Kebebasan Sipil dan Kebebasan PolitikPelatihan

Pelatihan Advokasi Kebebasan dan HAM di Bandung (Oktober 2018)

Sejak diumumkannya pendaftaran, 13 Oktober 2018, sekitar 50 mahasiswa dan aktivis muda mendaftar via online untuk mengikuti kegiatan Training Advokasi Kebebasan dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Bandung yang diadakan oleh Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks) bekerjasama dengan Freidrich Norman Foundation (FNF).

Panitiapun melakukan seleksi dari semua pendaftar untuk menentukan 25 peserta terpilih mengikuti kegiatan yang digelar pada Kamis-Sabtu, 18-20 Oktober 2018 di Hotel Shakti Bandung.

Kegiatan dibuka oleh Sukron Hadi (fasilitator dari Indeks) pada Kamis 18 Oktober pukul 14.00, yang dilanjutkan sesi Perkenalan dan Kontrak Belajar. Di tengah sesiperkenalan dan kontrak belajar, Putu Shinta (Program Oficcer FNF) memberikan sambutan kepada peserta kegiatan dan mengucapkan selamat kepada 25 peserta terpilih dan menyampaikan tujuan diadakan kegiatan ini, yakni: untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan komitmen mahasiswa dan aktivis muda dalam promosi dan advokasi kebebasan dalam rangka penegakkan HAM di Indonesia.

Pada sesi selanjutnya, pukul 16.00, Nanang Sunandar (fasilitator dari Indeks) mengajak peserta untuk mengenal, mendalami dan berdiskusi tentang konsep kebebasan dan hak. Tujuan dari sesi ini adalah mengajak pesrta untuk mengetahui konsep dasar tentang kebebasan dan hak sebagai landasan teoritis dan filosofis HAM.

Materi HAM sendiri diawali dengan sesi “Sejarah dan Perkembangan HAM.” Pada sesi ini, Sukron Hadi menyampaikan sejarah konsep HAM sejak Magna Carta (abad 13 M) sampai Deklari Universal HAM pada 10 Desember 1948. Sejarah HAM sejak, menurut Sukron merupakan sejarah relasi antara individu-individu/warga negara dengan penguasa, yang menuntut perlindungan hak-hak dasar bagi individu dengan jalan melakukan pembatasan kekuasaan negara yang absolut dan dengan supremasi hukum.

Pada hari kedua, pukul 08.30, narasumber Usman Hamid (Amnesty Internasional) menyampaikan materi “Instrumen-instrumen Pokok Hak Asasi Manusia Internasional.” Pada pukul 13.30, narasumber kedua Atikah Nuraini (AJAR/Asian Justice and Human Rights) membawakan sesi “Penegakkan Hak Asasi Manusia dalam Peraturan Perundang-undangan dan Implementasinya di Indonesia.” Pada sesi ini Atikah memaparkan sejarah HAM di Indonesia hingga asas legalitasnya, sejak sidang BPUPKI hingga pasca-reformasi di mana Indonesia banyak merativikasi instrument-instrumen HAM.

Selanjutnya, pada pukul 16.00 WIB, narasumber ketiga, Haris Azhar (Lokataru Foundation) menyampaikan materi terkait skill, yakni advokasi HAM. Pada Sesi ini Haris menyampaikan pengertian, cakupan, teknik  dan bentuk advokasi HAM. Menurutnya bentuk advokasi HAM berupa investigasi/riset, legal action atau mekanisme hukum, kampanye. lobby, penguatan/pendampingan  korban dan penguatan jaringan.

Sesi advokasi  ini dilanjutkan dengan “Aktivitas: Pelanggaran Kebebasan & Masalah-masalah Hak Asasi Manusia di Indonesia.” Nanang Sunandar membagi peserta menjadi empat kelompok untuk menganalisis kasus dan penanganan (advokasi) apa yang dilakukan. Masing-masing hasil kerja kelompok ini dipresentasikan oleh ketua kelompoknya.

Pada hari ketiga, Sabtu, 20 Oktober, narasumber keempat Vincent Ricardo (youtuber/student liberties) memberikan materi tentang kampanye kebebasan dan HAM di media sosial. Vincent memprovokasi peserta tentang betapa efektifnya kampanye ide ataup[un nilai di media sosial atau valam hal ini youtube. Menurutnya, jika kita turun ke jalan untuk menyuarakan sesuatu, paling banter yang mendengar aspirasi kita hanyalah tak sampai banyak.

Namun jika kita menyampaikan suara kita melalu video, kemungkinan besar bisa dilihat oleh ribuan hingga ratusan ribu pengguna internet. Ia menjelaskan bagiaman supaya video kita bisa menarik dan mengundang viewer untuk menonton dan menyebarnya. Ia juga menjabarkan bagaimana memproduksi video bagi para pemula.

Pada sesi terakhir sebelum penutupan, yakni sesi Rencana Tindak Lanjut, 25 peserta menyampaikan bahwa dari materi yang mereka ikuti mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru yang berharga tapi juga menumbuhkan komitmen mereka terkait advokasi kebebasan dan HAM.

Misalnya, Yurisman Haidir, peserta dari UIN Jakrata selama ini begitu yakin jika HAM itu bertentangan dengan Islam, namun setelah mengikuti kegiatan ini ia tercerahkan bahwa HAM justru mendukung semangat Islam yang melindungi hak-hak dasasr manusia. bahkan ia terdorong untuk mengkampanyekan HAM melalui pendidikan. Nurul Alfiani, mahasiswi UIN Bandung, yang sebelumnya bersikap apatis pada bentuk-bentuk advokasi, menjadi terdorong untuk menyuarakan HAM melalui media sosial. Hal itu di samping karena ia tergerak karena mendapatkan materi-materi dasar HAM, juga karena ia tertarik untuk melakukan advokasi melalui media sosial, yakni youtube. Senada dengan Nurul, Dena Qothrunnida mahasiswi UIN Bandung, karena kegiatan ini ia tergerak untuk memanfaatkan chanel youtube-nya yang sudah memiliki subriceber 2000-an bukan hanya untuk aktivitas promosi produk-produk kecantikan yang selama ini ia lakukan, namun juga untuk mengkampanyekan kebebasan, HAM dan advokasi HAM.

Leave a Reply