Masyarakat Sipil, Amal, dan Gotong Royong

Akan sulit untuk menggambarkan semua bentuk yang diambil masyarakat sipil dalam dunia yang kompleks. Hampir dua ratus tahun yang lalu, Alexis de Tocqueville menulis dalam Democracy in America, “Orang Amerika dari segala usia, segala kondisi, dan segala watak secara terus-menerus membentuk asosiasi-asosiasi … untuk memberikan hiburan, menyelenggarakan seminari, membangun penginapan, membangun gereja, menyebar buku, mengirim misionaris ke berbagai wilayah; dengan cara ini mereka menemukan rumah sakit, penjara, dan sekolah.”

Hari ini Anda bisa mengambil surat kabar harian apapun dan melihat jenis-jenis organisasi yang digambarkan di sana—kelompok-kelompok bisnis, asosiasi dagang, asosiasi etnis dan agama, kelompok lingkungan, grup musik dan teater, museum, badan amal, sekolah, dan banyak lagi. Pada hari saya mulai menulis bab ini, saya mengambil Washington Post. Selain semua kelompok yang biasa membentuk latar belakang untuk berita setiap hari, saya menemukan tiga cerita yang menonjol sebagai contoh keragaman masyarakat sipil.

Di halaman depan ada cerita tentang tiga keluarga pinggiran kota berpenghasilan ganda yang telah menciptakan klub jamuan makan malam di mana setiap keluarga memasak satu hidangan dalam seminggu untuk dibawa pulang oleh dua keluarga yang lain. Begitulah bagaimana keluarga-keluarga yang sibuk mendapat lebih banyak makanan rumahan daripada yang mereka bisa hasilkan sendiri, dalam sebuah dunia sibuk dari kehidupan sebuah keluarga dengan dua orang tua karir. Tidak betul-betul seperti sebuah komunitas, mungkin, ketika tiga keluarga duduk dan makan bersama, tetapi keluarga-keluarga dalam klub tersebut mengatakan mereka merasakan sensasi sebuah keluarga besar: “Kami berdiri di dapur masing-masing dan bercerita tentang anak-anak kami satu sama lain.”

Sebuah cerita yang lain membahas sebuah keluarga anggota Gereja Baptis yang saleh yang “mencoba untuk melindungi [enam anak] mereka dari godaan dan cobaan dunia sekuler, menciptakan sebuah kehidupan yang didiami oleh orang-orang dengan nilai-nilai dan keyakinan yang sama.” Sang Ibu menyekolahkan anak-anak di rumah, mencoba menyediakan berbagai buku, video, dan permainan yang sehat untuk mereka, dan mengajak mereka terlibat dengan anak-anak lain di gereja mereka, dalam jaringan homeschooling mereka, dan melalui minat putra sulung mereka dalam piano. Dalam beberapa hal mungkin tampak bahwa keluarga ini menarik diri mereka dari masyarakat sipil. Namun, saya percaya kita harus melihat kisah itu sebagai sebuah contoh dari keanekaragaman yang dimungkinkan oleh masyarakat sipil, bahkan bagi mereka yang ingin mengejar cara hidup yang berbeda dari yang diinginkan oleh kebanyakan orang di masyarakat yang lebih luas.

Akhirnya, cerita yang lain mengisahkan tentang sebuah kelompok bermain anak yang telah menghubungkan lima keluarga selama sepuluh tahun. Tidak hanya menyediakan teman bermain untuk anak-anak, tetapi dengan bergantian menjaga anak-anak mereka, ibu-ibu bisa saling memberikan “sedikit momen kemerdekaan yang berharga.” Penulis artikel itu menyimpulkan, “[Putriku] tidak dapat mengingat saat ketika dia tak mengenal teman-teman grup bermainnya, dan saya hampir tidak bisa mengingat ketika saya tidak tahu teman-teman saya. Ikatan antar teman bisa seperti itu. Dengan tidak adanya keluarga terdekat, mereka bisa menjadi yang paling bertahan dari semuanya.”

Amal dan Gotong Royong

Lembaga-lembaga amal adalah sebuah aspek penting dalam masyarakat sipil. Mereka adalah fokus kutipan dari Tocqueville di atas. Orang-orang memiliki keinginan alami untuk membantu yang kurang beruntung, dan mereka membentuk asosiasi-asosiasi dengan orang lain untuk melakukannya, mulai dari dapur umum dan bazar amal gereja setempat hingga organisasi-organisasi nasional dan internasional yang kompleks seperti United Way, the Salvation Army, Doctors Without Borders, dan Save the Children. Orang Amerika memberi lebih dari 300 miliar dolar untuk amal setiap tahun.

Kritik terhadap libertarianisme mengatakan, “Anda ingin menghapus program-program pemerintah yang penting dan tidak meletakkan apapun di tempat mereka.” Tetapi, ketiadaan program pemerintah yang memaksa bukanlah masalah. Ini adalah tentang pertumbuhan ekonomi, inisiatif individu dan kreativitas jutaan orang, dan ribuan asosiasi yang dibentuk untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Jenis analisis sosial apa yang mengamati sebuah masyarakat yang kompleks seperti Amerika Serikat dan tidak menemukan “apapun” kecuali apa yang dilakukan pemerintah?

Amal memainkan peran penting dalam masyarakat yang bebas. Tapi itu bukan jawaban atas pertanyaan bagaimana masyarakat yang bebas akan membantu orang miskin. Jawaban pertama untuk pertanyaan itu adalah dengan secara dramatis meningkatkan dan menyebarkan kekayaan. Ekonomi bebas meringankan dan bahkan menghilangkan kemiskinan. Berdasarkan standar sejarah, bahkan orang miskin di Amerika Serikat dan Eropa tergolong sangat kaya. Istana Versailles yang luar biasa tak memiliki fasilitas pipa pembuangan; pohon-pohon jeruk yang di tanam adalah upaya untuk menutupi bau busuk. Gorman Beauchamp dari Universitas Michigan menulis dalam American Scholar tentang keberlimpahan yang telah dihasilkan oleh pasar bebas dan teknologi modern:

“[Sebuah film] tentang kehidupan Permaisuri Wu dari China, sebanding dengan Catherine the Great,… dibuka dengan adegan seorang kurir pegunungan yang berkendara mati-matian untuk menyampaikan semacam paket yang sangat berharga kepada seorang kurir lain yang membawanya ke stasiun berikutnya untuk menyampaikan paket itu kepada kurir lain—dan seterusnya melintasi China Utara ke Peking dan akhirnya ke Istana Kekaisaran. Isi paket itu, yang dibawa dengan susah payah dari puncak gunung yang jauh, belakangan diketahui adalah es. Es untuk mendinginkan minuman kaisar.

Apa yang mengejutkan saya tentang adegan ini, saya ingat, adalah kesadaran bahwa saya bisa mendapatkan, kapan saja saya mau, semua es yang saya inginkan hanya dengan membuka pintu kulkas saya. Dalam hal ini, seperti banyak orang lain, kehidupan saya secara material—seorang pemuda tak penting yang hidup dengan gaji kecil—jelas lebih tinggi daripada yang kaisar yang berkuasa di China …

Saya lebih hangat di musim dingin (dengan pemanasan sentral) dan lebih dingin di musim panas (dengan pendingin udara) dari dia; Saya mendapatkan informasi yang lebih banyak dan lebih baik secara lebih cepat dan lebih andal dari dia; Saya bisa mencapai tujuan apapun dengan lebih cepat dan nyaman; Saya (tampaknya) hidup dalam waktu dengan sedikit rasa sakit dan mendapatkan perawatan medis yang lebih baik; Saya melihat lebih baik (dengan lensa bifokal) dan memiliki gigi yang lebih baik (karena fluoride) dan dokter gigi dengan Novocain; dan sementara dia mungkin memiliki burung emas untuk bernyanyi baginya—baiklah, itu adalah kaisar Bizantium—Aku punya Rosa Ponselle atau Ezio Pinza atau Billie Holiday atau Edith Piaf [untuk pembaca yang lebih muda, kita bisa tambahkan, atau Rolling Stones, atau Grateful Dead, atau Taylor Swift] atau yang lain dari ratusan artis yang suaranya saya miliki di rak saya dan dapat tampil hanya dengan menekan beberapa tombol.”

Kita seharusnya tak melupakan bahwa pasar bebas telah menghapus kemiskinan universal dan pekerjaan yang memberatkan. Namun, menurut standar kontemporer, tentu saja, jutaan orang Amerika hidup dalam kemiskinan yang kurang bersifat material ketimbang kematian spiritual—yang ditandai dengan perasaan putus asa. Jadi jawaban kedua untuk pertanyaan itu adalah bahwa pemerintah harus berhenti memerangkap orang-orang dalam kemiskinan dan membuat mereka sulit keluar dari perangkap. Berbagai pajak dan peraturan menghapus pekerjaan-pekerjaan, terutama bagi orang-orang yang kurang terampil, sedangkan sistem kesejahteraan memungkinkan seorang perempuan menjadi ibu yang tidak menikah dan mengalami ketergantungan jangka panjang.

Jawaban ketiga adalah bantuan gotong royong (mutual aid): orang bersatu tidak untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung, tetapi untuk membantu diri mereka sendiri ketika mengalami masa-masa sulit. Saya akan membahas pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan amal dalam bab-bab selanjutnya, tetapi di sini saya ingin fokus pada bantuan gotong royong. Bantuan gotong royong memiliki sejarah panjang—dan tidak hanya di Barat, dengan segala bentuknya. Berbagai guilda, serikat-serikat kerajinan awal, sebelum berubah menjadi monopolis yang mematikan seperti diketahui oleh setiap mahasiswa sejarah abad pertengahan, adalah asosiasi-asosiasi bantuan gotong royong dari orang-orang dalam perdagangan yang sama.

Dalam tradisi susu di Afrika, orang akan menyumbang sejumlah tertentu ke dalam sebuah wadah, dan ketika dana dalam wadah telah mencapai jumlah tertentu, anggota-anggota asosiasi akan mengambilnya secara bergantian. Seperti ditulis oleh ekonom dari Ghana, George Ayittey, “jika sistem susu yang ‘primitif’ itu diperkenalkan di Amerika, maka ia akan dinamakan credit union.” Atau jika diperkenalkan oleh orang Korea Amerika, maka ia mungkin disebut keh, sekelompok orang berkumpul sekali sebulan untuk makan malam, bersosialisasi, berbagi saran, dan menyumbang uang ke sebuah wadah umum yang diberikan setiap bulan kepada seorang peserta.

Sejarawan Judith M. Bennett menulis dalam Past and Present edisi Februari 1992 tentang tradisi meminum ales pada masa Inggris modern awal dan abad pertengahan, di mana orang-orang akan berkumpul untuk minum, menari, dan bermain, dan membayar di atas harga pasar untuk membantu seorang tetangga: ales gereja, untuk menaikkan uang untuk paroki; ales pengantin, untuk pasangan yang baru saja menikah; dan ales bantuan, untuk membantu mereka yang jatuh pada masa-masa sulit. Bennett menyebut ales sebagai contoh bagaimana orang-orang biasa “tidak hanya melihat ‘jenis yang lebih baik’ untuk bantuan, tetapi juga untuk saling menolong,” sebuah “institusi sosial di mana tetangga dan teman saling membantu di saat krisis atau membutuhkan.”

Tradisi ales menegaskan kembali solidaritas sosial di antara orang-orang yang bekerja. Mereka biasanya membutuhkan upaya aktif orang yang membutuhkan bantuan, dan pemberian kontribusi bergantung pada sejauh mana orang tersebut dianggap layak. Tidak seperti derma, ales melibatkan sebuah hubungan dalam kesetaraan: “Dengan menggabungkan sedekah dengan keramahan dan perdagangan, ales meminimalkan potensi perpecahan sosial dari kemiskinan dan amal.” Ada juga rasa gotong royong di antara “orang-orang yang secara beralasan bisa berharap bahwa mereka akan menyumbang untuk, dan mendapatkan manfaat dari, bantuan ales selama hidup mereka.”

Satu contoh bantuan gotong royong yang lebih modern—yang patut mendapat perhatian lebih dari para sarjana yang mempelajari kemiskinan, amal, dan kesejahteraan—adalah peran dari “masyarakat persaudaraan” (fraternal society) dan “masyarakat persahabatan” (friendly society). Dalam Reinventing Civil Society, sejarawan Inggris David Green menggambarkan cara-cara pekerja Inggris membentuk “masyarakat persaudaraan,” sebuah asosiasi mandiri yang saling menguntungkan. Individu bergabung dan berkontribusi kepada asosiasi, berjanji untuk saling membantu pada masa-masa sulit. Karena mereka adalah asosiasi gotong royong, pembayaran kepada anggota—uang sakit, perawatan medis, biaya pemakaman, dan tunjangan keselamatan—adalah “bukan masalah pemberian, tetapi hak yang diperoleh dari kontribusi rutin yang dibayarkan ke dana umum oleh setiap anggota dan dibenarkan oleh kewajiban untuk melakukan hal yang sama untuk anggota lain.”

Sebagian dari asosiasi ini beranggotakan warga dalam satu lingkungan, tetapi sebagian yang lain berkembang menjadi federasi nasional dengan ratusan ribu anggota dengan dana investasi yang besar. Pada 1801, diperkirakan terdapat 7.200 asosiasi di Inggris dengan 648.000 anggota laki-laki dewasa dari total populasi sembilan juta orang. Pada 1911, terdapat sembilan juta orang yang dilindungi oleh asuransi sukarela, yang mana lebih dari dua pertiga di antara mereka adalah anggota asosiasi-asosiasi “masyarakat persahabatan.” Beberapa nama dari asosiasi-asosiasi ini adalah the Manchester Unity of Oddfellows, the Ancient Order of Foresters, dan the Workingmen’s Conservative Friendly Society.

Masyarakat persahabatan memiliki tujuan ekonomi yang penting—untuk bersama-sama memberikan perlindungan atas penyakit, usia tua, dan kematian. Tetapi mereka melayani tujuan lain juga, seperti persekutuan, hiburan, dan perluasan jaringan kontak seseorang. Lebih penting lagi, anggota asosiasi ini merasa terikat bersama oleh cita-cita bersama. Tujuan utama adalah mempromosikan karakter yang baik. Asosiasi-asosiasi ini mengerti bahwa mengembangkan kebiasaan yang baik tidak mudah; banyak dari kita yang merasa terbantu dengan dukungan eksternal untuk niat baik kita. Gereja dan sinagog menyediakan itu untuk banyak orang; asosiasi Alcoholics Anonymous menyediakan layanan ini untuk satu aspek khusus karakter yang baik, yakni kesadaran. Manfaat yang lain dari masyarakat persahabatan adalah bahwa orang-orang yang terlibat mendapatkan pengalaman dalam menjalankan organisasi, peluang langka dalam masyarakat berbasis kelas di Inggris.

Sejarawan David Beito, dalam bukunya From Mutual Aid to the Welfare State, telah melakukan sebuah penelitian perintis serupa pada masyarakat-masyarakat persaudaraan di Amerika seperti Mason, Elks, Odd Fellows, dan Knights of Pythias. Beito menulis, “Hanya gereja yang menyaingi masyarakat persaudaraan dalam berperan sebagai institusi penyedia kesejahteraan sosial sebelum munculnya negara kesejahteraan. Pada 1920, sekitar 18 juta orang Amerika bergabung dengan masyarakat persaudaraan, hampir 30 persen dari semua orang dewasa.” Sebuah artikel tahun 1910 di Everybody’s Magazine menjelaskan, “Orang-orang kaya berasuransi di perusahaan-perusahaan besar untuk membuat perkebunan, orang-orang miskin berasuransi dalam persekutuan-persekutuan persaudaraan untuk membuat roti dan daging. Ini adalah sebuah asuransi yang berhadapan dengan kekurangan, panti sosial, amal dan kerendahan.” Perhatikan adanya keengganan atas amal: Orang-orang bergabung dengan masyarakat persaudaraan agar mereka bisa saling menyediakan kebutuhan mereka sendiri di waktu susah dan tidak dipaksa masuk ke dalam penghinaan untuk mengambil amal dari orang lain.

Awalnya, perlindungan asuransi yang diberikan masyarakat persaudaraan berpusat pada manfaat kematian. Pada awal abad ke-20, banyak persekutuan juga menawarkan asuransi atas penyakit atau kecelakaan. Aspek yang menarik dari asuransi persaudaraan ini adalah bagaimana mengatasi masalah kecurangan moral (moral hazard), yaitu risiko bahwa orang akan menyalahgunakan sistem asuransi.

Di hadapan lembaga-lembaga pemerintah atau perusahaan-perusahaan asuransi yang jauh, seorang individu mungkin tergoda untuk berpura-pura sakit, untuk mengklaim manfaat yang dibesar-besarkan untuk sebuah masalah kecil atau bahkan tidak ada. Namun, perasaan sebagai bagian dari komunitas dengan anggota-anggota persaudaraan yang lain dan keinginan seseorang untuk mendapatkan persetujuan dari teman-teman anggota persaudaraan mengurangi godaan untuk menipu.

Beito menduga bahwa itulah mengapa masyarakat persaudaraan “terus dominan di tengah penyakit pasar asuransi dalam kurun waktu yang lama setelah mereka kehilangan daya saing mereka dalam asuransi jiwa”—di mana berpura-pura sakit agak bermasalah. Pada 1910, asuransi kesehatan dari masyarakat persaudaraan sering mencakup pengobatan oleh dokter pondok, yang dikontrak dengan harga tetap untuk memberikan perawatan medis kepada semua anggota.

Kaum imigran membentuk banyak masyarakat persaudaraan, seperti Masyarakat Bangsa Slovakia, Serikat Persaudaraan Kroasia, Elang Polandia di Amerika, dan Serikat Masyarakat Amerika Serikat untuk Bangsa Slovakia Rusia. Ada juga kelompok-kelompok Yahudi seperti Cincin Arbeiter (Lingkaran Pekerja), Aliansi Yahudi Amerika, Dewan Nasional Perempuan Yahudi, Lembaga Bantuan Imigran Yahudi, dan banyak lagi. Pada 1918, terdapat lebih dari 150 ribu anggota asosiasi Ceko Amerika yang terbesar. Springfield, Illinois, dengan total penduduk berkebangsaan Italia sebanyak tiga ribu orang pada 1910, memiliki selusin asosiasi untuk masyarakat berkebangsaan Italia.

Dalam sebuah studi pada 1944 berjudul An American Dilemma, ekonom Swedia, Gunnar Myrdal menegaskan bahwa orang Afrika Amerika dari semua kelas, dibandingkan orang kulit putih, bahkan lebih mungkin bergabung dengan persekutuan persaudaraan seperti the Prince Hall Mason, the True Reformers, Grand United Order of Galilean Fishermen, dan asosiasi-asosiasi serupa seperti the Elks, the Odd Fellows, dan the Knights of Pythias. Myrdal memperkirakan bahwa lebih dari empat ribu asosiasi di Chicago dibentuk oleh 275 ribu orang kulit hitam di Chicago. Pada 1910, sosiolog Howard W. Odum memperkirakan bahwa di wilayah Selatan, “keanggotaan total masyarakat negro, membayar maupun tidak membayar, hampir sama dengan keanggotaan total gereja.” Masyarakat persaudaraan bagi orang kulit hitam, kata Odum, adalah “bagian vital dari kehidupan komunitas, sering kali pusatnya.”

Seperti asosiasi-asosiasi di Inggris, masyarakat persaudaraan di Amerika menekankan kode etik dan kewajiban timbal balik setiap anggota kepada anggota lain. Sejarawan Don H. Doyle, dalam The Social Order of a Frontier Community, menemukan bahwa kota kecil Jacksonville di Illinois, memiliki “lusinan … pondok-pondok persaudaraan, asosiasi-asosiasi masyarakat reformis, klub-klub sastra, dan perusahaan-perusahaan pemadam kebakaran” dan pondok-pondok tersebut memberlakukan “disiplin moral yang luas yang mempengaruhi perilaku pribadi secara umum dan kesederhanaan secara khusus, hal-hal yang terkait erat dengan masalah yang sangat penting untuk mendapatkan kredit.”

Kelompok-kelompok persahabatan dan solidaritas mendorong para anggota untuk tidak mengklaim manfaat tanpa alasan yang baik, tetapi mereka juga memiliki aturan dan praktik untuk memastikan kepatuhan pada mereka. Aturan-aturan dari Federasi Penambang Barat yang berorientasi sosialis menolak memberikan manfaat bagi anggota ketika “penyakit atau kecelakaan itu disebabkan oleh kehilangan kendali diri, kelalaian atau perilaku tak bermoral.” The Sojourna Lodge of the House of Ruth, organisasi sukarela perempuan kulit hitam terbesar di awal abad ini, menyaratkan para anggota untuk menyajikan pernyataan medis dari dokter untuk mengklaim manfaat penyakit dan juga memiliki komite baik untuk dukungan penyakit maupun memeriksa anggota yang sakit.

Asosiasi-asosiasi persaudaraan juga membantu anggota mereka untuk meningkatkan mobilitas sosial. Beberapa masyarakat persaudaraan Inggris yang memiliki banyak cabang menyediakan tempat bagi para anggota untuk menetap ketika mereka pergi kota-kota lain untuk mencari pekerjaan. Doyle menemukan bahwa “untuk anggota transit, kartu transfer dari asosiasi Odd Fellows atau Mason lebih dari sekadar tiket untuk masuk ke pondok lain. Kartu itu juga berfungsi sebagai sertifikasi portabel atas status dan reputasi yang dimiliki seseorang di asosiasi sebelumnya, yang juga memberinya akses ke jaringan kontak bisnis dan sosial yang baru.”

Sebuah contoh yang bagus untuk bantuan gotong royong di zaman kita adalah sistem kesejahteraan swasta yang dijalankan Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, Mormon. Seperti dilaporkan Naomi Schaefer Riley dalam Majalah Philanthropy, Mormon biasanya membayarkan perpuluhan, atau memberikan 10 persen dari penghasilan mereka, kepada gereja. Selain itu, mereka didorong untuk menyumbang dalam bentuk sebuah “penawaran cepat,” dengan cara tidak menerima dua kali makan dalam minggu dan menyumbangkan uang yang akan mereka habiskan untuk makanan tersebut kepada sistem kesejahteraan swasta gereja yang besar. Riley menulis:

“Semangat kemurahan hati itu mendanai sistem kesejahteraan swasta yang besar, yang melayani ratusan ribuan orang setiap tahun. Sistem kesejahteraan ini melayani sebagian besar—​tetapi tidak secara eksklusif—sesama Orang Suci Zaman Akhir yang membutuhkan. Layanan ini ditujukan untuk mereka yang kehilangan pekerjaan, yang menderita sakit, atau yang keluarganya sedang mengalami beberapa jenis kesulitan lain. Kemandirian adalah inti dari misinya — baik untuk pemberi dan penerima.”

Anggota-anggota yang membutuhkan dapat menemui uskup setempat mereka, yang bukan seorang pendeta profesional, tetapi seorang pemimpin relawan, dan meminta bantuan. Selain memberikan uang atau makanan dari gudang-gudang gereja (Latter-day Saints, LDS), uskup mungkin akan membantu anggota gereja dengan konseling, penempatan pekerjaan, penganggaran, atau apa pun yang diperlukan anggota untuk bisa kembali berswasembada. Sistem ini bermula pada masa Depresi Besar. Heber J. Grant, presiden ketujuh dari gereja ini, menjelaskan pada 1936, “Tujuan utama kami adalah untuk menyiapkan, sejauh yang mungkin dilakukan, sebuah sistem di mana kutukan kemalasan akan hilang, kejahatan dari sedekah dihapuskan, dan kemerdekaan, industri, penghematan, dan harga diri dibangun sekali lagi dalam masyarakat kita. Tujuan Gereja adalah menolong orang-orang untuk menolong diri mereka sendiri.”

Kritik sering menegaskan bahwa solusi libertarian untuk masalah sosial adalah fantastis. “Hilangkan jaring pengaman pemerintah, dan semoga saja kelompok-kelompok gereja, amal, dan bantuan gotong royong akan berkembang dan mengisi kesenjangan?” Ada dua jawaban. Ya, kelompok-kelompok ini akan mengambil peluang [untuk berkembang dan mengisi kesenjangan]; mereka selalu memiliki peluang ini. Tetapi yang lebih penting, keberadaan jaring pengaman pemerintah dengan pajak besar yang mendukungnya selama ini telah menekan upaya-upaya kelompok-kelompok tersebut untuk berkembang. Bentuk-bentuk bantuan gotong royong tak terhitung jumlahnya, mulai dari kelompok bermain dan klub perjamuan hingga asosiasi perdagangan jam tangan dan pengawas kejahatan lingkungan. Bentuk-bentuk tertentu masyarakat bantuan gotong royong dan beberapa badan amal telah menurun secara dramatis karena ekspansi pemerintah.

Sumber:

David Boaz, Chapter 7, “Civil Society” dalam The Libertarian Mind, (New York: First Simon & Schuster: 2015). Terjemahan oleh Nanang Sunandar.

2755total visits,8visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *