Terorisme, Ketakutan, dan Humus Apatisme Publik

TERORISME bertujuan menciptakan ketakutan. Melalui serangkaian aksi tindakan kekerasan, kelompok teror hendak menyasar rasa takut dalam ingatan kolektif publik. Rasa takut dengan sendirinya mengkontruksi publik guna menimbulkan sikap apatis dan rasa curiga antar sesama. Dengan kondisi ini, ketidakteraturan sosial akan dengan sangat mudah untuk diciptakan.

Sarjana lintas disiplin telah banyak memberikan analisisnya terkait dengan latar belakang sebuah aksi teror. Setidaknya terdapat beberapa alasan umum yang sering ditemukan menjadi latar belakangnya. Pertama, aksi teror adalah ekspresi dari sebuah pemahaman keagamaan eksklusif yang membenarkan tindakan kekerasan sebagai jalan perjuangan. Kedua, aksi teror sebagai bagian dari ekspresi politik kelompok tertentu dengan tujuan hendak mengganti kekuasaan dan pemerintahan yang sah dan berdaulat karena dianggap tidak adil, kelompok separatis masuk dalam kategori ini. Ketiga, aksi teror sebagai bagian dari upaya perebutan sumberdaya ekonomi, khususnya menyangkut perebutan sektor sumber daya alam dan sumber daya energi. Konflik di Timur Tengah dapat menjadi contohnya. Namun, dalam praktiknya, seringkali latar belakang kelompok teror memiliki beberapa alasan yang tidak tunggal dan saling terkait satu sama lain.

Untuk konteks Indonesia, serangkaian aksi terorisme yang dalam satu dasawarsa terakhir memperlihatkan eskalasinya ini, lebih didominasi oleh kelompok teror yang menunjukan ekspresi pemahaman keagamaan yang eksklusif. Kondisi ini tentu besar kemungkinannya, karena secara sosiologis, masyarakat Indonesia masih menempatkan agama menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Lalu, apakah terdapat linieritas antara meningkatnya semangat keberagamaan di satu sisi, dengan meningkatnya aksi terorisme di sisi yang lain? Jawabannya tentu tidak.

Sebagaimana sejarahnya, kekerasan menjadi bagian dari laju sejarah perkembangan agama tentu tidak bisa dibantah. Namun, secara doktrin, pemahaman keagamaan yang ekskusiflah yang menjadi akar masalahnya. Pemahaman keagamaan ini, sejatinya jauh dari pesan perdamaian dan kasih sayang sebagaimana ruh agama. Melihat perbedaan sebagai permusuhan, klaim kebenaran yang dipaksakan, dan tindakan kekerasan yang dibenarkan atas nama membela agama yang menjadi cikal bakal tindakan teror melalui pemahaman keagamaan.

Apatisme Publik
Selain melalui penanaman pemahaman keagamaan yang eksklusif, tumbuh suburya terorisme juga dimungkinkan karena apatisme publik. Apatisme sebagai sikap ketidakpedulian, adalah lingkungan yang mendukung bagi berkembangnya gerakan teror. Sebagai contoh, dalam banyak kasus, para pelaku teror bom akhir-akhir ini dalam kesehariannya tidak mampu terdeteksi oleh lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal, karena minimnya kepedulian dari masyarakat kondisi lingkungannya.

Dalam lingkup yang lebih luas, hari ini kita bisa lihat –terlebih dalam media sosial—ragam reaksi ketidakpercayaan publik kepada aparat penegak hukum. Pada taraf yang lebih ekstrim, ketidakpercayaan ini sudah mencapai taraf skeptis, bahkan sampai dengan kesimpulan aksi teror yang terjadi, sebagai bagian dari setting agenda yang dilakukan oleh penegak hukum sendiri.

Kondisi ini yang sejatinya sangat membahayakan. Apatisme publik tak ubahnya seperti humus bagi kelompok teror. Lahan subur dimana kelompok teror bisa dengan sangat nyaman tumbuh dan berkembang. Selain itu, apatisme publik adalah tantangan tersendiri bagi pemerintah. Upaya kontra radikalisme hanya mungkin berhasil dengan hadirnya rasa saling percaya antara negara dengan masyarakat. Sehingga, apa yang dirasakan sebagi masalah oleh negara, dirasakan pula oleh masyarakat. Dalam kondisi demikian, komunikasi dan sinergi antara negara dan masyarakat adalah sebuah prasyarat kontra radikalisme sebagai agenda dapat berhasil.[]

617total visits,3visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *