Klimaks Kebrutalan FPI

Front Pembela Islam (FPI) belakangan ini seakan mencapai klimaks dalam mempertontonkan aksi brutalnya.Ormas berhaluan radikal tersebut mungkin mengira bahwa kehendak hati mereka bisa dieksekusi tanpa prosedur.

Semula FPI dan gerombolannya menggerakkan gelombang aksi massa di sekitar monas demi menutut Ahok agar dipenjara atas tuduhan penistaan agama. Gelombang tersebut dilakukan sebanyak 3 episode dan diberi nama Aksi Bela Islam. Benarkah mereka sedang memperjuangkan Islam? Pertanyaan retoris ini sejatinya tak usah dijawab. Orang orang dengan logika yang lurus tak perlu banyak waktu melihat muslihat yang sedang mereka mainkan. Toh pada akhirnya terbukti aksi aksi itu ditunggangi para tersangka makar.

FPI nampaknya menghayati betul petuah Ibnu Rusyd “Jika ingin menguasai orang-orang bodoh, bungkuslah segalanya dengan agama.” Bisa disimpulkan, klaim bela Islam mereka tak lain hanya membungkus kepentingan atas nama agama. Selama ini, Rizieq Shihab merasa diberi kebebasan berkoar sehingga dia berada di atas angin. Mungkin karena menyangka pemerintah tak mampu bertindak tegas, tanpa sungkan dia menghina simbol negara, Pancasila.

Ideologi yang dirumuskan oleh para founding father tersebut diplesetkan namanya menjadi Pancagila. Siapa yang sesungguhnya gila? Yang benar benar gila adalah dia yang hidup di suatu negara tapi melecehkan ideologi negara tersebut. Yang benar-benar gila adalah dia yang hidup di suatu negara tapi sibuk mencerca pemerintahan negara itu. Sangat layak jika Rizieq kemudian dituntut. Namun nampaknya dia sudah kebal dengan berbagai proses hukum yang menjeratnya. Bukannya jera, dia malah menyulut api menjadi lebih besar. Strategi play victim dimainkan.

Rizieq Shihab dan lasykarnya tak tanggung tanggung memainkan peran sebagai pihak yang dikeroyok GMBI, korban kriminalisasi ulama, dan sedang didzolimi oleh Kapolda Jabar yang konon melindungi preman-preman GMBI. Ujung ujungnya demo lagi. Tuntutannya tak main-main, 3 kapolda yaitu Kapolda Jabar, Kalbar, dan Metro Jaya harus dicopot. Tapi Jenderal Tito untungnya tak mendengarkan rengekan FPI.

Jenderal Tito menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan mendapatkan sanksi hukum. Tanpa adanya bukti pelanggaran, Kapolri tentu tak bisa semena-mena mencopot bawahannya.

Mungkin FPI lupa jika Indonesia adalah negara hukum. Bukan negara yang tunduk pada keinginan ormas. Sebesar apapun massa yang digerakkan, tentu aparat dan jajarannya tak akan gentar. Negara ini sudah akrab dengan pemberontakan berhaluan ekstrem kanan berbalut agama dan ekstrem kiri berbalut komunisme. Namun menindak FPI tentu perlu strategi yang cantik. Salah penanganan bisa melebar dampaknya.

Membubarkan FPI juga bukan opsi yang bagus meski banyak orang yang menginginkannya. Ketika dibubarkan, mereka hanya berganti nama dan atribut. Tindakan vandalis, anarkis tetap dilakukan. Jubah agama tetap dipakai.

FPI hanya bisa dibendung dengan kewarasan. Ya, kewarasan dan setelah itu kecerdasan. Tidak lupa juga kesibukan. Orang yang sibuk bekerja dan belajar tak akan punya waktu mendengarkan provokasi FPI. Orang waras dan cerdas apalagi.

Menyikapi kebrutalan FPI yang mencapai klimaks belakangan ini, saya sepakat dengan kata Panji Pragiwaksono “FPI jangan dibubarkan. Biar tahu orang yang nggak pernah sekolah jadinya kayak apa”. Itu!!

 

2337total visits,3visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *