“Pak, Tolong Jangan Jadikan Aku Teroris”

Posted on Posted in Kontra-Ekstremisme Bandung, Kontra-Ekstremisme Brutal, Kontra-Radikalisme

Sabtu tanggal 8 Juli 2017 kemarin, sekitar pukul 15.30 WIB, Sebuah ledakan terjadi di sebuah rumah kontrakan di Kampung Kubang Bereum RT 7 RW 11 Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung.

“Tersangka merakit bom sejak tanggal 1 Juni 2017, membuat bom melihat dari internet dengan menggunakan Google,” kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus dalam keterangannya.

Sebelumnya, pada tanggal 24/05/2017, 5 orang warga termasuk pelaku,  tewas akibat  teror bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Suatu peristiwa yang menyentuh nurani, dimana seseorang melakukan pembunuhan terhadap orang lain disekitarnya bahkan yang tidak dikenalinya. Apa yang bisa diharapkan dari pribadi yang menistakan nilai-nilai kemanusiaan sehingga  tega menghabisi nyawa manusia dengan se-enaknya? Bagaimana perasaan ibunya yang melahirkan anak yang sampai hilang belas kasihnya.

Pada dasarnya manusia memang diciptakan dari tanah, namun jika ada segerombolan manusia yang hobinya membuat onar, pengerusakan atau bahkan sampai pembunuhan seperti para teroris ini, mungkin ia dicitpakan dari tanah sengketa. Sulit dibayangkan bagaimana sikap mereka terhadap  sesama mahluk Tuhan lainya seperti tumbuhan ataupun  hewan?

Peristiwa aksi terorisme selalu berujung pembunuhan atau pengerusakan oleh warga negara terhadap warga negara lainya. Siapapun dia, tak perlu lagi ditanya lagi apa keyakinananya ataupun aliranya, jika ia melakukan pembunuhan serta pengerusakan, usut dan tangkap.

Namun sialnya, aksi terorisme seperti ini selalu menggatasnamakan jihad membela islam. Tapi Apakah betul Islam mengajarkan kekerasan? NO.  Terserah pakai alasan apapun yang digunakan para teroris, saya akan tetap mengatakan Tuhan itu bersifat rahman rahim dan Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawakan amanat perasaudaraan dalam kehidupan. Oleh karena itu, segala bentuk tindak kekerasan dan terorisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Agama memang merupakan hal yang paling sensitif dan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Pengaruh pendidikan keagamaan yang fundamentalistik, baik di dalam maupun luar negeri,masih berpotensi menjadi kendaraan bagi proses radikalisasi, yang menjadikan tindakan terorisme merupakan aksi heroik pembelaan atas nama agama.

Selama ini penanganan teroris sebagian besar hanya di take over oleh pemerintah atau hanya menjadi progam pemerintah saja. Dimana ketika pemerintah mampu menangkap pelaku teroris, kita akan memberikan tepuk tangan, tapi ketika pemerintah belum mampu menangkap pelaku teroris dalam jangka waktu tertentu, kita kritik habis-habisan.

Sebagai warna negara, sudah seharusnya tidak membiarkan polri bekerja sendirian dalam mengatasi terorisme di indoneisa, namun seluruh elemen masyarakat bersatu untuk ikut ambil tanggung jawab dalam permasalahan ini. Karena tidak menutup kemungkinan saudara dekat atau tetangga kita bisa ikut dalam aksi terorisme ini.

Selain polri, para tokoh masyarakat haruslah berperan aktif dan kreatif dalam mencegah para pelaku terorisme ini. Karena tidak jarang pelaku menyembunyikan dirinya di sekitar masyarakat. Para tokoh masyarakat haruslah secara periodik dan konsisten mengecek penduduk yang ada di masyarakatnya, sehingga penduduk pendatang akan dapat dipantau dengan demikian tentunya para teroris akan kesulitan menyembunyikan diri. Selain itu para tokoh masyarakat yang paling dekat dengan masyarakat juga harus mampu untuk membuat pemahaman di masyarakat bahwa pelaku teror bukanlah para tamu yang harus diterima baik-baik. Pelaku teror adalah musuh bersama yang harus segera ditindak secara hukum tegas

Selanjutnya ialah tokoh agama juga harus bertanggung jawab atas umat yang mereka pimpin. Karena sebagaimana yang telah terjadi para aktor terorisme seringkali memasukkan ajarannya melalui menyamarkan ajaran agama. Karena bagaimana pun ajaran agama tidak mungkin mengajarkan cara-cara membunuh seseorang, memusuhi kelompok tertentu, dan berbuat bodoh membunuh diri. Oleh karena hal tersebutlah para tokoh-tokoh agama seharusnya mampu untuk bertindak lebih nyata dan lebih cepat daripada para tokoh-tokoh terorisme, sehingga masyarakat tidak dipengaruhi dan menerima terorisme sebagai hal yang benar dan heroik.

Jangan sampai tokoh-tokoh agama yang ada di masyarakat malah mendukung tindak aksi para terorisme, atau sampai menyebarkan pemikiran untuk memusuhi kelompok tertentu. tokoh agama yang telah lebih banyak belajar agama seharusnya lebih mampu untuk menciptakan rasa damai di hati masyarakat.

Oh iya satu pesan dari Kyai Ahmad Dahlan untuk kita semua, “Kasih sayang dan toleransi adalah kartu identitas orang Islam.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *