Benarkah Kita telah Memahami Terorisme?

Dalam kurun waktu tak sampai 10 tahun terakhir, Indonesia dihantui berbagai aksi kekerasan yang menimbulkan efek teror pada beberapa orang maupun kalangan. Media mempopulerkan istilah untuk aksi kekerasan semacam ini dengan aksi terorisme. Berbagai spekulasi bermunculan sesudahnya, sosial media riuh dengan komentar-komentar netizen, pakar-pakar bermunculan di setiap pemberitaan media, tapi toh terorisme terjadi lagi dan lagi. Sebenarnya apa yang harus kita lakukan? Benarkah kita telah memahami terorisme? Pertanyaan- pertanyaan itu bermunculan dibenak, sebab toh tanpa memahami duduk persoalan yang sebenarnya, bagaimana kita akan memberangusnya?

Sebuah stasiun televisi menayangkan pemberitaan aksi kekerasan di lokasi kejadian, reporter berulang kali memberi pernyataan tentang peristiwa yang baru saja terjadi, memutar ulang rekaman video ataupun foto di lokasi kejadian secara berulang, tak lupa acapkali reporter memberi peringatan kepada pemirsa agar tetap waspada, seolah dalam waktu dekat akan terjadi lagi peristiwa- peristiwa serupa. Pemberitaan tampak dramatic, seolah ingin menyampaikan pesan teror pada pemirsa, yang secara tidak langsung memberi ruang pada para pelaku terorisme akan eksistensi mereka.

Tak jarang, media menggunakan diksi radikalisme pada setiap pemberitaan yang disiarkan, radikal sebab menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya, padahal padanan kata radikal dalam filsafat berarti memahami sesuatu sampai pada akarnya. Pemaknaan ini tak sesuai dengan pemahaman umum yang berlaku di masyarakat.

Tentu, aksi-aksi terorisme yang tak sedikit memakan korban ini mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak. Sebagaimana juga yang dilakukan pemerintah dalam upayanya memberangus terorisme. Pada tahun 2004, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa hukum melakukan teror adalah haram, serta bukan bagian dari jihad. Namun tampaknya fatwa MUI tersebut tidak berpengaruh pada mereka yang menganggap terorisme sebagai perjuangan, dan atau jihad.

Upaya terbaru yang pemerintah lakukan adalah menutup situs jaringan telekomunikasi telegram, yang disinyalir melalui jaringan tersebut terorisme membangun komunikasi.  Terdengar cukup menggelikan, sebab apa yang coba pemerintah lakukan tak lebih dari upaya menyaring masalah hanya pada permukaan, hanya persoalan teknikal, tak menyentuh inti permasalahan, dan sia sia belaka.

Mark Juergensmeyer, yang adalah seorang akademisi dan peneliti yang consent pada isu terorisme, menuliskam dalam bukunya Terorisme Para Pembela Agama, bahwa pelaku dalam hal ini tidak menyebut diri sebagai teroris akan tetapi militan, militansi membela agama yang mereka anut dan yakini, ada perasaan terancam akan keberadaan dan eksistensi agama yang mereka yakini tidak lagi mendapat panggung, ada perasaan bahwa situasi yang dihadapi saat ini adalah situasi perang, perang terhadap kelompok lain yang mengancam keberadaan dan eksistensi agama yang mereka anut.

Pelaku beranggapan bahwa aksi-aksi yang mereka lakukan adalah bentuk defensive (pembelaan) bukan penghakiman atau bukan bermaksud menghukum (punitive) pada korban yang disasar. Serangan-serangan yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk menghukum korban sasaran yang dituju karena perbuatan keji mereka, akan tetapi mencegah mereka melakukan tindakan yang lebih keji lagi. Pembenaran-pembenaran teologis acapkali menjadi tameng dari aksi-aksi teror yang dilakukan, pelaku beranggapan bahwa kekerasan kecil merupakan sedikit harga yang harus dibayar dalam mewujudkan kemungkinan penegakan hukum Tuhan, dan mendirikan kerajaan Tuhan di muka bumi.

503total visits,1visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *