Islam sebagai Teologi Politik: Ilusi Filsafat Kesamaan dan Politik Ummat

Bagaimana sebuah ajaran gurun pasir bisa menjelma menjadi sebuah ideologi yang "memaksa" miliaran manusia menundukkan kepala bersujud dalam sebuah keberserahan diri total? Bagaimana seseorang bisa meledakkan dirinya di antara umat manusia lain sambil meyakini bahwa ia sedang menyelamatkan dunia dari kehancuran? Bagaimana Islam saat ini menjadi sebuah teologi-politik yang sangat berpengaruh secara global?

Semua bermula dari sebuah doktrin teologis yang menyalurkan kekuatan-kekuatan instingtif manusia untuk bertahan hidup, berkembang, dan menguasai alam semesta. Islam adalah formulasi paling canggih dalam menerjemahkan kehendak untuk berkuasa dalam sebuah sistem teologi-politik yang mengkombinasikan konsep ketuhanan serigala dan konsep ketuhanan kawanan domba dalam sebuah teologi-politik yang disebut tauhid.

Sintesa Teologis dalam Islam

Konsep ketuhanan Islam adalah sintesa dari dua wajah Tuhan yang berbeda dalam dua agama sebelumnya, Yahudi dan Kristen. Tuhan dalam sosok Yahudi adalah sosok posesif yang pencemburu dan pendendam. Ketika amarahnya timbul, satu bangsa bahkan satu dunia dapat dimusnahkan. Sebaliknya, dalam Kristen, Tuhan tampil dalam sosok pencinta tanpa syarat, penuh kasih dan pengampun. Demikian cintanya, Tuhan Kristen berkorban untuk manusia.

Tuhan Yahudi bersifat untouchable, berjarak dari manusia, bahkan tak tersebut namanya. Transenden dan Maha Kuasa, Absolut. Tuhan Kristen mendarah daging, memanusia-kan diri, bergaul di antara sesama manusia. Imanen. Menjanjikan, tapi terlalu lemah, tidak layak jadi sandaran hidup manusia.

Tuhan Yahudi menghasilkan kerajaan Tuhan di dunia, kerajaan Daud dan Sulaiman, dan kini Israel terobsesi menjadi pusat pemerintahan Tuhan di dunia. Tuhan Kristen mengajarkan mendirikan kerajaan Tuhan di hati manusia. Tapi butuh bantuan raja-raja pemaksa agar kerajaan Tuhan ada di hati manusia. Muncul Kekristenan, dari Zaman Romawi hingga era Vatikan.

Tuhan Yahudi dan Tuhan Kristen adalah tesis dan antitesis. Islam adalah sintesa keduanya, Tuhan Pencemburu dan Tuhan Pencinta, Tuhan Pendendam dan Tuhan Pemaaf, 99 nama Maskulin dan Feminin bergabung dalam satu metafor induk, Allah.

Apakah Allah sebuah nama? Ya, tapi sekaligus adalah sebuah bukan-nama karena dibelakangnya tertempel gelar Subhanahu wa Ta'ala, suci dan tinggi tak terjangkau. Bahkan dalam metafor induk, konsep Tuhan Yahudi dan Tuhan Kristen masih bersitegang dalam konsep ketuhanan Islam.

Tuhan Yahudi muncul dari gairah maskulin manusia, binatang paling kuat yang obsesinya tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga menaklukkan dunia. Dan kekerasan adalah sebuah cara untuk mencapainya: menebang pohon untuk membangun rumah, membakar hutan untuk membuka ladang, memacul dan membajak tanah, memperalat binatang-binatang lemah untuk dipekerjakan dan dikonsumsi, ekspansi dan menaklukkan suku-suku manusia lain untuk memperkuat supremasi. Jauh sebelum Descartes mempelopori filsafat modern yang mengagungkan supremasi manusia di atas binatang-binatang lain, Ibrahim sudah menciptakan mitologi Tuhan yang menjustifikasi kedigdayaan spesies manusia di alam semesta.

Tuhan Kristen lahir dari jiwa feminin dalam diri manusia. Dalam konsep Tuhan Kristen, bukan gairah singa, serigala, dan binatang-binatang predator yang dihidupkan, tapi jiwa kawanan domba yang selalu terancam oleh para predator. Moralitas adalah penemuan Kristen, aturan main kehidupan agar para domba bisa mengatur serigala. Kesabaran menanggung penderitaan adalah pusat ajaran moral, karena Tuhan menjanjikan kehidupan yang lebih baik di Surga yang akan datang.

Tentu saja gagal. Yesus terbunuh di Tiang Salib. Kelemahan manusiawi memang mengajarkan cinta dan kemurahan hati, tapi di saat yang sama mengorbankan diri. Yahudi memilih menjadi Ibrahim, Kristen memilih menjadi Isaac. Dan sejarah ditulis oleh mereka yang hidup, bukan mereka yang mati, mereka yang mengorbankan orang lain, bukan dikorbankan oleh orang lain.

Tetapi Isaac hanya nyaris mati, tak pernah sebenar-benarnya mati. Itulah kenapa Kristen tetap membutuhkan kekuasaan duniawi. Ketimbang menunggu surga yang akan datang, kenapa surga itu tidak dipercepat kedatangannya? Kekaisaran Roma akan membantu mewujudkan pencerahan Kristus untuk seluruh dunia.

Sekian lama Kekristenan Romawi berdiri tanpa ancaman berarti, sampai seorang penggembala dari gurun tandus Arabia, Muhammad, Yang Terpuji, dengan cerdik merumuskan gagasan ketuhanannya sendiri. Dari Yahudi ia belajar manfaat keganasan Serigala untuk mengubah dunia, dari Kristus ia belajar pentingnya kelemahlembutan domba untuk menata masyarakat. Bagaimanapun kebaikan diperlukan untuk legitimasi kekuasaan. Jauh sebelum Machiavelli menulis Sang Pangeran, gagasan-gagasan dasar bagaimana serigala perlu sesekali berbulu domba sudah dirumuskan pada abad ke-7.

Sebuah risalah baru perlu dibangun. Doktrin yang akan membuat gurun tandus Arabia menjadi pusat dunia. Sebuah merk diperlukan, dan merk itu haruslah menggunakan nama yang baik. Jika Yahudi berasal dari nama suku bangsa, dan Kristen adalah idolatri dari gelar Yesus Sang Nabi, agama baru ini harus bernama generik, esensialis, dan bermakna baik. Islam adalah nama yang baik betapapun ambigu: janji kesejahteraan dan sekaligus laku penyerahan diri secara total. Sebuah ideologi yang kuat untuk mengubah dunia dengan Arab sebagai pusatnya.

Tauhid dan Ummat: Mungkinkah?

Terlalu naif jika kita mengatakan Islam sepenuhnya kekerasan. Bagaimanapun teks-teks suci Islam mengandung ajaran tentang bagaimana memperlakukan manusia dengan cinta kasih. Inilah manifestasi teologi Kristen dalam Islam. Lebih tepat melihat Islam sebagai sebuah ideologi realis, di mana kekerasan selalu terbuka untuk dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan ideologis, termasuk untuk mewujudkan kedamaian yang menjadi visi politik Islam. Inilah dimensi Yudaisme yang juga sangat kuat terkandung dalam ajaran Islam.

Islam—dengan konsep ketuhanan dan sistem sosial ke-ummat-an yang unik, sintesa dari dua doktrin agama sebelumnya—adalah sebuah ungkapan politik dari naluri serigala predator maupun domba yang jinak. Islam adalah ketaksempurnaan yang sempurna yang akan membawa rahmat bagi alam semesta, kesejahteraan yang hanya mungkin dicapai jika umat manusia seluruhnya berserah diri pada satu pusat kekuasaan absolut. Islam adalah tauhid, sebuah logika politik yang bekerja dengan penyamaan, di mana ke-lain-an harus di-sama-kan, kemajemukan harus disatukan.

Damai terjadi ketika tak ada lagi konflik dialektis, ketika seluruh perang telah dimenangkan. Islam adalah sintesis final yang mengakhirkan tesis dan antitesis dalam sebuah sintesa paradoksal dari kemanusiaan. Tidakkah semua ideologi memang mengejar kesamaan untuk terwujudnya perdamaian? Bahkan kita yang mengagungkan perbedaan sekalipun, bukankah lebih senang berteman dengan orang-orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita?

Islam adalah sebuah teologi-politik yang berpijak pada filsafat kesamaan (philosophy of the same) dalam teologi dan politik pertemanan (politics of friendship) dalam sistem sosial yang disebut ummat. Baik filsafat kesamaan maupun politik pertemanan sebetulnya bersifat alamiah dalam naluri kemanusiaan kita.

Masalahnya, ide kesamaan adalah ilusi dihadapkan pada realitas individu manusia yang selalu ganda dalam identitas. Saya, misalnya, adalah Muslim, tetapi saya juga sekaligus warga negara Indonesia, keturunan Tionghoa, perempuan, bekerja sebagai pengacara, menganut libertarianisme dalam politik, dan sebagainya. Saya mungkin sama dengan Hamzah sebagai Muslim, tetapi saya menentang pandangan keagamaannya yang fundamentalistik, mendiskriminasi perempuan, dan membenci keturunan Tionghoa.

Ternyata saya juga sama dengan Agung yang ateis karena sama-sama menghargai kemanusiaan. Masalahnya adalah Agung sangat membenci agama dan celotehan-celotehannya juga kerap menyinggung perasaaan saya sebagai Muslim. Agung juga seorang komunis, tentu saja sebagai libertarian saya akan menentang komunisme habis-habisan.

Kebergandaan identitas individu manusia mengakibatkan filsafat kesamaan selalu dihantui paradoks ketika diterjemahkan dalam politik. Siapa yang sungguh-sungguh sama dengan saya, siapa pula yang sungguh-sungguh berbeda dari saya? O, my friend, there's no friend--O, my enemy, there's no enemy. Islam sebagai ideologi berbasis kesamaan terkutuk dalam paradoks politik pertemanan.

Sekuat apapun ingin dihilangkan, paradoks justru melahirkan proses dialektika baru yang tak berkesudahan. Alih-alih menyatukan dunia dalam satu nalar dan satu konsep politik keumatan, Islam terus melahirkan berbagai faksi yang saling bertikai di antara "sesamanya" sambil terus berusaha menaklukkan dunia dalam versi teologi-politik mereka masing-masing.

****

Penulis: Amor Fati, Pernah dipublikasikan dengan judul yang berbeda di:

http://www.qureta.com/post/islam-sebagai-teologi-politik

 

1009total visits,3visits today