul 13.30, yang didahului oleh makan siang bersama. Sesi pembukaan diisi dengan sambutan oleh Nanang Sunandar, yang menyampaikan kepada peserta tujuan dari penyelenggaraan kegiatan dan agenda apa saja yang akan dilaksanakan dalam tiga hari ke depan. Selain itu, masih dalam sesi pembukaan, Nanang Sunandar juga memandu pengisian angket monitoring dan evaluasi oleh peserta, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi kondisi awal pemahaman peserta tentang isu-isu terorisme. Sesi pembukaan ditutup dengan perkenalan antara peserta dan seluruh tim penyelenggara workshop dengan fasilitator Sukron Hadi (Indeks). Selain memperkenalkan identitas masing-masing, para peserta juga menyampaikan perasaan, alasan, dan harapan terkait keterlibatan mereka dalam kegiatan ini.

Setelah rehat untuk memberikan kesempatan shalat Ashar, Dr. Ali Munhanif menyampaikan materi tentang “Terorisme dan Kebijakan Negara”. Dalam pemaparannya, Ali menjelaskan berbagai aspek terkait terorisme, mulai dari sejarah, perdebatan dalam definisi terorisme, aksi-aksi terorisme, dan propaganda terorisme di media. Selain itu Ali juga menjelaskan hubungan antara aksi terorisme dan kebijakan negara, antara lain tentang bagaimana monopoli kekerasan oleh negara juga bisa berujung pada terorisme oleh negara, dan bagaimana kondisi-kondisi tertentu dalam pengelolaan negara juga dapat menjadi faktor pendorong aksi terorisme.

Para peserta tampaknya memberikan perhatian yang sangat serius terhadap pemaparan Ali, terbukti dari tingginya antusiasme peserta dalam mengajukan pendapat dan pertanyaan dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah peserta menggarisbawahi perdebatan dalam definisi terorisme, yang akhirnya membuat definisi terorisme bersifat politis. Aksi-aksi untuk melawan kolonialisme dan gerakan separatisme dapat dianggap sebagai aksi terorisme manakala menggunakan pendekatan kekerasan. Ali tidak menampik pendapat ini, namun memberikan penjelasan bahwa secara relatif sejak era kemerdekaan negara-negara bangsa pasca-Perang Dunia II, segala bentuk pendekatan kekerasan dalam memperjuangkan kemerdekaan tidak lagi bisa diterima oleh masyarakat internasional. Itulah kenapa misalnya, dalam kasus Palestina, organisasi Fatah yang  menekankan negosiasi dengan Israel tidak dianggap sebagai kelompok teroris, sementara Hamas yang menolak esistensi negara Israel dikelompokkan sebagai organisasi teroris. Hal yang sama juga berlaku dalam kasus perjuangan kemerdekaan di Irlandia Utara, Spanyol, dan gerakan Fretilin di Timor Timur sebelum Timor Leste merdeka dan berpisah dari Republik Indonesia.

Menangkal Narasi Teror

Setelah istirahat dan makan malam, Nanang Sunandar memandu sesi pemutaran film dan diskusi “Menangkal Narasi Ekstremisme Brutal”. Di awal sesi, Nanang memutarkan dua film pendek yang dibuat oleh Family Againts Terrorism and Extremism (FATE), sebuah organisasi yang didirikan oleh orang tua dan keluarga yang anggota keluarganya terpapar ekstremisme dan terlibat dalam aksi-aksi terorisme ISIS. Selesai pemutaran film, peserta diminta berpendapat tentang film yang baru mereka saksikan. Setelah mendengarkan pendapat peserta, Nanang memaparkan tentang Narasi Ekstremisme Brutal dan bagaimana metode menangkalnya.

Dalam pemaparannya, Nanang menjelaskan apa yang dimaksud Countering Violent Extremism (CVE) dan bagaimana identifikasi atas karakteristik narasi ekstremisme brutal—mulai dari faktor-faktor pendorong maupun penarik aksi terorisme, jenis-jenis narasi yang digunakan oleh ekstremis brutal, struktur logika yang digunakan dalam narasi—adalah hal-hal yang harus dilakukan untuk membuat sebuah kontra-narasi yang efektif. Selain itu, Nanang menjelaskan, pemilihan target audiens, pihak penyampai pesan, dan strategi diseminasi pesan juga memberi pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan kontra-narasi untuk mencegah semakin banyaknya orang terpapar oleh ekstremisme dan terlibat dalam aksi terorisme. Di akhir sesi, Nanang membagi peserta ke dalam tiga kelompok dan meminta setiap kelompok membuat sebuah rencana kontra-narasi dalam metode CVE.

Media dan Propaganda Terorisme

Hari kedua kegiatan, Sabtu, 26 Agustus 2017, dimulai pukul 08.00 setelah sarapan. Sesi pembuka pada hari kedua adalah pemaparan materi oleh Ade Armando tentang media dan terorisme. Dalam sesi ini, Ade mengulas secara lebih detil berbagai aspek tentang penggunaan media untuk propaganda ekstremisme oleh kelompok teroris dan para simpatisannya, termasuk kasus-kasus hoax dan ujaran kebencian yang memadati media sosial kita dewasa ini. Dalam pemaparannya, Ade mengambil contoh-contoh kontemporer yang akrab di kalangan peserta—seperti kasus sindikat Saracen—dan mengaitkannya dengan peran media secara umum sebagai alat propaganda yang dapat dilacak sejak mesin cetak dibuat oleh Guttenberg. Ade juga menggarisbawahi bahwa pola-pola penyebaran hoax, pembunuhan karakter, dan persekusi yang digunakan oleh para penyebar kebencian melalui media dewasa ini adalah cara yang khas digunakan dalam banyak propaganda kebencian, termasuk oleh Nazi. “Sebuah kebohongan yang sekali disampaikan tetap menjadi sebuah kebohongan. Tetapi sebuah kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus akan menjadi sebuag kebenaran,” kata Ade mengutip strategi propagandis Nazi, Joseph Goebbels.

Sebagaimana sesi penyampaian materi sebelumnya, antusiasme peserta juga sangat tinggi terhadap penyampaian materi oleh Ade.Banyak pertanyaan diajukan peserta terkait bentuk-bentuk hoax dan propaganda kebencian, juga tentang bagaimana kita harus merespons propaganda kebencian yang dialamatkan kepada kita. Beberapa peserta juga menunjukkan keprihatinan atas turunnya Indeks kebebasan berekspresi Indonesia dalam setahun terakhir, yang ditandai dengan pemprosesan hukum terhadap orang-orang yang diduga melakukan pencemaran nama baik, penodaan agama, fitnah, dan sebagainya, yang justru banyak menimpa orang-orang yang justru mencoba melawan propaganda kebencian. Ade mengakui hal ini sebagai dilema dari kebebasan berekspresi yang mungkin masih membutuhkan waktu dan proses lebih panjang bagi bangsa Indonesia untuk bisa memberlakukan kebebasan berekspresi secara maksimal seperti di negara-negara demokrasi maju. Saat ini, menurut Ade, media sosial sering dimanfaatkan oleh para penganjur kebencian untuk melakukan propaganda. Namun, karena sifat karet dari pengaturannya, keberadaan pasal-pasal tertentu dalam UU ITE dan Penodaan Agama justru kerap digunakan untuk membungkam orang-orang yang justru bermaksud melawan propaganda kebencian. Dalam konteks ini, Ade juga sempat menyinggung bagaimana ia kerap mengalami persekusi di media sosial dan bahkan diproses hukum karena pendapatnya di media sosial yang melawan propaganda kebencian.

Sesi Ade Armando ini berlangsung sangat dinamis dan interaktif hingga melebihi batas waktu yang dialokasikan. Seharusnya, sesudah sesi Ade Armando adalah sesi presentasi dan diskusi kontra-narasi yang dibuat oleh peserta. Untung saja, panitia penyelenggara sudah mengantisipasi kemungkinan ini. Atas persetujuan peserta, sesi presentasi dan diskusi kontra-narasi yang dibuat peserta dilaksanakan dengan menggabungkan sesi ini dengan sesi pemutaran film dan diskusi “Menangkal Narasi Ekstremisme Brutal” pada malam sebelumnya, meskipun proses sesi baru berakhir menjelang pukul 23.00.

Menulis Esai Kontra-Terorisme

Setelah istirahat dan makan siang, kelas menulis esai dimulai dibawah panduan dua pelatih, Luthfi Assyaukanie dan Ignatius Haryanto. Di awal proses, Luthfi memulai pelatihan dengan memberikan gambaran umum tentang pentingnya menulis sebagai bentuk penyampaian ekspresi dan pendapat dan bagaimana proses penulisan yang baik harus dilakukan hingga strategi publikasi tulisan di berbagai media. Luthfi juga menjelaskan ragam tulisan dan kekhasannya masing-masing dan jenis-jenis media yang paling tepat untuk mempublikasian masing-masing tulisan, seperti jurnal akademik, majalah dan surat kabar harian, hingga berbagai “media baru” berbasis Internet dengan kekhasan masing-masing. Dalam kesempatan ini, Luthfi juga menjelaskan posisi Qureta di antara berbagai “media baru”, tujuan dan kekhasannya, dan bagaimana proses publikasi tulisan di Qureta.

Setelah sesi rehat sore, Ignatius Heryanto menyampaikan ulasan tentang beberapa aspek teoretis dalam proses penulisan. Dengan latar belakang sebagai jurnalis yang kuat, Heryanto memulai sesi dengan berbagi pengalaman tentang proses yang ia lalui sebagai penulis dan karya-karya publikasi yang diterbitkan, mulai dari artikel di berbagai media dan buku-buku yang ia sunting dan tulis. Heryanto mengajak peserta untuk melakukan refleksi dan memotivasi diri untuk menemukan karakter yang akan menjadi keunggulan kompetitif sebagai penulis di era media digital. Bersama Luthfi, Heryanto memandu peserta dalam sesi praktik menulis yang merupakan komponen kegiatan utama dalam kelas menulis ini. Peserta diminta merancang sebuah karya tulis, mulai dari judul, kerangka outline, identifikasi informasi penunjang yang dibutuhkan, dan menuliskannya dalam bentuk esai pendek dalam batasan waktu. Sesi ini bersifat interaktif dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan meminta pendapat tentang kendala-kendala yang dihadapi dalam membuat kerangka penulisan. Sesi diakhiri pukul 22.00, yang dilanjutkan dengan penyelesaian karya tulis peserta untuk dipresentasikan dan didiskusikan keesokan hari.

Hari ketiga, 27 Agustus 2017, adalah hari terakhir kegiatan yang diisi dengan presentasi dan diskusi hasil karya tulis peserta sekaligus review oleh Ignatius Heryanto. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menjelaskan karya tulisnya, mulai dari alasan pemilihan judul, diksi-diksi yang digunakan, dan argumen-argumen yang dibangun dalam beropini. Setelah itu, Heryanto mereview tulisan mereka dan mengkritisi beberapa aspek terkait pemilihan judul dan diksi serta kekuatan argumen yang dibangun. Sesi ini berakhir pukul 10.00 dan dilanjutkan dengan refleks i penutup dan rencana tindak lanjut oleh Luthfi Assyaukanie. Setelah menutup secara resmi workshop dan pelatihan ini, acara dilanjutkan dalam bentuk informal dengan maksud memperkuat hubungan emosional antara peserta dan panitia penyelenggara, yang sangat diperlukan untuk mengkonsolidasikan jejaring relawan dalam upaya-upaya menangkal narasi ekstremisme brutal.

Workshop dan Pelatihan Menulis Esai Kontra-Terorisme di Malang, 25-27 Agustus 2017 adalah bagian dari kegiatan serial Workshop dan Pelatihan “Menangkal Narasi Ekstremisme Brutal” yang dilaksanakan di lima kota: Bandung, Malang, Makassar, Semarang, dan Yogyakarta. Workshop kali ini adalah seri kedua, setelah sebelumnya seri pertama dilaksanakan di Bandung pada akhir Juli 2017. Total peserta yang terlibat hingga kegiatan kedua ini adalah 50 peserta siswa SMA dan mahasiswa di Bandung dan Malang serta wilayah-wilayah sekitarnya. Seluruh peserta diproyeksikan terlibat secara aktif sebagai penulis relawan dalam jejaring kontra-terorisme yang diinisiasi oleh Indeks dan Qureta. Seluruh proses kegiatan didokumentasikan secara audiovisual dan akan dikembangkan sebagai bagian dari materi CVE Online Course/Training yang dapat diakses oleh seluruh peserta workshop di lima kota lokasi program.

1059total visits,2visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *