Konservatisme Beragama Kelas Menengah Muslim Jakarta: Bagian I, Demografi Kelas Menengah Jakarta

Posted on Posted in Kajian dan Penelitian, Penelitian

Kelas menengah di Indonesia berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan kriteria Asian Development Bank (ADB), kelas menengah adalah kelompok penduduk dengan tingkat konsumsi antara 2 – 20 dolar Amerika Serikat (AS) per hari, yang jumlahnya sekitar 134 juta (56,5%) pada 2010. Menurut perkiraan World Bank, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia berada di kisaran rata-rata 7% per tahun.

Tampak jelas bahwa kelas menengah adalah mayoritas sebagai sebuah kelompok berdasarkan strata ekonomi. “Profil ekonomi” kelas menengah—seperti ragam profesi di mana kelompok ini mendulang pendapatan, pola konsumsi, kepentingan ekonomi yang didasarkan kalkulasi cost and benefit—akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap politik dan kebijakan, khususnya yang berdampak terhadap perekonomian.

Meskipun demikian, kelas menengah Indonesia bukanlah kelompok yang homogen ditinjau berdasarkan variabel-variabel demografis lain. Salah satu variabel demografis yang tidak bisa tidak dipertimbangkan ialah agama yang dianut dan bagaimana pemahaman keagamaan kelas menengah. Terlebih lagi, mengacu pada hasil survei Pew Research 2016, 95% dari penduduk Indonesia—di mana kelas menengah termasuk di dalamnya—melihat agama sebagai dimensi kehidupan yang sangat penting.

Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Meskipun tidak ada data statistik resmi, layak diduga jumlah penduduk Muslim memiliki proporsi yang sangat besar—kalau bukan mayoritas—dalam konfigurasi kelas menengah Indonesia. Orientasi nilai dan pemahaman keagamaan kelas menengah Muslim, bagaimanapun, membentuk wajah kelas menengah Indonesia dan, pada gilirannya, mempengaruhi dinamika ekonomi, politik, dan kebudayaan.

November 2015, Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks) melakukan penelitian tentang pemahaman keagamaan dan dukungan kelas menengah di DKI Jakarta terhadap demokrasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei wawancara tatap muka berbasis kuesioner. Jumlah sampel penelitian adalah sebanyak 420 responden pada tingkat kepercayaan 95% dan margin of error +/-5%. Responden adalah pemegang Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta yang tinggal di lima kota administratif dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Responden dipilih secara acak dengan metode stratified random sampling.

Meskipun survei dilakukan setahun yang lalu, temuan survei sedikit-banyak bisa memberikan penjelasan tentang dinamika politik DKI Jakarta menjelang pemilihan gubernur, yang antara lain ditandai meningkatnya sentimen negatif Muslim terhadap kandidat sekaligus gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dipicu isu penodaan agama dan memuncak pada penetapan Ahok sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

 

Demografi Kelas Menengah Jakarta

Selain merumuskan kelas menengah sebagai penduduk dengan pengeluaran per kapita antara 2- 20 dolar Amerika Serikat per hari, ADB juga mengklasifikasi kelas menengah menjadi tiga stratifikasi, yaitu (a) kelas menengah bawah dengan pengeluaran 2 – 4 dolar per kapita per hari,  (b) kelas menengah tengah dengan pengeluaran 4 – 10 dolar per kapita per hari, dan (c) kelas menengah atas dengan pengeluaran 10 – 20 dolar per kapita per hari. Dengan kriteria ini, Indeks mengembangkan item pertanyaan yang mengacu pada nilai PPP dengan kurs dolar Rp 13.000,- dan mengkonversinya dalam pengeluaran per bulan dengan asumsi satu bulan adalah 30 hari.

Dengan model ini, maka kelas menengah dirumuskan sebagai penduduk dengan pengeluaran per kapita sebesar Rp 780.000,- s.d. Rp 7.800.000,- per bulan. Penduduk dengan pengeluaran per kapita kurang dari Rp 780.000,- per bulan dimasukkan dalam kelompok kelas bawah dan penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan lebih dari Rp 7.800.000,- dimasukkan ke dalam kelompok kelas atas.

Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari total 420 responden, 112 (26,27%) termasuk kelas bawah, 107 (25,48%) termasuk kelas menengah bawah, 99 (23,57%) termasuk kelas menengah tengah, 75 (17,86%) termasuk kelas menengah atas, sedangkan sisanya 27 (6,43%) termasuk kelas atas.

Dengan demikian, jumlah responden dari tiga kategori kelas menengah adalah sebanyak 281 (66,90%) dari total 420 responden. Meskipun demikian, proporsi kelas menengah dan kelas-kelas lain yang ditemukan dalam survei ini mungkin lebih rendah dari proporsi dalam kenyataan. Hal ini terjadi akibat pergantian responden dalam proses survei, karena terdapat responden yang tak bersedia diwawancarai atau berdomisili di luar DKI Jakarta meskipun tercatat sebagai pemegang KTP DKI Jakarta.

Dari 107 responden kelas menengah bawah, sebanyak 18 (16,82%) berdomisili di Jakarta Selatan, 24 (22,43%) di Jakarta Pusat, 23 (21,50%) di Jakarta Barat, 19 (17,76%) di Jakarta Utara, dan 23 (21,50%) di Jakarta Timur. Sementara, dari 99 responden kelas menengah tengah, sebanyak 19 (19,19%) berdomisili di Jakarta Selatan, 22 (22,22%) di Jakarta Pusat, 23 (23,23%) di Jakarta Barat, 18 (18,18%) di Jakarta Utara, dan 17 (17,17%) di Jakarta Timur. Adapun responden kelas menengah dengan jumlah 75 responden tersebar sebanyak 18 (24,00%) di Jakarta Selatan, 17 (22,67%) di Jakarta Pusat, 15 (20,00%) di Jakarta Barat, 12 (16,00%) di Jakarta Utara, dan 13 (17,3%) di Jakarta Timur.

Grafik di bawah ini menunjukkan persebaran kelas menengah atas, kelas menengah tengah, dan kelas menengah bawah menurut kota-kota administratif tempat tinggalnya.

Dari sisi gender, mayoritas responden kelas menengah mengidentifikasi diri sebagai laki-laki. Dari 281 responden kelas menengah secara keseluruhan, sebanyak 176 (62,83%) bergender laki-laki, sedangkan sebanyak 105 (37,37%) bergender perempuan. Berdasarkan kategori kelas menengah atas, kelas menengah tengah, dan kelas menengah bawah, dari 75 responden kelas menengah atas, sebanyak 50 (66,67%) bergender laki-laki dan 25 (33,33%) bergender perempuan. Dari 99 responden kelas menengah tengah, sebanyak 60 (60,61%) bergender laki-laki dan 39 (39,39%) bergender perempuan. Jumlah responden kelas menengah bawah seluruhnya adalah 107, di mana sebanyak 66 (61,68%) bergender laki-laki dan 41 (38,32%) bergender perempuan.

Seluruh responden kelas menengah yang terjaring dalam survei ini termasuk dalam kelompok penduduk usia produktif. Menurut kriteria BPS, penduduk usia produktif adalah penduduk dalam rentang usia 15-64 tahun. Berdasarkan temuan survei, kelas menengah atas didominasi oleh penduduk dari kelompok usia 49 – 56 tahun (33 responden), disusul oleh kelompok usia 4 – 48 tahun (24 responden), dan kelompok usia 33 – 40 tahun (11 responden). Adapun kelas menengah tengah didominasi oleh penduduk dari dua kelompok usia, yaitu 49 – 56 tahun (37 responden) dan 41 – 48 tahun (37 responden), dikuti oleh kelompok usia 33 – 40 tahun (14 responden). Kelas menengah bawah didominasi oleh penduduk dari kelompok usia 41 – 48 tahun (25 responden), disusul kelompok usia 33 – 40 tahun (24 responden) dan kelompok usia 25 – 32 tahun (24 responden).

Grafik di bawah ini menunjukkan jumlah responden kelas menengah berdasarkan kelompok usia penduduk.

Kelas menengah didominasi oleh penduduk berpendidikan terakhir sarjana (131 responden), terdiri dari 46 responden dari kategori kelas menengah atas, 44 responden dari kategori kelas menengah tengah, dan 41 responden dari kategor kelas menengah bawah. Tingkat pendidikan terakhir lain yang juga berjumlah signifikan adalah SMA/setingkat yang dinyatakan oleh 70 responden, terdiri dari 8 (delapan) responden kelas dari kelas menengah atas, 20 responden dari kelas menengah tengah, dan 42 responden dari kelas menengah bawah.

Manufaktur adalah bidang pekerjaan yang paling banyak digeluti oleh kelas menengah DKI Jakarta. Berdasarkan temuan survei, terdapat 75 responden (26,69%) yang bekerja di bidang manufaktur, yang terdiri dari 74 pegawai swasta dan satu pelaku wirausaha. Bidang lain yang juga cukup banyak digeluti kelas menengah DKI Jakarta adalah perdagangan dengan total responden 38 (13,56%) pekerja, terdiri dari 35 pegawai swasta dan tiga pelaku wirausaha. Tabel di bawah ini menunjukkan bidang-bidang pekerjaan yang digeluti oleh kelas menengah DKI Jakarta.

Kelas menengah DKI Jakarta memeluk beragam agama/keyakinan. Survei menemukan Islam dipeluk oleh 189 responden (67,26%), Kristen Protestan oleh 40 responden (14,23%), Kristen Katholik oleh 36 responden (12,81%), Buddha oleh 8 (delapan) responden (2,85%), Hindu oleh 3 (tiga) responden (1,07%), dan Konghucu oleh 3 (tiga) responden (1,07%). Selain, itu terdapat 2 (dua) responden (0,71%) yang mengaku tidak memeluk agama-agama yang sudah disebutkan di atas. Di bawah ini adalah grafik yang menunjukkan komposisi kelas menengah Jakarta menurut agama/keyakinan yang dipeluknya.

Demikian profil demografi kelas menengah DKI Jakarta. Bagian selanjutnya akan membahas corak paham keagamaan kelas menengah DKI Jakarta, khususnya dari kelompok Muslim, dikaitkan dengan komitmen terhadap proses demokratisasi.

*************************************************************************

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *