Rekontruksi Gerakan Ekstremis Islam di Indonesia  

 

Radikalisme yang saat ini menjadi polemik dinilai sebagai ancama nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peran mahasiswa dinilai sangat penting dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme.Peran mahasiswa sangat penting sebab masyarakat menilai mahasiswa sebagai kaum intelektual dan contoh bagi masyarakat, bahkan masyarakat bisa lebih percaya terhadap mahasiswa daripada aparat , maka perlunya sikap dan perilaku mahasiswa itu sangat penting. Selain itu, mahasiswa juga merupakan agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa. Maka, penting bagi mereka untuk mendapatkan pemahaman dan wawasan yang lebih tentang ilmu agama. Supaya mahasiswa juga bisa membantu mewujudkan kerukunan umat beragama.

Paham radikal sendiri, mudah menyebar kepada kalangan yang tingkat pemahamannya rendah. Oleh karenanya mahasiswa sebagai agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa harus memiliki pemahaman yang lebih. Tujuannya agar mahasiswa tidak mudah disusupi pemahaman yang menyimpang. Sebagai negara dengan komunitas Islam terbesar di dunia, Indonesia seringkali harus menjadi ‘tertuduh’ dalam beragam aksi teror yang kerap menyeruak akhir-akhir ini. Pengaitan-pengaitan peristiwa peledakan bom di tanah air dan dunia hampir selalu pertama kalinya dikaitkan dengan “fundamentalisme Islam”. Benarkah ajaran Islam dapat menjadi spirit radikalisme dan terorisme? Benarkah Indonesia menjadi bagian dari simpul jaringan terorisme internasional? Apa sesungguhnya yang menjadi sumber dan akar masalah radikalisme dan terorisme? Lantas bagaimana strategi penanganan yang perlu disiapkan untuk melawan radikalisme dan terorisme di Indonesia? Tentu masih banyak rentetan pertanyaan yang perlu dikemukakan sekaligus perlu disiapkan jawabannya secara memadai.

Terkait dengan masalah terorisme, ada kepentingan untuk melemahkan Indonesia melalui cara ini. Tampaknya, banyak negara yang khawatir bila demokratisasi di Indonesia menghadirkan Indonesia yang kuat. Kekhawatiran negara lain yang tidak suka Indonesia menjadi kuat. “Indonesia ini negara yang seksi. Namun, banyak pihak tidak menghendakinya menjadi kuat. Sebab, kalau Indonesia kuat, banyak yang merasa kepentingannya akan terganggu karena mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam. Maka itu, terjadinya berbagai upaya yang melemahkan Indonesia. Wacana-wacana yang melukiskan konspirasi dan viktimisasi Islam oleh Barat kini berkembang seiring membuncahnya wacana anti terorisme.

Di satu sisi hal ini memang bisa dianggap penting sebagai wacana penyeimbang (counter discourse) di tengah gencarnya kampanye anti terorisme yang bias Amerika. Namun demikian, hal ini di sisi lain ada bahayanya sendiri karena sikap ini dikhawatirkan justru akan membuka pintu bagi munculnya aksi-aksi kekerasan. Dalam konteks ini, Ulil Abshar-Abdalla mengingatkan agar umat Islam bersifat lebih terbuka dengan tidak hanya bersandar pada semangat self denial yang defensif. kita ini perlu mempunyai mental switch, tidak defensif dengan selalu mengatakan ini bukan ulah umat Islam. Umat Islam adalah umat yang baik, umat Islam tidak mungkin berbuat kejahatan serta berbagai sikap apologetik lainnya yang justru tidak membantu untuk mengatasi masalah terorisme yang dimensinya sudah sangat global ini.

Gerakan radikal Islam memang ada di Indonesia. Faktor kemunculannya bisa berbagai macam: dari kekuasaan yang otoriter, rasa keadilan yang tidak ada, hingga berkembangnya penyakit sosial di masyarakat. “Tapi ada juga radikalisme yang lahir dari sebuah rekayasa. Jadi keberadaannya sengaja dibentuk oleh kelompok tertentu untuk tujuan tertentu. kasus terorisme di Indonesia, penganut teologi puritan yang seringkali disebut radikal tidak berbanding lurus dengan intoleransi dan kekerasan.

Mengapa bisa begitu?

Dalam penelusuran justru menemukan bahwa sepanjang mereka bersentuhan dengan gagasan toleransi, pluralisme, demokrasi, kebebasan beragama, dan seterusnya, penganut teologi puritan cenderung menjadi toleran dan mengapresiasi kelompok lain. Temuan ini dapat disimpulkan bahwa teologi puritan dan sikap radikal dalam beragama tidak serta merta berpengaruh pada perilaku teror karena hal itu bukan faktor determinan dalam gejala radikalisme agama. Lebih jauh, kaitan antara gejala puritanisme kelompok Islam dalam kaitannya dengan propaganda anti terorisme yang dikembangkan Amerika. Sentimen negatif terhadap Amerika muncul dalam proporsi yang cukup signifikan, meski variasi anti-Amerika itu lebih besar ditemukan dalam bentuk sikap.

Pada hakikatnya, akar dari terorisme memerlukan tanah untuk hidup. Dan kesuburan tanah tersebut memberikan pengaruh langsung terhadap kesuburan pohon terorisme. Tanah yang subur itu adalah lingkungan masyarakat fundamentalis (ekstrim), yang merupakan habitat, sehingga terorisme selalu timbul tenggelam dalam sejarah kehidupan manusia. Terorisme Kristen subur di dalam masyarakat fundamentalis Kristen, terorisme Zionis subur di dalam masyarakat fundamentalis Yahudi, dan terorisme kontemporer subur dalam masyarakat fundamentalis Islam. Masyarakat ekstrim Islam yang dimaksud di sini adalah Islam politik, bukan Islam yang kerap kali dikaitkan secara salah oleh kaum internasional dewasa ini terutama oleh pihak Barat

399total visits,6visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *