Iklan Surga dan Bunuh Diri Demi Agama

Bertahun-tahun lalu, saya pernah menyimak video pengakuan para pelaku bom bali 2. Video itu, ditemukan setelah sang pentolan kelompok teroris—Dr. Azhari diserbu oleh tim Densus 88. Video itu menanyangkan pengakuan para pelaku bom bunuh diri. Membahas latar belakang dan motif rencana bom bunuh diri yang bakal mereka lakukan. Mereka mengaku, bahwa bom bunuh diri itu memang mereka lakukan atas dasar kesadaran hati. Tanpa paksaan siapa pun. Semuanya, murni semata-mata untuk membela marwah agama Islam, tutur mereka.

Namun, saya mulai meragukan pengakuan mereka setelah mereka menukil beberapa dalil tentang keutamaan mati syahid. Pengakuan itu nampak naif bagi saya. Mereka menceritakan darah para syuhada itu suci. Dan mereka, jelas akan mendapatkan tempat istimewa di surga kelak. Bahkan, orang yang mati syahid—sebab berjuang membela agama Allah—diibaratkan serupa burung yang memiliki bulu hijau yang indah. Dari bulu-bulunya, juga terpantul cahaya.

Nantinya, burung berwarna hijau itu diperbolehkan membikin sarangnya di arsy Tuhan. Mereka juga diperbolehkan mencari makanan di seluruh area kompleks sorga. Bebas. Gambaran burung berwarna hijau itu tentu saja menunjukkan betapa mulianya orang yang mati syahid.

Tapi, agaknya mereka alpa arti dari mati syahid. Memangnya, apa itu mati syahid? Apakah mati syahid adalah meledakkan diri di tempat para pelancong yang belum tentu berdosa? Apakah mati syahid berarti merenggut nyawa orang-orang yang bahkan tak punya benci kepada islam walau hanya sezarah?

Dari sinilah, kita perlu kembali menakar makna mati syahid. Apabila mati syahid hanya diletakkan pada ruang definisi yang sempit tentang memusuhi orang-orang kafir, maka kita patut bersedih. Sebab, itu adalah sikap yang paling musykil. Yang pada akhirnya justru menggiring kita jadi para hamba Tuhan yang semata-mata terjerat iklan surga.

Surga jadi hanya nampak sebagai iklan dalam dalil-dalil. Perhatian tertuju hanya pada ganjaran dan pahala. Lalu, apa bedanya itu dengan iklan-iklan di televisi yang menawarkan berbagai macam keunggulan? Iklan perabot rumah tangga sering menawarkan hadiah menarik bagi para konsumennya. Iklan lainya, ada juga yang memberikan segunung hadiah bagi para konsumen yang cepat tanggap memesan. Pada titik ini, kita sungguh bersedih ketika dalil-dalil tentang keutamaan mati syahid harus bersalin rupa menjadi iklan komersial seperti itu. Iklan yang hanya menguntungkan orang-orang tertentu.

Mereka benar-benar terjerat slogan iklan dan akhirnya rela menyerahkan nyawanya menguap bersama asap bom. Mengobarkan api peperangan di tengah lingkungan yang sebenarnya aman dan damai saja. Tapi, mereka memandang orang-orang di lingkungan itu dengan sengit. Mereka yang di bali adalah orang-orang yang memanggul segunung dosa, orang-orang yang selalu menjalankan maksiat tanpa pernah beribadah. Begitulah, sederet asumsi yang selalu mengitari benak mereka.

Bunuh diri demi agama menjadi sebuah laku yang sungguh mulia, pikir mereka. Padahal, mereka tak lebih dari segerombolan bocah lugu yang terjerat iklan mainan. Mereka sungguh naif, menganggap agama hanya semata-mata hanya untuk mengejar pahala. Pahala dan pahala. Padahal, kita tahu, bahwa agama pada mulanya  adalah rahmat yang menjaga hidup manusia. Seperangkat ajaran yang akan senantiasa membuat hidup umat manusia tentram. Namun, sialnya, kini agama telah dibajak oleh orang-orang yang punya kepentingan. Orang-orang yang menyulap dalil-dalil agama menjadi iklan komersil. Mereka adalah orang-orang gemar berniaga, tak peduli meski yang mereka dagangkan adalah agama.

262total visits,4visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *