Kebebasan Ekonomi: Globalisasi dan Isu-isu Kontemporer

PONTIANAK – Friedrich Naumann Foundation (FNF) Indonesia bersama Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (INDEKS) serta didukung oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia telah melaksanakan Pelatihan Kebebasan Ekonomi di Pontianak pada Jumat-Minggu, 26-27 April 2024.

Sejak 2018, FNF Indonesia bersama lembaga INDEKS berkomitmen dan konsisten mewadahi masyarakat umum, aktivis, pelaku ekonomi, akademisi, jurnalis dan mahasiswa untuk belajar mengenai kebebasan ekonomi yang diadakan di sejumlah kota di Indonesia.

Seperti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan FNF Indonesia dan lembaga INDEKS sebelumnya, antusias pendaftar cukup tinggi. Terdapat 100 pendaftar yang mengisi form pendaftaran kegiatan, namun kuota yang tersedia hanya untuk 24 orang peserta terpilih berdasarkan seleksi yang objektif.

Sambutan pertama ialah perwakilan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia. Dalam sambutannya, Yusuf Romli mengatakan bahwa kita akan selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat, terutama isu-isu membangun seperti ekonomi dan hak asasi manusia.

“Kita bersama FNF Indonesia & lembaga INDEKS, bekerja sama untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang positif seperti ekonomi dan hak asasi manusia,” ujar Romli.

Ganes Woro Retnani (Program Officer FNF Indonesia) memberikan materi tentang “The Basic of Economic Freedom”

Selanjutnya materi pengantar yang disampaikan oleh Ganes Woro Retnani (Program Officer FNF Indonesia), Retnani mengutip Libertarian Arthur Brooks bahwa kebebasan ekonomi adalah sebuah konsep di mana individu memiliki hak mendasar atas kepemilikan pribadi, kemampuan untuk mendapatkan keuntungan dari ide dan tenaga mereka sendiri, individu secara sukarela menghasilkan perdagangan dan mengkonsumsi barang dan jasa di pasar bebas tanpa campur tangan pemerintah yang besar.

“Sebagai individu, kita berhak untuk kepemilikan atas properti kita, dan kita berhak untuk mendapatkan keuntungan dari ide serta tenaga yang kita keluarkan secara sukarela”, papar Retnani.

Selain itu, Retnani juga mengatakan bahwa pelatihan ini upaya kita untuk merespon isu-isu kontemporer di dunia maupun di Indonesia. Sehingga kita mengharapkan teman-teman dapat membagikan pengalaman-pengalamannya seputar kebebasan ekonomi.

Nanang Sunandar (Lead Trainer)

Nanang Sunandar (Lead Trainer dari Lembaga INDEKS) dalam sesi selanjutnya, mengungkapkan bahwa tujuan pelatihan ini untuk memahami pengertian proses ekonomi dan permasalahannya; memahami hubungan antara ekonomi dan kebebasan; memahami pentingnya kebebasan ekonomi dan prinsip-prinsipnya.

Sunandar mengajak peserta untuk menyadari betapa pentingnya aktivitas ekonomi. Sebab, semua kegiatan yang kita lakukan dengan imbalan uang atau barang berharga merupakan aktivitas ekonomi dan setiap manusia melakukan aktivitas ekonomi untuk memenuhi pelbagai kebutuhan dalam bertahan serta mengembangkan hidupnya.

“Karena manusia adalah homo economicus, mereka juga melakukan aktivitas ekonomi, seperti memproduksi, mengkonsumsi, dan saling bertukar barang maupun jasa. Setiap manusia melakukan aktivitas ekonomi untuk memenuhi pelbagai kebutuhan hidup dan pertumbuhan mereka. Kebutuhan ekonomi muncul sebagai akibat dari keterbatasan ketersediaan sumber daya ekonomi,” ungkap Sunandar.

Sunandar menggarisbawahi bahwa, terdapat tiga prinsip kebebasan individu menurut The Heritage Foundation. Pertama, pemberdayaan individu; setiap orang mengendalikan hasil kerja dan inisiatifnya sendiri. Individu diberdayakan—karena memang berhak untuk mengejar impian mereka melalui pilihan bebas mereka sendiri. Kedua, tidak adanya diskriminasi; keberhasilan dan kegagalan individu berdasarkan usaha dan kemampuan mereka, bukan karena diuntungkan atau dirugikan oleh diskriminasi berdasarkan latar belakang ras, etnis, jenis kelamin, kelas ekonomi, koneksi keluarga, atau faktor-faktor lain yang tidak terkait dengan prestasi individu. Ketiga, kompetisi terbuka; kekuatan pengambilan keputusan ekonomi tersebar luas, alokasi sumber daya untuk produksi dan konsumsi didasarkan pada persaingan terbuka, sehingga setiap individu atau perusahaan mendapat kesempatan yang adil untuk berhasil.

Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten dalam isu kebebasan ekonomi seperti Poltak Hotradero (Ekonom Senior/Penasihat Bisnis Bursa Efek Indonesia) yang menyampaikan materi “Dunia dalam Perspektif Kebebasan Ekonomi” dan Sukron Hadi (Penulis Buku Kebebasan Ekonomi dan Hak Asasi Manusia) yang menyampaikan materi “Kebebasan Ekonomi sebagai Hak Asasi Manusia”.

Isu-isu kontemporer

Terdapat satu hal yang membedakan pelatihan kebebasan ekonomi kali ini dengan pelatihan-pelatihan serupa yang diadakan oleh FNF Indonesia dan Lembaga INDEKS. Spektrum pelatihan kali ini bukan hanya pada teori, tetapi juga pada isu-isu kontemporer.

Narasumber: Poltak Hotradero (Ekonom Senior/Penasihat Bisnis Bursa Efek Indonesia)

Poltak Hotradero membahas kebebasan ekonomi perspektif global. Hotradero bercerita tentang cara kerja ekonomi dunia. Menurut Hotradero, kebebasan ekonomi merujuk pada hak dasar setiap manusia untuk mengendalikan hasil kerja dan milik mereka sendiri. Baginya, dalam sebuah ekonomi yang bebas; setiap individu bebas bekerja, memilih pekerjaan, berproduksi, mengkonsumsi, berinvestasi dalam pelbagai cara yang dikehendaki. Hotradero menekankan bahwa negara harus menjamin, bukan menghalangi.

“Kebebasan ekonomi merujuk pada hak dasar setiap manusia untuk mengendalikan hasil kerja dan milik mereka sendiri. Dalam sebuah ekonomi yang bebas; setiap individu bebas bekerja, memilih pekerjaan, berproduksi, mengkonsumsi, berinvestasi dalam pelbagai cara yang dikehendaki. Negara harus menjamin, bukan menghalangi,” ungkap Hotradero.

Hotradero juga menjelaskan terdapat empat komponen penting kebebasan ekonomi menurut Fraser Institute. Pertama, pilihan pribadi; penting dikarenakan setiap orang berhak atas apa yang ingin dilakukannya termasuk pada pilihannya. Kedua, kerelaan berniaga berdasarkan mekanisme pasar; dalam setiap transaksi pada mekanisme yang dibuat oleh pasar, setiap individu harus berdasarkan kesukarelaan tanpa ada paksaan. Ketiga, kebebasan untuk bersaing dalam pasar; tidak boleh ada larangan atau intervensi dari siapa pun, termasuk negara. Keempat, perlindungan terhadap individu dan hak miliknya; ini mencegah adanya otoritas yang berkuasa yang mencoba mendiskriminasi pasar bebas.

Dalam studi kasusnya, Hotradero memberikan contoh di Cina. Hotradero memberi sub judul Cina, Akses Pasar, dan Kemakmuran, revolusi yang dimulai oleh 18 petani di desa Xiaogang, provinsi Anhui. Revolusi disebabkan oleh kemiskinan dan ketidakadilan yang merata. Mirisnya, kekayaan alam penduduk desa diatur oleh pemerintah komunis Mao Zedong. Revolusi tersebut memberikan dampak, salah satunya ialah pembagian secara merata lahan pertanian yang sebelumnya dikuasai oleh pemerintahan komunis.

Narasumber: Sukron Hadi (Penulis Buku Kebebasan Ekonomi dan Hak Asasi Manusia)

Narasumber selanjutnya, Sukron Hadi, memberikan banyak kasus dalam masyarakat berbentuk cuplikan berita. Hadi mengajak peserta agar mampu menganalisis fenomena-fenomena kontemporer tentang pelanggaran kebebasan ekonomi dan hak asasi manusia.

“Teman-teman, silahkan lihat, banyak sekali fenomena terkini tentang pelanggaran kebebasan ekonomi dan hak asasi manusia, mari kita analisis mana yang termasuk pelanggaran dan mana yang bukan,” ungkap Hadi.

Hadi juga mengingatkan bahwa kebebasan ekonomi dengan hak asasi manusia saling berkaitan. Dalam pasal 17 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), terdapat kaitan erat dengan kebebasan ekonomi.

“Pada pasal 17, terdapat kaitan erat dengan kebebasan ekonomi. Bunyinya, (1) Setiap orang berhak memiliki harta, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. (2) Tidak seorang pun boleh dirampas harta miliknya dengan semena-mena,” papar Hadi.

Pelatihan kebebasan ekonomi ini juga menyoroti isu-isu kontemporer. Peserta diarahkan untuk menonton film I, Pencil dan Bitcoin: Βeyond the Bubble. Dalam film tersebut, fasilitator mengajak peserta untuk menganalisa bagaimana pasar bebas bekerja dan bagaimana perkembangan keuangan digital. Selain itu, terdapat sesi lainnya yang tak kalah menarik, seperti reading club dan fishing game.

Manfaat pelatihan bagi peserta

Salah satu pertanyaan dalam lembar evaluasi itu adalah, “Dibandingkan sebelum Anda mengikuti pelatihan ini, seberapa besar manfaat pelatihan ini terhadap (1) peningkatan pengetahuan Anda tentang kebebasan ekonomi? (2) pengingkatan ketrampilan Anda dalam advokasi kebebasan ekonomi? (3) peningkatan komitmen Anda untuk untuk terlibat dalam advokasi kebebasan ekonomi?

Bagaimana hasilnya? Enam belas peserta menilai bahwa kegiatan ini memiliki dampak “sangat besar” dalam peningkatan pengetahuan mereka terkait kebebasan ekonomi. Tujuh peserta menjawab “besar” dampaknya. Adapun satu peserta tidak menjawab.

Survei pemaham peserta terhadap materi yang diberikan saat kegiatan (Lembaga INDEKS, 2024)

Respons pada pertanyaan kedua, tiga belas peserta menjawab “sangat besar” dampaknya bagi mereka terhadap peningkatan keterampilan dalam advokasi kebebasan ekonomi, setelah mereka tiga hari mengikuti kegiatan pelatihan ini. Adapun delapan peserta menjawab ”besar” dampaknya, dua peserta menjawab ”kecil” dampaknya dan satu peserta tidak menjawab.

Menjawab pertanyaan selanjutnya, terdapat tiga belas peserta merasa bahwa kegiatan tiga hari ini memiliki dampak “sangat besar” dalam meningkatkan komitmen mereka untuk terlibat dalam advokasi kebebasan ekonomi.  Adapun sembilan peserta menjawab “besar” dampaknya, satu peserta menjawab ”kecil”, dan satu peserta tidak menjawab.

Selain evaluasi, terdapat pula pretest dan posttest. Pada saat pretest dari 24 partisipan, hanya tujuh yang mendapatkan nilai sesuai standar minimum kompetensi atau lebih. Kemudian posttest, 22 dari 24 pastisipan mendapat nilai sesuai standar minimum kompetensi atau lebih.

Program tersebut didampingi lima fasilitator yaitu Nanang Sunandar (Lead Trainer/ Ketua Perkumpulan Lembaga INDEKS), Ganes Woro Retnani (Co-Trainer/Program Officer FNF Indonesia), Mathelda Christy (Co-Trainer/Manajer Program Lembaga INDEKS), Dedi Irawan (Co-Trainer/Staf Program Lembaga INDEKS), dan Athena Diva (Co-Trainer/Staf Media Lembaga INDEKS).

 

Ditulis oleh:

Dedi Irawan, Staf Program Lembaga INDEKS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *