Fiksi tentang Keadilan Sosial

Posted on Posted in Pemikiran Tokoh

Oleh

Friedrich August von Hayek[1]

 

Menyingkap makna dari apa yang disebut ‘keadilan sosial’ adalah salah satu fokus perhatian utama saya selama lebih dari 10 tahun. Saya telah gagal dalam usaha ini—atau, lebih tepatnya, telah mencapai kesimpulan bahwa, dengan rujukan ke suatu masyarakat manusia bebas, frase tersebut tidak memiliki makna apa pun. Meskipun demikian, pencarian akan alasan mengapa kata itu selama kurang lebih satu abad mendominasi diskusi politik, dan di mana-mana berhasil digunakan untuk menopang klaim-klaim kelompok-kelompok tertentu atas bagian yang lebih besar dari hal-hal yang baik dalam hidup, tetap merupakan sesuatu yang sangat menarik.

Persoalan inilah yang terutama akan saya cermati di sini. Namun pertama-tama saya harus menjelaskan secara singkat, sebagaimana yang saya coba perlihatkan secara panjang lebar dalam volume 2 dari buku saya Law, Legislation, and Liberty, yang akan diterbitkan, mengapa saya mulai melihat ‘keadilan sosial’ sebagai sesuatu yang tak lebih dari rumusan kosong, yang lazimnya digunakan untuk menegaskan bahwa sebuah klaim tertentu dibenarkan tanpa memberikan alasan apa pun.

Volume tersebut, yang mengandung sub-judul The Mirage of Social Justice, terutama ditujukan untuk meyakinkan para intelektual bahwa konsep ‘keadilan sosial’, yang mereka gunakan dengan sangat bangga, secara intelektual bermasalah. Sebagian dari mereka tentu saja telah menyadari hal ini; namun dengan hasil yang patut disayangkan bahwa, karena ‘keadilan sosial’ merupakan satu-satunya jenis keadilan yang pernah mereka pikirkan, mereka sampai pada kesimpulan bahwa semua penggunaan istilah keadilan tidak punya isi yang bermakna. Karena itu saya terpaksa menunjukkan dalam buku yang sama tersebut bahwa aturan-aturan perilaku individu yang adil sama tak terelakkannya bagi pemeliharaan sebuah masyarakat manusia bebas yang damai sebagaimana usaha-usaha untuk menyadari bahwa keadilan ‘sosial’ tidak sesuai dengannya.

Istilah ‘keadilan sosial’ sekarang ini umum digunakan sebagai sinonim dari apa yang biasanya disebut ‘keadilan distributif’. Istilah yang terakhir ini mungkin memberikan suatu gagasan yang agak lebih baik dari apa yang dimaksudkan olehnya, dan pada saat yang sama memperlihatkan mengapa ia tidak dapat diterapkan pada hasil-hasil dari sebuah ekonomi pasar: tidak mungkin ada keadilan distributif ketika tak seorang pun melakukan distribusi. Keadilan memiliki makna hanya sebagai suatu aturan perilaku manusia, dan tidak ada aturan yang mungkin bagi perilaku individu-individu yang memasok barang dan jasa satu sama lain dalam sebuah ekonomi pasar yang akan menghasilkan sebuah distribusi yang bisa secara bermakna disebut sebagai adil atau tidak adil. Individu-individu mungkin berperilaku untuk dirinya sendiri secara seadil mungkin, namun karena hasil-hasil bagi individu-individu yang berlainan akan tak terniatkan atau tak terprediksikan oleh orang lain, keadaan yang dihasilkan tidak bisa disebut adil ataupun tidak adil.

Kekosongan mutlak frase ‘keadilan sosial’ terlihat dalam kenyataan bahwa tidak ada kesepakatan yang muncul menyangkut apa yang diperlukan keadilan sosial dalam keadaan-keadaan tertentu; juga bahwa tidak ada ujian yang diketahui yang dapat dipakai untuk memutuskan siapa yang benar jika orang-orang berbeda, dan bahwa tidak ada skema distribusi pasti yang dapat dipikirkan secara efektif dalam sebuah masyarakat yang individu-individunya bebas, dalam pengertian diperbolehkan untuk menggunakan pengetahuan mereka sendiri demi tujuan mereka sendiri. Memang, tanggung jawab moral individual atas tindakan-tindakan seseorang tidak sesuai dengan pewujudan suatu pola distribusi menyeluruh yang diinginkan tersebut. Sebuah penyelidikan kecil memperlihatkan bahwa, meski begitu banyak orang tak puas dengan pola distribusi yang ada, tak satu pun dari mereka yang benar-benar memiliki gagasan yang jelas tentang pola apa yang ia akan anggap sebagai adil. Apa yang kita temukan hanyalah penilaian-penilaian intuitif atas kasus-kasus tertentu sebagai tidak adil. Tak seorang pun yang telah menemukan suatu aturan umum yang darinya kita dapat memutuskan apa yang ‘secara sosial adil’ dalam semua keadaan tertentu yang tercakup di dalamnya—kecuali aturan ‘bayaran setara untuk kerja yang setara’. Persaingan bebas, yang menjadi dasar tuntutan-tuntutan akan keadilan sosial, cenderung menerapkan aturan pembayaran yang setara tersebut. Alasan mengapa sebagian besar orang terus-menerus secara kuat meyakini ‘keadilan sosial’–bahkan setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak benar-benar tahu apa arti frase itu–adalah karena mereka berpikir bahwa jika hampir setiap orang yang lain meyakininya, pasti ada sesuatu dalam frase tersebut. Dasar bagi penerimaan yang hampir universal atas keyakinan ini—yang artinya tidak dipahami orang—adalah bahwa kita semua mewarisi dari suatu jenis masyarakat berbeda yang ada sebelumnya—di mana orang hidup jauh lebih lama ketimbang yang sekarang ini—insting-insting yang kini tertanam kuat yang tidak dapat diterapkan pada peradaban kita sekarang ini.

Dalam kenyataannya, manusia muncul dari masyarakat primitif saat dalam keadaankeadaan tertentu sejumlah orang yang semakin banyak berhasil dengan mengabaikan prinsip-prinsip yang telah menyatukan bersama kelompok-kelompok lama tersebut. Kita tidak boleh lupa bahwa sebelum 10.000 tahun terakhir, di mana manusia telah mengembangkan pertanian, kota-kota, dan akhirnya “Masyarakat Besar,” ia hidup selama paling tidak seratus kali lamanya dalam kelompok-kelompok kecil pemburu dan pembagi makanan yang terdiri dari 50 orang atau lebih, dengan suatu tatanan dominasi yang ketat dalam wilayah bersama yang dipertahankan kelompok tersebut. Kebutuhan-kebutuhan jenis masyarakat primitif lama ini menentukan banyak dari perasaan-perasaan moral yang masih memandu kita dan yang kita setujui pada orang lain. Hal itu adalah suatu pengelompokan di mana—paling tidak untuk semua laki-laki—pengejaran bersama atas suatu obyek fisik yang terlihat di bawah arahan sang laki-laki ketua (alpha male) merupakan suatu syarat berlanjutnya eksistensinya sebagaimana penyerahan bagian yang berbeda dari mangsa-buruan itu kepada anggota-anggota yang berbeda sesuai dengan pentingnya mereka bagi keberlangsungan hidup kelompok itu. Sangat mungkin bahwa banyak dari perasaan moral yang didapatkan saat itu tidak hanya dipindahkan secara kultural melalui pengajaran atau peniruan, melainkan juga telah jadi tertanam secara genetis. Namun tidak semua yang alamiah bagi kita dalam pengertian ini dengan demikian niscaya bagus atau menguntungkan dalam keadaan lain bagi perkembang-biakan spesies tersebut. Dalam bentuk primitifnya, kelompok kecil tersebut memang memiliki apa yang masih menarik bagi begitu banyak orang: sebuah tujuan yang padu, atau suatu hierarki tujuan bersama, dan pembagian sadar atas berbagai sarana menurut pandangan bersama tentang kebaikan dan jasa masing-masing.

Telah dikemukakan lebih dari sekali bahwa teori yang menjelaskan bekerjanya pasar disebut catallactics, yang berasal dari kata Yunani klasik yang berarti barter atau pertukaran—katalattein. Saya agak jatuh cinta dengan kata ini sejak menemukan bahwa di Yunani kuno, selain ‘pertukaran’, kata ini juga berarti ‘mengizinkan masuk ke dalam komunitas’ dan ‘mengubah dari musuh menjadi kawan’. Karena itu saya menganjurkan kita menyebut permainan pasar–yang dengannya kita dapat meyakinkan orang asing untuk menerima dan melayani kita—sebagai ‘permainan catallaxy’. Proses pasar tersebut memang sepenuhnya sesuai dengan definisi tentang sebuah permainan yang kita temukan dalam The Oxford English Dictionary. Definisi itu adalah ‘sebuah persaingan yang dimainkan menurut aturan-aturan dan diputuskan oleh keahlian, kekuatan, atau nasib baik yang lebih unggul’. Dalam hal ini ia adalah baik permainan keahlian maupun permainan peluang. Di atas semuanya, ia adalah sebuah permainan yang berfungsi untuk mengeluarkan dari setiap pemain kontribusi tertinggi bagi wilayah bersama yang darinya masing-masing pihak akan mendapatkan bagian yang tidak pasti.

Permainan itu mungkin dimulai oleh orang-orang yang telah meninggalkan tempat tinggal kelompok dan kewajiban-kewajiban suku mereka sendiri demi untuk mendapatkan keuntungan dari melayani kebutuhan-kebutuhan orang lain yang tak mereka kenal secara pribadi. Ketika pada pedagang neolitik awal mengambil muatan kapal batu-api dari Britania melewati perairan untuk menukarkan itu semua dengan manik-manik dan mungkin juga bergalon-galon anggur, tujuan mereka tidak lagi melayani kebutuhan-kebutuhan orang yang dikenal, melainkan untuk mendapatkan keuntungan terbesar. Tepat karena mereka hanya tertarik pada orang-orang yang menawarkan harga terbaik bagi barang-barang mereka, mereka menjangkau orang-orang yang sepenuhnya tak mereka kenal. Dengan demikian, standar hidup orang-orang itu mereka tingkatkan secara jauh lebih besar dibanding yang dapat mereka lakukan pada tetangga-tetangga mereka dengan memberikan batu-api tersebut kepada orang-orang yang jelas juga bisa memanfaatkannya dengan baik. Karena itu, hasil dari permainan catallaxy ini niscaya adalah bahwa banyak orang memiliki lebih banyak ketimbang yang oleh kawan-kawannya dianggap berhak mereka dapatkan, dan lebih banyak lagi orang yang memiliki lebih sedikit ketimbang yang oleh kawan-kawan mereka dianggap seharusnya mereka miliki.

Tidak mengejutkan bahwa banyak orang akan berharap untuk memperbaiki hal ini dengan suatu tindakan redistribusi otoritatif. Masalahnya adalah bahwa produk agregat yang mereka pikir tersedia untuk distribusi tersebut ada hanya karena berbagai keuntungan bagi usaha yang berbeda diberikan oleh pasar tanpa banyak mengindahkan imbalan atau kebutuhan, dan diperlukan untuk menarik para pemilik informasi tertentu, sarana materiil, dan keahlian pribadi hingga titik di mana setiap saat mereka bisa membuat kontribusi terbesar. Mereka yang lebih memilih kepastian suatu penghasilan kontraktual yang terjamin dibanding keharusan mengambil risiko untuk memanfaatkan kesempatan yang terus berubah merasakan suatu ketidakberuntungan dibanding dengan para pemilik penghasilan besar, yang berasal dari pengelolaan sumber-sumber daya secara terus-menerus. Keuntungan nyata yang tinggi dari orang-orang yang berhasil tersebut, apakah keberhasilan ini layak didapatkan atau kebetulan, merupakan suatu elemen esensial untuk mengarahkan sumber-sumber daya ke tempat di mana mereka akan membuat kontribusi terbesar ke wilayah bersama yang darinya semua pihak mendapatkan bagiannya. Kita tidak harus memberikan andil jika penghasilan seorang individu tersebut tidak diperlakukan sebagai adil. Prospek-prospek dari hal ini dengan demikian mendorong individu tersebut untuk membuat kontribusi terbesar bagi wilayah bersama tersebut. Penghasilan yang sangat besar karena itu kadangkala adil. Apa yang lebih penting, lingkup untuk mencapai penghasilan-penghasilan tersebut mungkin merupakan syarat yang diperlukan bagi yang kurang berkeahlian, beruntung, atau cerdas untuk mendapatkan penghasilan reguler yang menjadi hak mereka. Ketidaksetaraan tersebut, yang tidak disukai oleh begitu banyak orang, bukan hanya merupakan kondisi dasar untuk menghasilkan penghasilan-penghasilan yang relatif tinggi yang kini dinikmati sebagian besar orang di Barat. Sebagian orang tampak yakin bahwa penurunan tingkat penghasilan umum ini, atau paling tidak pelambatan angka kenaikannya, bukan merupakan harga yang terlalu tinggi bagi apa yang mereka rasakan sebagai distribusi yang akan lebih adil.

Namun ada suatu rintangan yang bahkan lebih besar bagi ambisi seperti itu sekarang ini. Sebagai hasil dari memainkan permainan catallaxy tersebut–yang sangat sedikit memberikan perhatian pada keadilan namun benar-benar menekankan peningkatan hasil–populasi dunia telah mampu meningkat begitu besar, tanpa peningkatan penghasilan sebagian besar orang secara drastis. Kita dapat menjaga peningkatan tersebut—serta peningkatan populasi lebih jauh yang kini sedang terjadi—hanya jika kita memanfaatkan permainan tersebut sepenuh mungkin, yang mendorong kontribusi paling tinggi terhadap produktivitas.

Saya diberitahu bahwa masih ada komunitas-komunitas di Afrika di mana anak-anak muda yang berdaya—yang khawatir untuk mengadopsi metode-metode komersial modern—beranggapan mustahil untuk memperbaiki posisi mereka, karena adat-istiadat suku menuntut bahwa mereka membagi produk-produk industri, ketrampilan, atau keberuntungan mereka yang lebih besar dengan semua kelompok mereka. Penghasilan yang meningkat dari orang dalam kelompok itu hanya akan berarti bahwa ia harus membaginya dengan jumlah pengklaim yang terus bertambah. Oleh karena itu, ia tidak akan pernah dapat meningkat secara substansial melebihi tingkat rata-rata sukunya.

Dampak kebalikan utama dari ‘keadilan sosial’ dalam masyarakat kita adalah bahwa hal itu mencegah individu-individu untuk mencapai apa yang dapat mereka capai. Hal itu juga berarti penerapan suatu prinsip yang tidak sesuai dengan sebuah peradaban yang produktivitasnya tinggi, karena penghasilan terbagi secara sangat tidak setara dan dengan demikian penggunaan sumber-sumber daya yang langka terarahkan dan terbatas pada wilayah di mana mereka menghasilkan keuntungan tertinggi. Karena jasa distribusi yang tidak setara ini, si miskin lebih diterima dan terlibat dalam sebuah ekonomi pasar kompetitif ketimbang mereka diterima dalam sebuah sistem yang dijalankan secara terpusat. Semua ini adalah hasil, meski sampai sekarang tidak sempurna, dari kemenangan prinsip perilaku individual abstrak tersebut atas tujuan tertentu bersama sebagai metode koordinasi sosial—suatu perkembangan yang telah membuat baik masyarakat terbuka maupun kebebasan individu mungkin, namun yang kini ingin dibalikkan oleh kaum sosialis. Kaum sosialis memiliki dukungan dari insting-insting yang terwariskan tersebut, sementara pemeliharaan kekayaan baru yang menciptakan ambisi-ambisi baru tersebut memerlukan suatu disiplin terlatih yang ditolak oleh kaum barbar liar yang ada di tengah-tengah kita, yang menyebut diri mereka ‘terasing’, meski mereka masih mengklaim semua keuntungannya.

 

*****

Sumber:

Friedrich August von Hayek, New Studies in Philosophy, Politics, Economics, and the History of Ideas, London, 1978, dikutip dari Detmar Doering (ed.), Liberalisme (Friedrich Naumann Foundation, tanpa tahun) hlm. 63-68,

[1] Friedrich August von Hayek (1899-1992), pemenang Hadiah Nobel untuk Ekonomi pada 1974, mungkin merupakan pemikir liberal paling penting abad ini. Dengan mengikuti jejak langkah gurunya, Ludwig von Mises, ia menolak teori sosialisme dengan argumen-argumen dari teori ekonomi. Dalam buku klasiknya, The Road to Serfdom, yang diterbitkan di Inggris pada 1944, ia menyerang ideologi-ideologi totaliter, baik dari sayap kiri maupun kanan, dan menyoroti kemiripan-kemiripan struktural mereka. Hal ini memancing kemarahan, khususnya di kalangan sosialis. Hal yang sama terjadi pada kritiknya atas negara kesejahteraan yang, dengan intervensi ekonomi negara yang semakin besar, akan meruntuhkan dasar setiap masyarakat bebas. Dalam karya-karyanya yang lebih kemudian, seperti The Constitution of Liberty (1960), ia mengembangkan apologi filosofis bagi masyarakat bebas, sebuah apologi yang melampaui batas-batas ilmu ekonomi murni dan terutama diarahkan pada gagasan-gagasan hukum. Hal ini menjadi sangat jelas dalam ringkasan dari sebuah ceramah yang terjadi pada 1976 berikut ini, yang dengan mendasarkan diri pada argumen-argumen Hume, ia mengkaji secara kritis konsep tentang keadilan sosial. Tidak heran jika, setelah runtuhnya komunisme di Eropa Timur, klub-klub Hayek terbentuk di sana secara spontan untuk menghormati pengkritik tirani sosialistik ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *