Menelisik Motivasi Kaum Jihadis Dalam Aksi Bom Bunuh Diri

Ide penulisan ini muncul setelah penulis membaca Majalah Dabiq, majalah sebuah komunitas yang menyebut dirinya sebagai Islamic State (IS). Konon motivasi  terbesar kelompok IS  melakukan bom bunuh diri, pembunuhan, dan kemungkaran lainnya adalah untuk mendapatkan tujuh puluh dua bidadari di surga. Dengan mengatasnamakan agama kelompok IS menganggap dirinya sebagai mujahid, layaknya para sahabat yang ikut berperang di masa Nabi dulu, sehingga merasa berhak untuk mendapatkan fasilitas surga seperti halnya para mujahid lainnya. Namun menyebut kelompok IS  sebagai mujahid sebenarnya merupakan kekeliruan  dan permasalahan. Jihad yang mereka lakukan sekarang justru sangat bertolakbelakang dengan jihad yang dilakukan di masa Nabi dan para sahabatnya. Terlebih lagi, ada banyak etika Islam dan prinsip kemanusiaan yang mereka langgar.

Impian tujuh puluh dua bidadari ini disebutkan dalam hadis riwayat al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad yang bersumber dari sahabat Miqdam bin Madi. Rasulullah bersabda: Orang yang mati syahid mendapatkan enam keistimewaan dari Allah; diampuni sejak awal kematiannya, melihat tempatnya di surga, dijauhkan dari adzab kubur, aman dari huru-hara akbar, diletakkan mahkota megah di atas kepalanya yang terbuat dari batu yakut terbaik di dunia, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, serta diberi syafaat sebanyak 70 orang dari kerabatnya.

Merujuk pada ilmu hadis, ketika ditemukan sebuah riwayat, maka yang pertama kali dilakukan adalah analisis otentitas sanad, setelah itu baru dilakukan analisis matan hadis (redaksional). Andaikan hadis tersebut shahih dan redaksinya juga tidak bermasalah, hadis tersebut belum tentu bisa diamalkan karena perlu ditinjau lagi dengan metode pemahaman hadis. Tingkah langkah ini mesti digunakan dalam memahami hadis agar tidak terjebak dalam kekeliruan dan kesalahan.[1]

 

Analisis Sanad

Menurut al-Tirmidzi hadis di atas termasuk kategori hadis hasan. Akan tetapi, jika ditelaah lebih lanjut, di dalam sanad hadis terdapat dua perawi yang perlu diperhatikan, yaitu Baqiyah bin Walid dan muridnya, Nuaim bin Hammad.

Pasalnya, Ibu Iraqi mengatakan Baqiyah adalah seorang mudallis[2]. Tapi banyak juga pernyataan para kritikus hadis yang berbeda-beda tentang status kredibelitasnya. Seperti Ibnu Main yang mengatakan ia tsiqah(terpercaya), Ibnu Mubarak menyebutnya saduq(sangat jujur), dan Ibnu al-Madini mengatakan ia salih (baik).

Sedangkan berdasarkan kesaksian para kritikus hadis lainnya seperti Yaqub bin Sufyan, Ibnu Mubarak dan Ibnu Zurah menyatakan bahwa Baqiyah tidak bisa disebut mudallis atau dengan kata lain bisa dinyatakan tsiqah saat ia meriwayatkan hadis dari orang-orang Syam yang kredibel serta menyebutkan nama gurunya secara jelas sebagaimana halnya dalam hadis ini, yakni bukan hanya menyebut julukan sang guru.[3]

Keluar dari semua perdebatan di atas, demi kehati-hatian Ibnu Hatim menggarisbawahi bahwa hadis yang diriwayatkan Baqiyah boleh ditulis namun tidak bisa dijadikan hujjah(tumpuan hukum).[4]

Sementara Nuaim bin Hammad adalah orang yang sangat jujur tapi sering melakukan kesalahan dalam periwayatan. Oleh karena itu, banyak juga ulama yang melemahkan hadisnya. Namun di sisi lain, para ulama, seperti Ibnu Main, memuji ketangguhannya membela sunnah Nabi. Bahkan, ia pernah masuk penjara dan meninggal di sana lantaran membela sunnah. Sederet ahli hadis seperti Tirmidzi, Abu Daud, Bukhari, Ibnu Majah dan Yahya bin Main juga meriwayatkan hadis darinya.[5]

Mayoritas ulama hadis berpendapat bahwa riwayat Nuaim dapat diterima selama ia meriwayatkan hadis tersebut dari orang Syam yang kredibel. Dan memang hampir semua guru-guru Nuaim dalam hadis ini merupakan orang-orang Syam.[6] Sehingga dalam hal ini, penulis setuju dengan penilaian al-Tirmidzi, yang mengatakan hadis ini Hasan. Hasan adalah sebutan untuk hadis yang hafalan salah satu perawinya tidak sekuat hadis shahih. Posisinya terletak antara shahih dan dhaif.

Analisis Matan dan Bagaimana Memahaminya

Timbulnya kata bidadari (hur al-ain) dalam hadis ini menarik untuk dicermati. Soalnya dalam riwayat lain, imbalan menikah dengan tujuh puluh dua bidadari tidak disebutkan. Perlu bahasan khusus untuk membuktikan apakah redaksi menikah dengan tujuh puluh dua bidadari ini tambahan (idraj) dari perawi atau bukan. Terlepas dari persoalan ini, yang menarik untuk dipertanyakan adalah apakah imbalan bidadari itu faktual atau hanya sekedar ilustrasi?

Dalam literatur Islam, keindahan surga dinarasikan dengan sebuah tempat yang indah, penuh pepohonan, ada sungai yang mengalir, dan disediakan pula bidadari-bidadari cantik untuk para penghuninya. Gambaran ini tak jauh berbeda dengan pemandangan lokasi-lokasi wisata yang ada di Indonesia. Bagi orang Indonesia mungkin narasi seperti ini tidak terlalu fantastis, karena kita sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu.

Namun lain ceritanya jika ilustrasi ini disampaikan kepada orang Arab, dulu ketika al-Quran diturunkan negeri mereka masih gersang, tandus, dan panas. Sehingga, gambaran tentang pohon, sungai, plus bidadari cantik ialah ilustrasi paling pas untuk menggambarkan keindahan surga. Impian menikah dengan bidadari kelihatannya merupakan iming-iming yang sangat menggiurkan bagi masyarakat Arab yang masih kental dengan pernikahan antar sesama klan dan mahar tinggi.

Dari aspek bahasa, kata hur al-ain (yang diterjemahkan dengan bidadari oleh banyak penerjamah) terdiri dari dua kata, hur artinya wanita yang putih, sementara al-ain diartikan wanita yang memiliki mata bulat yang indah. Hal ini secara tidak langsung menunjukan bahwa wanita paling cantik menurut bangsa Arab waktu itu ialah wanita yang berkulit putih dan bermata bulat. Standar ini tentu sangat relatif, masing-masing daerah memiliki standar yang berbeda-beda mengenai kecantikan perempuan. [7]

Andaikan kisah bidadari ini faktual, pertanyaan lanjutannya, siapa yang berhak memilikinya? Siapa yang dimaksud dengan syahid dalam hadis di atas?

Syahid bisa diartikan dengan yang banyak disaksikan, sebab kelak Allah dan para malaikat akan menyaksikan mereka masuk surga dan mereka juga akan menyaksikan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepadanya. Sementara secara terminologis, syahid berati orang yang meninggal di jalan Allah karena membela agama Allah. [8]

Kemudian syahid juga identik dengan jihad,  yang berati mencurahkan kemampuan, usaha, dan seluruh tenaga. Berikutnya, kata jihad ini mengalami perkembangan makna. Jihad selalu diidentikkan dengan perperangan dan pertumpahan darah. Padahal bila diperhatikan dalam al-Quran dan hadis, jihad tidak hanya sekedar perang. Ibnu Umar mengatakan bahwa jihad adalah perbuatan baik (ihsan)[9] dan perbuatan baik tidak selalu berarti berperang. Apalagi melakukan aksi anarkisme dan menganggu ketertiban umum, semisal bom bunuh diri. Dalam hadis lain juga disebutkan, orang yang meninggal karena sakit perut pun dapat dikategorikan mati syahid.

Intinya, ada banyak tafsir dan penggunaan kata syahid dan jihad dalam al-Quran dan hadis. Sekali lagi, andaikan menikah bidadari dengan tujuh puluh bidadari itu benar, kita juga perlu bertanya ulang, apakah layak mereka yang membunuh orang atas nama agama itu mendapatkan fasilitas tersebut? Bukankah melakukan pembunuhan, perang, dan bom bunuh diri di saat negara dalam keadaan aman merupakan tindakan kriminal yang dilarang agama? Dalam sejarahnya pun Nabi SAW tidak pernah mendeklarasikan perang kecuali jika diserang terlebih dahulu dan demi menyelamatkan diri.

[1] Ali Musthafa Yaqub, Al-Turuq al-sahih fi fahmi al-sunnah al-nabawiyah, (Jakarta: Maktabah Daar al-Sunnah) hlm 11.

[2] Ibn Iraqi, al-mudallisin, (Daar al-wafa 1995) hlm 37

[3] Khatib al-baghdadi, tarikh al-baghdadi,(Bairut: Daar al-kutub al-ilmiyah. 1417)  jilid 7, hlm 128.

[4] Ibn hajar al-asqalani, tahdzib al-tahdzib, (India; dairah al-maarif al-nadzamiyah) juz 1, hlm 475-478

[5] Al-dzahabi, Siyar al-Nubala, (muassasah al-risalah) juz. 10, hlm.597

[6] Al-dzahabi, Siyar al-Nubala, juz. 10, hlm.598

[7] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, (Bairut: Daar al-Marifah, 1379) Juz 6, hlm.16. Abu al-Qasim al-Bagdadi, Fi Amali Ibn Basyran, hlm 327

[8] Ibn al-Atsir, al-Nihayah fi Gharib al-Hadis, (Daar Ibn al-Jauzi, 1421) hlm 319

[9] bn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, Juz 6, hlm 2

260total visits,1visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *