Kontribusi Santri Dalam Melawan Ekstremisme Brutal

Santri merupakan salah satu ajang untuk menunjang kekreatifitasan dalam kehidupan masyarakat. Santri sebuah alat untuk memperjuangkan negeri dari ekstremnya pemikiran brutal. Ekstremisme merupakan perkara yang dilarang dalam Islam. Allah SWT mengkritik Ahli Kitab karena sikapnya yang begitu ekstrem dalam beragama (Q.S. An-Nisa’: 171). Dalam terminologi syariat, sikap ektrim sering juga disebut ghuluw yang bermakna berlebihlebihan dalam suatu perkara. Atau bersikap ekstrem pada satu masalah dengan melampaui batas yang telah disyariatkan (Afroni, n.d.). Dapat dikatakan bahwa keberagamaan yang mengakibatkan seseorang melenceng dari pemikiran agama.

Ekstremisme bukan sebuah ajaran dari agama Islam. Pemikiran ekstremisme tidak hanya sekarang terjadi, namun pada zaman dahulu sudah terjadi adanya ekstremisme, yaitu dari aliran khawarij pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, dengan doktrin social yang menyebutkan bahwa seorang yang berbuat dosa besar tidak lagi dianggap muslim, namun wajib dibunuh. Pemikiran itu merupakan sebuah contoh dari narasi ekstrem brutal. Dapat dikatakan begitu karena dalam hadist shohih disebutkan bahwa: “manusia tempatnya salah dan lupa”. Dilihat dari hal itu, sebuah pemikiran yang ekstrem mampu menimbulkan perbuatan yang negatif, meskipun dianggap memiliki pemikiran yang luas. Ekstremisme brutal merupakan sebuah pemikiran yang sangat berlebihan, hingga mampu menimbulkan banyak hal yang negatif.

Ekstremnya sebuah pemikiran muncul karena adanya sikap atau sifat yang berlebih-lebihan, dapat dilihat Qur’an surat (al-Ma’idah :77), yang artinya: “Hai Ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. Ekstremisme merupakan sebuah pemikiran yang berlebihan terhadap sesuatu. Dapat dilihat dari firman Allah diatas, dapat dikatakan bahwa sebuah pemikiran ekstrem berasal dari hawa nafsu dan ketidak puasan seseorang yang egois dan ingin menang. Dampak dari ektremisme brutal ini sangat tinggi, yaitu mampu mempengaruhi kerja keamanan masing-masing Negara secara keseluruhan. Ekstremisme brutal sangat mengancam keselamatan masyarakat, karena mampu menimbulkan kekerasan.

Perlu adanya pemberontakan terhadap ektremisme yang saat ini terjadi. Pemberontakan dapat dilakukan dengan cara menanamkan pemahaman yang tepat terhadap masyarakat luas. Menyebarluaskan santri dalam menanamkan nilai kebenaran akan membantu masyarakat dalam berfikir secara benar dan sistematis tanpa merugikan orang lain. Santri yang notabene belajar dan mempelajari ilmu agama Islam, dengan memberikan penjelasan yang mampu membuka kebudayaan berfikir luas dan wawasan berfikir secara sistematis. Saya teringat Cahyati (guru pondok pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten) yang mengatakan bahwa “santri adalah kunci”. Tidak hanya mahasiswa yang mampu berperan agen of change saja, namun santri juga mampu berperan sedemikian rupa. Santri mampu menjadi garda terdepan dalam memperbaiki masyarakat yang lebih baik. Santri yang memiliki pemikiran, gagasan, membangun sikap dan sistematik pemikiran yang lebih baik. Dari ekstremisme brutal yang saat ini sedang marak, santri mampu membina, melawan dan melamahkan narasi ekstrem brutal, tidak dengan didialog atau ceramah saja, namun juga bergerak dalam mengatasi dampak dari akibat ekstremisme brutal.

Dengan adanya santri di Indonesia, mampu membantu pemikiran-pemikiran ulama dalam mengatasi ekstremisme brutal yang saat ini masih memuncak di Asia Tenggara. Santri sangat berperan penting dalam hal ini, karena pemikiran santri yang berlandaskan Al-Qur’an dan assunnah. Narasi ekstremisme brutal yang terjadi mampu diatasi dengan cara mengetahui konsep atau alur berfikir ekstremis (Praktis, 2016).

Narasi yang disampaikan dipelajari agar mengetahui konsep atau alur tersebut. Seorang santri akan menilai dengan sudut pandang keislaman, pengetahuan, dan ilmu yang didapatkan, hingga mampu mengetahui celah-celah untuk melawan dan melemahkan keekstreman dari pemikir ekstremis. penting untuk mengetahui jenis narasi yang digunakan oleh ekstremis brutal serta para pembawa pesan mereka untuk dapat dengan lebih baik merancang dan berfokus pada kontra-narasi atau narasi alternatif yang tepat. Selain itu, penting untuk menyorot alur logika (logical flow) atau struktur dari narasi tersebut untuk mengidentifikasi argumen-argumen utama yang digunakan oleh ekstremis brutal. Terakhir, penting untuk mengidentifikasi kelemahan potensial di dalam narasi teroris tersebut agar dapat dieksploitasi dalam rancangan kontra-narasi(Praktis, 2016). Seorang ekstremis tidak hanya menggunakan satu metode berfikir saja, namun juga menggunakan beberapa metode yang digunakan, jadi tidak semua mampu melawan ekstremis secara professional.

 

Sumber bacaan.

Afroni, S. (n.d.). Makna Ghuluw Dalam Islam :, (95).

Praktis, S. P. (2016). Melemahkan narasi teroris di asia tenggara.

www.qothrotulfalah.com

326total visits,3visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *