Terorisme dan Negara Gagal

Terorisme, sejatinya tidak selalu dikaitkan dengan agama. Terorisme adalah setiap hal yang berkaitan dengan teror, intimidasi yang bertujuan untuk membuat keresahan di kehidupan masyarakat, dengan tujuan yang berbeda beda.

Namun di Indonesia kita terlanjur berpikiran bahwa terorisme adalah hal yang berbau agama, hal ini disebabkan karena “kebetulan” para pelaku teror tersebut adalag orang yang mengaku beragama dan atas nama agama.

Dulu, untuk melakukan sebuah teror atau kejahatan terorisme diperlukan pengorbanan yang cukup besar, khususnya untuk mengajarkan ideologi terorisme tentu butuh pengorbanan yang cukup banyak. Harus membuat pertemuan, harus sembunyi-sembunyi, hingga tidak jarang kejar-kejaran dengan petugas keaman

Tapi sekarang, di jaman semuanya bisa di akses melalui internet, semua kini lebih mudah.

Melalui jejaring sosial, grup chatting hingga chanel video dengan mudahnya bisa di akses, bahkan baru-baru ini salah satu media chatting “telegram” harus rela di blokir demi sedikit memutus mata rantai jaringan terorisme ini.

Sebenarnya, cara ini seakan-akan menyatakan jika pemerintah sudah mencapai titik puncak pemikiran, pemerintah sudah kehabisan akal untuk menghentikan mata rantai ini, seperti seorang dokter yang sudah menyatakan bahwa kaki ini sakit, dan jalan satu-satunya adalah di potong.

Ya, meskipun terdapat pro dan kontra dalam hal itu, kita hanya bisa memberikan masukan hingga apresiasi kepada pemerintah yang sudah bersusah payah.

Namun, haruskah cara ini selalu di gunakan oleh pemerintah, dengan cara blokir sini, blokir sana. tentu hal ini harus dikaji ulang, jangan sampai negara kalah dengan ideologi terorisme.

Sejatinya, akar masalah dari semua ini adalah ketimpaangan sosial, ketidaksejahteraan warga hingga kegagalan negara dalam meratakan pembangunan. Belum lagi melihat tingkah laku para pejabat negara yang bisanya “ngomong” saja, banyak teori, retorika tapi nol kosong dalam aplikasi, mereka membuat sakit hati rakyat dengan berbagai fasilitas dan gaji, belum lagi kerja mereka yang hanya cepat ketika berhubungan dengan kepentingan diri sendiri, kelompoknya hingga para pengusung partainya.

Oleh sebab itulah masyarakat merasa muak dengan mereka, mengatas namakan Rakyat untuk memperkenyang nafsunya.

Dari sini lah bibit-bibit terorisme mulai muncul, di tambah lagi oknum-oknum yang memanfaatkan Bibit Terorisme ini demi kepentinganya, sehingga mereka di “bumbui” dengan paham-paham radikalisme, melalui ideologi kebencian mereka di didik hingga akhirnya mereka berani untuk menyatakan keradikalannya.

Apalagi, akses internet yang serba mudah. Untuk menjadi radikal dan teoris itu sangat mudah, dimulai dengan penanaman ideologi kebencian yang di balut dengan isu-isu sara, kemudian di pertentangkan dengan lawan politiknya, sehingga merasa dia yang paling benar dan lawan politiknya itu salah, berdosa dan layak di lawan.

Itulah yang tampak di dunia maya, masyarakatnya terbelah menjadi berbagi kubu yang sangat mudah di pertentangkan, dan bahayanya lagi adalah ada oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendulang suara, mereka lebih mementingkan perolehan suara demi kekuasaan di banding persatuan.

Oleh sebab itu, mari sebagai warga yang melek dunia maya, yang masih memperhatikan keberlangsungan Negara, yang masih berharap akan kesejahteraan bersama, kita sebarkan pesan-pesan damai, jadikan ini sebagi dakwah kita untuk mencapai kesejahteraan bangsa, sehingga bangsa yang terkenal ramah ini akan kembali menatap masa depan di bawah asuhan Ibu Pertiwi.

 

519total visits,3visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *