Cara Nata Mendekati Agama dan Kekerasan

Namanya Natalia Datuletta. Teman-teman di jurusan Sastra Indonesia, termasuk saya akrab menyapanya Nata. Ia lahir di Makale, Tana Toraja dua puluh satu tahun silam. Di ruang kuliah, Nata termasuk mahasiswa aktif menyuarakan pendapatnya, begitupula di ruang organisasi kemahasiswaan, Nata tak kalah produktifnya berbicara tentang pengetahuan yang dimilikinya. Retorika yang Nata miliki di atas rata-rata.

Sebagai pribadi yang tumbuh dalam keluarga Kristen Protestan. Nata selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk beribadah di gereja. Jika ada kegiatan kemahasiswaan atau kesibukan kampus, sedapat mungkin Nata akan mengutamakan beribadah, pasca itu, barulah ia lebur berkegiatan.

Ketaatan Nata sebagai pemeluk agama yang baik ia implementasikan dalam lingkungan pertemanannya. Salah satunya adalah sifat humanis tanpa memandang golongan, suku, terlebih agama. Jiwa toleransinya antar sesama, cukup baik. Nata memberi hormat kepada teman-teman, termasuk saya dalam memberi pandangan tentang hidup, terlebih dalam perspektif agama yang dianut. Sebagai seorang yang beragama Kristen, Nata tidak pernah merasa tersudutkan karena berada dalam lingkungan minoritas, termasuk ketika berada di ruang kuliah atau lingkungan pergaulan, di mana mahasiswa beragama Islam mendominasi.

Nata termasuk sosok yang juga tak mudah tersinggung. Waktu ada teman saya bertanya seputar agamanya, seperti mengapa Yesus di Salib? Nata dengan sikap sabar mencoba meluruskan pengetahuan awam pemeluk agama lain. Nata belajar mendekati agama yang dianutnya dengan cara halus. Halus dalam arti, agama dianggap Nata mampu membawa kedamaian bukan kekacauan bahkan kekerasan.

Walau tidak dimungkiri kata Nata, kekerasan terjadi karena sikap seseorang yang suka menghujat, gampang menduga persoalan dengan kaitan pribadi hingga terjadi sara, dan hal sederhana yang kerap terjadi menurut Nata, adanya sikap tertutup seseorang pada lingkungan. Nata juga memandang, bahwa kekerasan selalu ada dalam masyarakat, bisa fisik maupun simbolis. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, Nata selalu menggali informasi dengan menggunakan kacamata semiotika dan semantiknya memandang kekerasan yang marak terjadi. Terlebih persoalan Rohingya yang dipandang Nata sebagai suatu krisis kemanusiaan yang cukup buruk tahun ini.

 

***

Agama pada dasarnya memberikan pengajaran antar manusia yang memungkinkan kesatuan dan persaudaraan terjalin harmonis. Nata malah menganggap, ada individu atau kelompok menjadikan agama sebagai alat membungkus kebusukan. Pandangan Nata yang sifatnya subjektif ini, perlu juga diterima dan sebagai masukan dalam dikaitannya secara universal dengan bangsa yang beragam suku dan agama.

Suratno dalam esainya berjudul Agama, Kekerasan, dan Filsafat: Akar Kekerasan Teologis dalam Perspektif Filosofis (2007) mengatakan, bahwa agama memberi kemungkinan terjadinya tindakan kekerasan. Padahal dalam kerangka ideologi, agama menjadi pemersatu semua penganutnya. Nata juga mengungkap, bahwa agama yang dipahaminya adalah salah satunya bertindak sebagai pemersatu bukan membawa pemecah-belah persoalan. Namun, Nata juga tidak ingin kolot, bahwa agama kerap dijadikan tameng untuk menguntung suatu pihak dan agama memiliki kekuatan untuk melakukan hal apapun.

Suratno juga mengatakan, bahwa sebenarnya agama menjadi perekat suatu masyarakat. Tak beda jauh dengan Nata, agama menuntunnya untuk saling meraih satu sama lain, meski berbeda agama. Untuk terhindar dari kekerasan, Nata berpendapat bahwa, jika agama dipercaya sebagai lonceng kesadaran, mustahil tragedi kemanusiaan yang marak diberitakan di media saat ini akan terjadi. Namun, paling penting kata Nata adalah sikap sadar untuk menyekolahi diri sendiri sebelum menyekolahi religiusitas orang lain.

695total visits,2visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *