Keadilan Tanpa Sosialisme

Posted on

Dalam bukunya yang berjudul Anarchy, State, and Utopia tahun 1974, filsuf Harvard, Robert Nozick membahas konsep-konsep alternatif tentang hak milik dengan cara yang sangat jelas. Topik ini sering disebut “keadilan distributif,” tetapi istilah itu membuat bias diskusi. Seperti ditunjukkan Nozick, istilah ini, sebagaimana yang sering digunakan, menyiratkan bahwa ada semacam proses distribusi, yang mungkin berjalan secara tidak tepat dan mungkin ingin kita perbaiki. Tetapi dalam masyarakat yang bebas tidak ada pusat distribusi sumber daya. Milton Friedman menceritakan ketika ia berkunjung ke China pada 1980-an, ia ditanya oleh seorang menteri pemerintah, “Siapa di Amerika Serikat yang bertanggung jawab terhadap distribusi barang-barang?” Friedman hampir tidak bisa berkata-kata karena pertanyaan tersebut, tetapi dia harus menjelaskan bahwa dalam ekonomi pasar tidak ada orang atau komite “yang bertanggung jawab terhadap distribusi barang-barang.” Jutaan orang menghasilkan barang-barang—melalui sebuah jaringan kontrak yang kompleks dalam suatu ekonomi yang maju—dan kemudian memperdagangkan barang-barang tersebut. Seperti kata Nozick, “Apa yang setiap orang dapat, ia mendapatkannya dari orang-orang lain yang memberikannya padanya dalam pertukaran untuk sesuatu, atau sebagai hadiah.”

Nozick menunjukkan bahwa ada dua cara untuk melihat masalah keadilan dalam hak atas properti. Yang pertama adalah sejarah: Jika orang-orang memperoleh properti mereka secara adil, maka mereka berhak atas properti tersebut, dan akan menjadi kesalahan mengganggu dengan paksaan untuk meredistribusi properti tersebut. Pandangan lain adalah berdasarkan pola atau hasil akhir atau apa yang dia sebut sebagai “prinsip-prinsip irisan waktu saat ini.” Pandangan ini menyatakan, “keadilan dari suatu distribusi ditentukan oleh bagaimana hal-hal didistribusikan (siapa memiliki apa) yang dinilai oleh beberapa prinsip struktural distribusi yang adil.” Hal yang dipersoalkan oleh para pendukung distribusi yang berpola bukan apakah properti diambil secara adil, tetapi apakah pola distribusi dewasa ini sesuai dengan apa yang mereka anggap sebagai pola yang benar. Ada banyak jenis pola yang mungkin orang-orang suka: Orang-orang kulit putih seharusnya memiliki lebih banyak properti (atau uang atau apa saja) daripada orang-orang kulit hitam, orang-orang Kristen seharusnya memiliki lebih banyak daripada orang-orang Yahudi, orang-orang pintar seharusnya memiliki lebih banyak, orang-orang baik seharusnya memiliki lebih banyak, orang-orang seharusnya memiliki apa yang mereka butuhkan. Beberapa pandangan tersebut tidak menyenangkan. Sebagian lain mungkin dipegang oleh teman-teman Anda dan orang-orang baik lainnya. Tetapi kesamaan mereka semua adalah ini: Mereka berasumsi bahwa sebuah distribusi yang adil ditentukan oleh siapa yang memiliki apa, tanpa referensi tentang bagaimana suatu properti diperoleh. Pandangan yang paling mungkin dipegang oleh para kritikus kapitalisme hari ini tersebut, bagaimanapun, adalah bahwa setiap orang seharusnya memiliki properti yang sama, atau tidak seorang pun seharusnya memiliki lebih dari dua kali lipat dari orang lain, atau beberapa varian kesamaan yang lain. Jadi begitulah alternatif dari libertarianisme yang akan kita pertimbangkan.

Nozick menjabarkan teori hak atas keadilan dengan cara ini: Pertama, orang punya hak untuk memperoleh properti yang tak dimiliki. Itulah prinsip keadilan dalam akuisisi. Kedua, orang punya hak untuk memberikan properti mereka kepada orang lain, atau secara sukarela menukarnya dengan properti orang lain. Itu adalah prinsip keadilan dalam transfer. Dengan demikian,

Jika dunia sepenuhnya adil, definisi induktif berikut akan secara menyeluruh mencakup masalah keadilan dalam properti:

  1. Seseorang yang memperoleh suatu properti sesuai dengan prinsip keadilan dalam akuisisi berhak atas properti tersebut.
  2. Seseorang yang memperoleh suatu properti sesuai dengan prinsip keadilan dalam transfer, dari orang lain yang berhak atas properti tersebut, berhak atas properti tersebut.
  3. Tidak ada yang berhak atas suatu properti, kecuali dengan (mengulangi) penerapan 1 dan 2.

Prinsip lengkap dari keadilan distributif akan semata-mata berkata bahwa suatu distribusi adalah adil jika setiap orang berhak atas properti yang mereka miliki di bawah distribusi.

Suatu distribusi adalah adil hanya jika ia muncul dari suatu distribusi lain yang adil dengan cara-cara yang sah.

Begitu orang-orang memiliki properti (termasuk kerja dari pikiran dan tubuh mereka sendiri, yang mereka miliki secara inheren), mereka dapat secara sah menukarnya dengan orang lain untuk properti apa pun yang diperoleh secara sah oleh orang tersebut. Mereka mungkin juga memberikannya. Apa yang orang-orang tidak boleh lakukan ialah mengambil properti orang lain tanpa persetujuannya.

Nozick melanjutkan membahas masalah kesamaan dalam sebuah bagian yang terkenal dari bukunya yang berjudul “Bagaimana Kebebasan Mengacaukan Pola.” Anggaplah kita mulai dengan suatu masyarakat di mana kekayaan didistribusikan dengan cara yang menurut Anda terbaik. Mungkin cara itu adalah bahwa semua orang Kristen memiliki lebih banyak daripada semua orang Yahudi, atau bahwa para anggota Partai Komunis memiliki semua properti (kecuali untuk tubuh-tubuh individual kita), atau apa pun. Tapi mari kita berasumsi bahwa pola favorit Anda adalah bahwa semua orang memiliki sejumlah kekayaan yang sama, dan itulah yang kita jumpai dalam masyarakat hipotetis kita. Sekarang pertimbangkan satu saja peristiwa intervensi.

Anggaplah grup rock U2 membuat sebuah tur konser. Mereka menagih sepuluh dolar dari orang-orang untuk menyaksikan mereka bermain. Selama tur, satu juta orang datang ke konser mereka. Di akhir tur satu juta orang penonton konser sepuluh dolar lebih miskin dibandingkan sebelum mereka menonton konser, dan anggota U2 10 juta dollar lebih kaya dari orang lain. Inilah pertanyaannya: distribusi kekayaan sekarang tidak setara. Apakah itu tidak adil? Jika demikian, mengapa? Kita sepakat bahwa distribusi kekayaan di awal adalah adil hanya karena kita menetapkan distribusi sesuai pilihan Anda. Setiap orang pada awalnya mungkin berhak atas uang yang dimilikinya, dan karena itu berhak membelanjakannya sesuai pilihannya. Banyak orang menjalankan hak mereka, dan sekarang para musisi U2 lebih kaya daripada orang lain. Apakah itu salah?

Semua orang memilih membelanjakan uang mereka dengan cara itu. Mereka bisa saja membeli album Eminem atau sereal atau sejumlah eksemplar New York Review of Books. Mereka bisa saja memberi uang mereka kepada Gereja Salvation Army atau kepada Yayasan Habitat for Humanity. Jika mereka berhak atas uang yang mereka miliki pada awalnya, pasti mereka berhak membelanjakannya, dan dalam hal ini pola kekayaan distribusi akan berubah.

Apapun polanya, karena orang-orang yang berbeda memilih untuk membelanjakan uang mereka, dan memilih untuk menawarkan barang atau jasa mereka kepada orang lain untuk mendapatkan lebih banyak uang untuk dibelanjakan, pola akan terus berubah. Seseorang akan menemui U2 dan menawarkan untuk mempromosikan konser-konser mereka sebagai imbal balik untuk beberapa tiket masuk, atau untuk memproduksi album dan menjualnya. Orang lain akan memulai toko percetakan untuk mencetak tiket-tiket untuk konser mereka. Seperti kata Nozick, untuk mencegah ketaksamaan dalam kekayaan, Anda harus “melarang tindakan-tindakan kapitalis di antara orang-orang dewasa yang bersepakat.” Lalu dia menunjukkan bahwa tidak ada pola distribusi yang dapat dipertahankan “tanpa terus-menerus mengganggu kehidupan orang-orang.” Entah Anda harus terus-menerus menghentikan orang-orang dari menghabiskan uang sebagaimana pilihan-pilihan mereka, atau Anda harus terus menerus—atau secara berkala—mengambil uang dari mereka yang orang lain pilih untuk memberikan uangnya kepada mereka.

Sekarang mudah untuk berkata bahwa kita tidak keberatan musisi-musisi rock menjadi kaya. Tapi tentu saja saja prinsip yang sama berlaku untuk para kapitalis, bahkan miliarder. Jika Henry Ford menciptakan mobil yang orang-orang ingin membelinya, atau Steve Jobs menciptakan sebuah smartphone, atau Sam Walton menciptakan cara yang murah dan efisien untuk mendistribusikan barang-barang konsumsi, dan kita diizinkan untuk membelanjakan uang kita sesuai pilihan kita, maka mereka akan menjadi kaya. Untuk menghentikan itu, kita harus menghentikan orang-orang dewasa membelanjakan uang mereka sesuai pilihan mereka sendiri.

Tetapi bagaimana dengan anak-anak mereka? Apakah adil bahwa anak-anak dari mogul (orang-orang yang sangat kaya) akan terlahir untuk memperoleh kekayaan yang lebih besar, mungkin membawa kepada pendidikan yang lebih baik, daripada Anda atau saya? Pertanyaan ini menyalahpahami watak dari sebuah masyarakat yang kompleks. Dalam sebuah desa yang primitif, terdiri dari sejumlah orang yang mungkin adalah keluarga besar, adalah pantas untuk mendistribusikan barang-barang suku atas dasar “kepantasan” (fairness). Sebuah masyarakat yang beragam tak akan pernah menyetujui distribusi yang “pantas” atas barang-barang. Apa yang kita bisa sepakati adalah keadilan (justice)—bahwa orang-orang harus bisa menjaga apa yang mereka hasilkan. Itu tidak berarti bahwa putra Henry Ford memiliki sebuah “hak” untuk mewarisi kekayaan, tetapi Henry Ford memiliki sebuah hak untuk memperoleh kekayaan dan kemudian memberikannya kepada siapa pun yang dia pilih, termasuk anak-anaknya sendiri. Sebuah distribusi oleh otoritas pusat—bagaimana ayahmu membagikan tunjangannya, atau bagaimana seorang guru memberikan nilai—dapat dianggap pantas atau tidak pantas. Proses kompleks di mana jutaan orang menghasilkan berbagai hal dan menjual atau memberikan hal-hal tersebut kepada orang lain adalah sebuah jenis proses yang berbeda, dan tidak masuk akal untuk menilai proses itu dengan aturan-aturan kepantasan yang berlaku untuk sebuah kelompok kecil di bawah arahan pusat.

Menurut teori hak atas keadilan, orang-orang memiliki hak untuk bertukar properti yang mereka peroleh secara adil. Beberapa ideologi memiliki sebuah prinsip yang menyatakan “untuk masing-masing orang sesuai ——.” Bagi Marx, prinsip ini berbunyi “dari masing-masing orang sesuai kemampuannya; untuk masing-masing orang sesuai kebutuhannya.” Perhatikan bahwa Marx memisahkan produksi dan distribusi; di antara dua klausa tersebut terdapat beberapa otoritas yang memutuskan apa kemampuan Anda dan apa kebutuhan saya. Nozick menawarkan resep libertarian, yang mengintegrasikan produksi dan distribusi dalam sebuah sistem yang adil:

Dari masing-masing orang sesuai apa yang dia pilih untuk lakukan, untuk masing-masing orang sesuai apa yang dia perbuat untuk dirinya (mungkin dengan bantuan kontrak dari orang lain) dan apa yang orang lain pilih untuk perbuat untuknya dan [apa yang orang lain] pilih untuk memberikan kepadanya apa yang sebelumnya telah diberikan kepada mereka (di bawah prinsip ini) dan belum dihabiskan atau dialihkan.

Resep di atas tidak memiliki kekuatan slogan yang baik. Jadi Nozick menyimpulkannya sebagai berikut: Dari masing-masing saat mereka memilih, untuk masing-masing saat mereka dipilih.

Sumber: David Boaz, Chapter 3 “What Rights Do We Have?”, The Libertarian Mind (New York: First Simon & Schuster, 2015).

Terjemahkan oleh Nanang Sunandar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *