Kontra-Terorisme: Hilangkan Sikap Apatismu!

Terorisme merupakan isu yang selalu hangat untuk diperbincangkan sehingga pembahasan mengenai terorisme ini sangat luas, abstrak dan kompleks. Dalam arti luas, banyak sekali kajian-kajian yang dibahas dalam meneliti isu tersebut. Begitu absrak untuk mencari tahu penyebab-penyebab timbulnya aksi teror, maka sangat sulit untuk mendefinisikan apa faktor utama dari isu tersebut. Kompleksitas ini terjadi karena banyak diantara para ahli yang bebas untuk menguraikan definisi terorisme ini berdasarkan lingkup tindakan, kateristik atau berbagai macam fenomena. Hal tersebut yang memunculkan keragaman pemahaman mengenai terorisme. Kata “Terorisme” seolah-olah menghantui masyarakat Indonesia, merupakan aksi yang mengerikan, membuat kegelisahan, ketakutan bahkan pertikaian antara umat beragama yang sering terjadi karena isu tersebut. Untuk merespon isu mengenai terorisme, maka kita harus meninjau kembali faktor-faktor penyebab timbulnya dan berkembangnya terorisme di Indonesia. Melihat faktor-faktor yang mendukung aksi teror yang terjadi dapat membantu kita untuk menindak tegas aksi terorisme di Indonesia.

Sangat menarik bila meninjau kembali pergerakan sejarah sebagai munculnya kembali aksi-aksi terorisme di Indonesia, Karena setelah era reformasi aksi-aksi terorisme semakin berkuasa dalam mewarnai penderitaan di tengah-tengah bangsa Indonesia. Lengsernya Soeharto dari jabatannya tahun 1998 serta terbukannya kran demokrasi yang dikenal sebagai era reformasi sangat mempengaruhi perkembangan terorisme di Indonesia. Pada masa kepemimpinan Soeharto kran berekpresi dan berserikat mendapatkan tekanan untuk di tutup erat-erat, agama menjadi ruang privat, sebagaimana lembaga keagamaan tidak dapat intervensi dalam tatanan negara. Kehadirannya era reformasi yang didasarkan dengan demokrasi menjadi kesempatan bagi kelompok (jaringan) terorisme untuk menghidupkan kembali dan memobilisasi aliran-aliran keagamaan yang bergaris keras-konservatif untuk dijadikan alat dalam menjalankan aksi terorisme di Indonesia. Dalam hal ini saya tidak menyebutkan secara spesifik kelompok atau jaringan terorisme apa yang sangat mempengaruhi perkembangan terorisme Indonesia, dikarenakan banyaknya jaringan terorisme yang beragam di Indonesia. Seperti, kelompok Jamaah Anshar Daulah (JAD), jaringan Al-Qaeda, Mujahidin Indonesia Timur, Laskar Jihad, Jamaah Anshaarut Tauhid, dan Daulah Islamiyah Nusantara dan jaringan lainnya. Banyaknnya jaringan terorisme yang berkembang membuat diri saya tidak berani untuk menentukan mana yang paling berpengaruh dalam perkembangan terorisme di Indonesia.

Sejauh pemahaman saya mengenai terorisme, ada tiga faktor yang mendukung terjadinya aksi-aksi tersebut yaitu faktor ekonomi, faktor politik dan faktor ideologi. Namun masih banyak faktor-faktor lain yang mendukung perkembangan jaringan terorisme di Indonesia. Ketiga faktor tersebut sangat memiliki pengaruh di Indonesia, namun faktor ideologi merupakan faktor yang paling mendasar dan dominan yang sering sekali dijadikan alat untuk melaksanakan aksi-aksi terror. Banyak dari masyarakat Indonesia baik dari kalangan terpelajar maupun kalangan awam yang memahami atau menafsirkan ajaran agama dengan keliru atau sepotong-potong sehingga memunculkan “problem’ di dalam agama. Akibatnya masyarakat yang mengekspresikan ajaran agama dengan keliru cenderung memiliki sifat fanatisme serta menampilkannya dengan cara yang berlebihan dengan melibatkan kekerasan dalam aksi tersebut. Salah satunya seperti pemahaman Jihad, sebagian masyarakat Islam sering memahami jihad dengan membela agama dan memerangi agama di luar Islam. Namun yang saya pahami dan pelajari dari buku yang berjudul “TERORISME FUNDAMENTALIS YAHUDI,KRISTEN, ISLAM” dengan penulis yang bernama A.M. HENDROPRIONO, dijelaskan pengertian jihad secara harafiah ialah ‘usaha sungguh-sungguh’ artinya kaum muslim didorong untuk berjuang sungguh-sungguh dan perkasa di jalan Tuhan, contohnya dalam hal peribadahan. Timbulnya pemahaman-pemahaman yang keliru di dalam ajaran agama dapat dijadikan alat politik untuk mencapai sebuah kepentingan dari kelompok atau individu. Masyarakat Indonesia diharapkan dapat bersikap kritis dan memperluas pengetahuan, sehingga tidak mudah untuk diprovokasi dan dimobilisasi sebagai alat dalam ajang mencapai sebuah kepentingan.

Tidak hanya itu saja, Sangat penting untuk terus melakukan dialog diantara para tokoh-tokoh agama untuk selalu membahas isu terorisme. Di satu sisi tokoh-tokoh keagamaan memiliki peran penting untuk membuka pemahaman dan penafsiran masyarakat yang keliru terhadap ajaran-ajaran agama, sehingga ajaran-ajaran agama tidak lagi menjadi alasan timbulnya konflik antar umat beragama. Perlunya dilakukan seminar-seminar terorime di kalangan masyarakat, untuk mewaspadai, menyadarkan dan menambah pemahaman masyarakat mengenai terorisme, setidaknya masarakat tidak buta dalam memahami isu terorisme. Serta masyarakat tidak mudah terprovokasi dan diharapkan dapat bersikap tegas dalam menolak untuk bergabung dalam jaringan terorisme.

Isu terorisme yang sedang memanas hingga saat ini  ialah, pembahasan tentang RUU terorisme yang masih dalam perdebatan di dalam kalangan DPR dan pemerintah, serta belum ada pengesahan resmi mengenai RUU terorisme. Saya mendapatkan informasi dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170531080044-12-218437/ruu-terorisme-antara-ketegasan-dan-pelanggaran-ham/ alasan mengapa DPR belum juga tuntas dalam mengesahkan RUU Terorisme karena masih dipengaruhi oleh beberapa pihak yang menuntut untuk tidak mengesampingkan HAM dalam penegakan terorime. Dalam situasi problematis tersebut memunculkan kecurigaan di benak saya. Kelompok atau kalangan yang terkesan menolak RUU terorisme dengan mengaitkan isu HAM sudah memiliki kepentingan politik. Dimana ini merupakan salah satu cara atau melakukan strategi politik untuk mendapatkan simpatisan dari kelompok radikal yang terlibat dalam jaringan terorisme. Berkata mengenai HAM dan bila membayangkan aksi-aksi terror yang dilakukan dengan keji, pelaku tidak lagi berhak mendapatkan HAM. Setiap aksi-aksi keji tersebut sering sekali dapat menghilangkan nyawa seseorang, apakah perilaku tersebut masih membenarkan pelaku untuk mendapatkan HAM?.  Perlu kita ketahui dan tidak bisa kita sangkal bahwa agama mayoritas memiliki kewenangan penuh dalam mencampuri kebijakan-kebijakan pemerintah, meskipun pada dasarnya agama tidak memiliki hak untuk terlibat dalam urusan Negara. Namun ini menjadi sebuah kesempatan bagi kelompok-kelompok yang menolak RUU terorisme untuk mencari dukungan, sehingga pada saat mengambil sebuah kebijakan, kelompok tersebut tidak mengalami ketakutan karna mendapatkan dukungan penuh serta perlindungan dari kelompok (jaringan )terorisme. Pembahasan saya diatas masih bersifat spekulasi dengan tujuan agar masyarakat dapat waspada dan mencermati segala bentuk-bentuk permainan politik yang dimainkan para pemimpin kita.

Menyatakan sikap kontra-terorisme ini harus dimulai dengan adanya kesadaran terhadap ideologi bangsa Indonesia yaitu pancasila. Namun tidak hanya berhenti pada penyadaran saja, masyarakat Indonesia juga harus menerima kenyataan bahwa Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk dan beragam. Ideologi yang terdapat di dalam masing-masing agama tidak bisa di generalisasikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Namun lebih tepatnya dapat diterapkan dalam kehidupan personal. Agama dihadirkan untuk membentuk manusia agar memiliki moralitas serta menuntun manusia agar berperilaku secara etis dan rasional. Kehadiran agama bukan ajang untuk mengadirkan perperangan atau menciptakan permusuhan. Sikap apatis masyarakat Indonesia merupakan sikap yang menunjukan Pro-terorisme.

Seperti yang saya sampaikan diawal tulisan, membahas mengenai terorisme merupakan hal yang kompleks dan harus terus-menerus dikaji dan diteliti lebih mendalam untuk menemukan solusi atas isu tersebut. Banyak sekali kajian-kajian yang mendukung pemahaman mengenai terorisme, maka dari itu tidak ada akhir dalam melakukan penelitian ini. Sikap kristis dan peduli terhadap berbagai isu-isu yang terjadi di tengah masyarakat merupakan hal yang mendasar dari pencegahan aksi terorisme di Indonesia.

437total visits,3visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *