Ekstremisme dan Psikologi Kekerasan

Mata kuliah ini membahas elemen-elemen psikososial yang membuat seseorang rentan mengalami radikalisasi dan menganut ideologi-ideologi ekstremisme. Pembahasan merujuk pada hasil kajian berdasarkan wawancara dengan para narapidana kasus terorisme, yang menunjukkan terjadinya proses radikalisasi pemikiran sebelum seseorang terlibat dalam aksi terorisme.

Umumnya, orang-orang yang terlibat sebagai pelaku terorisme merupakan orang-orang yang teralienasi dari lingkungan sosialnya. Individu yang teralienasi mengalami depresi yang muncul dari rasa terancam oleh berbagai masalah ketidakadilan yang dipersepsinya. Pada situasi ini, individu sangat rentan mengalami radikalisasi.

Individu-individu yang terlibat dalam aksi terorisme mengalami internalisasi nilai-nilai ideologis yang bersifat ekslusif, moral, heroik, dan kehormatan. Dalam konteks terorisme bernuansa agama, persepsi yang buruk terhadap dunia biasanya dibarengi dengan rasa penyesalan dan berdosa di masa lalu, yang memotivasi diri individu untuk memperbaiki diri dengan menjalani suatu proses “pencarian religius”.

Ideologi-ideologi ekstremis, dalam hal ini, mengisi kebutuhan individu dalam pencariannya dengan menyediakan suatu standar perilaku moral yang diklaim dapat menjawab kebutuhan individu untuk memperbaiki diri dan sekaligus menciptakan sebuah kondisi kehidupan yang lebih baik secara moral. Kelompok-kelompok teroris meyakinkan individu rentan bahwa kondisi kehidupan yang lebih baik itu hanya dapat diselesaikan dengan cara-cara kekerasan.

Dengan mengikuti mata kuliah ini, peserta diharapkan dapat memahami: (1) faktor-faktor psikologis yang membuat seseorang rentan terlibat dalam aksi terorisme; (2) tahap-tahap anak tangga menuju terorisme; dan (3) upaya-upaya untuk mencegah terpaparnya seseorang oleh terorisme.

Pengajar

Pengajar mata kuliah ini adalah Hamdi Muluk, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang juga dikenal sebagai pakar pada bidang Psikologi Politik. Selain sebagai Koordinator Program Master dan Doktoral di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk juga banyak melakukan penelitian dan menulis tentang psikologi politik di berbagai jurnal ilmiah dan media massa serta kerap diundang sebagai narasumber seminar dan lokakarya maupun untuk keperluan wawancara di berbagai media. Hamdi menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1992), kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Fakultas yang sama, hingga memperoleh gelar Doktor (2003).

64total visits,2visits today