Agama dan (Ajaran) Kekerasan

Posted on

“Keragaman bagaimanapun bentuknya dapat berarti mata pisau. Di sisi lain sebagai kekayaan keanekaragaman, namun pada lainnya sering dijadikan senjata pemecah belah persatuan.”

Agama dan kekerasan menjadi perbincangan di dunia internasional maupun nasional. Beberapa perang besar yang terjadi menjadikan agama sebagai “sumbu”nya. Perang Israel–Palestina (1948-sekarang), bermula saat Inggris merampas tanah Palestina dari kesultanan Ottoman lalu berpindah tangan kepada Yahudi agar membangun kembali negaranya yang sempat terpaksa ditinggalkan sejak ribuan tahun yang lalu karena dianggap membangkang kepada ajaran Tuhan.

Memang tidak nampak langsung intimidasi agama dalam kasus tersebut, namun sangat terasa saat perlawanan Palestina menolak pendudukan kembali kaum Yahudi Israel demi kemerdekaan tanah Palestina maupun atas nama sejarah. Setali tiga uang, perang salib (abad IX-XVI), Tanah suci Yerussalem menjadi tanah yang diperebutkan. Bermula saat Paus Urban II atas nama agama Kristen memberi titah merebut kembali tanah tersebut dari tangan Islam.

Dalam sejarah Indonesia sendiri, tercatat rentetan panjang kasus kekerasan mengatasnamakan agama. NKRI yang berbentuk kepulauan menjadikan Indonesia diisi masyarakat majemuk dari daratan yang terpisah lautan membentang. Kondisi ini meniscayakan adanya perbedaan latarbelakang kebudayaan maupun corak pandangan yang melahirkan beragam suku hingga konsepsi kepercayaan (agama).

Tidak dapat dinafikka, kondisi tersebut memiliki dua sisi. Pada satu sisi dapat dipandang positif sebagai kekayaan nasional, namun rentan pula dengan gesekan–gesekan yang memicu timbulnya konflik perbedaan.

Berkaca pada konflik Maluku, Poso, serta sejumlah kasus terpisah diberbagai  tempat dimana kaum Muslim terlibat konflik secara langsung dengan umat Kristen. Belum lagi jika menghitung kasus teror, pengeboman serta pada kasus bom bunuh diri atas nama menegakkan agama tertentu.

Apakah agama benar–benar adalah sumbu dari sejumlah konflik kekerasan?

Saya tidak pernah memandang bahwa agama dan kekerasan memiliki keterkaitan, sebab tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Kata agama saja berarti tidak kacau. Dalam Islam misalnya diajarkan rahmatan lil aalamiin (rahmat bagi semesta alam). Sebaik-baik muslimin/muslimat ialah yg perkataan dan perbuatannya tidak menyakiti oranglain.

Dalam Nasrani diajarkan agama kasih, terdapat tiga pondasi ajaran berkasih yakni fasih berbicara tanpa kasih adalah omong kosong, berpengetahuan tanpa kasih adalah tidak berguna, dan kebaikan/pengorbanan tanpa kasih tidaklah berfaedah. Dalam agama Hindu disebutkan dalam Atharwa Weda, ”Aku membuat engkau bersatu dalam hati dalam pikiran, tanpa rasa benci, mempunyai ikatan satu sama lain seperti anak sapi yang baru lahir dari induknya”. Ajaran yang jauh dari pesan permusuhan.

Sejalan ajaran buddha mengenai konsep cinta kasih universal, melepaskan diri dari sifat keduniaan, “Cinta kasih bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawa melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, keatas, kebawah, dan kesekeliling, tanpa rintangan, benci dan permusuhan.” Masih banyak lagi ajaran kasih.

Maka, alangkah tidak warasnya jika menasbihkan diri sebagai pengikut suatu paham yang tidak mendamaikan, justru menyengsarakan, menakutkan hingga ajaran kebencian yang memberikan hak utk mencabut ruh seseorang dari jasadnya.  Otak dan pelaku kekerasan yang menghantui kedamaian beragama dapat dipastikan bukanlah penganut dari ajaran agama manapun. Tindak kekerasan atas nama agama adalah keniscayaan dari gagalnya pahaman tentang konsep ajaran kasih, bernegara dan berkemanusiaan, bahkan beragama. Mereka tidak pernah punya tempat di hati kita, apalagi di negara berbhineka ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *