Artikel

Menghidupkan Harmoni dalam Keberagamaan dengan Living Values Education

Keberagaman adalah fakta yang melekat dalam identitas keindonesiaan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, atmosfer anti-keberagaman cenderung meningkat seiring dinamika politik yang mengarah pada polarisasi masyarakat. Polarisasi saat ini masih begitu terasa, terutama di lini masa media sosial, khususnya yang terkait sentimen agama dan etnis. Untuk itu, diperlukan sebuah metode pendidikan yang dapat mendukung dan menguatkan kondisi harmoni dalam keberagamaan.

Living Values Education (LVE) dianggap menjadi salah satu metode dan program pendidikan yang tepat untuk mendidik anak-anak dan generasi muda agar lebih dapat menghargai perbedaan. LVE merupakan program pendidikan yang menawarkan pelatihan dan metodologi praktis bagi para pendidik, fasilitator, pekerja sosial, orang tua dan pendamping anak untuk membantu mereka menyediakan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda menggali serta mengembangkan nilai-nilai universal seperti damai, menghargai, kasih sayang, kerjasama, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati,tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, kebebasan dan persatuan

Dalam diskusi Metode Pendidikan Nilai untuk Harmoni dalam Keberagaman pada Kamis, 15 Juli 2021, Taka Gani (Koordininator Living Values Education)—salah satu narasumber diskusi mengatakan, program LVE telah diaplikasikan di banyak lembaga pendidikan dan lembaga sosial di lebih dari 100 negara. Selain digunakan dalam pendidikan formal dan informal, Living Values Education juga memiliki materi khusus untuk anak korban perang atau konflik, anak korban gempa bumi, anak jalanan, anak dalam rehabilitasi narkoba dan anak dalam penjara remaja.

LVE percaya bahwa nilai-nilai universal dan kualitas positif itu sudah ada dalam setiap orang termasuk pada orang-orang yang intoleran dan anti-keberagaman. “Nilai-nilai universal itu seperti benih  dalam diri setiap orang, yang kadang tertutup oleh pengalaman yang menyakitkan. Untuk itu LVE menggunakan kata ‘menggali’. Menggali untuk menumbuhkan nilai-nilai positif karena nilai-nilai sudah ada dalam diri setiap orang,” kata Taka.

LVE memiliki pendangan dasar bahwa setiap anak, termasuk orang dewasa, memiliki lima kebutuhan emosi dasar yang harus dipenuhi, baik dalam lingkungan belajar, rumah, masyarakat, ataupun di mana pun mereka berada.

“Setiap anak butuh merasa aman, merasa bernilai, merasa dihargai, merasa dipahami, dan merasa dicintai,” kata Iqbal Hasanuddin (Traineer LVE dan Dosen Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), narasumber kedua diskusi.

Iqbal melanjutkan, jika salah satu atau beberapa dari lima kebutuhan dasar itu tidak dipenuhi, maka akan muncul perasaan-perasaan negatif seperti merasa tidak aman atau takut, tidak dihargai, merasa tidak bernilai, dan emosi negatif lainnya. Emosi-emosi negatif inilah yang menjadi bahan bakar anak, remaja ataupun orang dewasa untuk bersikap dan bertindak negatif seperti intoleran, marah hingga berkelahi, malu berbicara, dan sebagainya.

“Sebaliknya, jika kita menciptakan kultur sekolah yang didasarkan pada cinta, pemahaman, pengistimewaan, penghargaan, rasa aman melalui tindakan, aturan, metode pembelajaran, dsb. yang dikembangkan oleh para guru dan staf di lingkungan sekolah maka akan membuat anak-anak terpenuhi lima kebutuhan dasarnya,” terang Iqbal.

Narasumber ketiga, Bahrissalim (Direktur Madrasah Pembangunan) menyampaikan bahwa definisi pendidikan adalah kegiatan menyiapkan generasi masa depan dan pada hakekatnya pendidikan adalah menumbuhkan karakter dengan membiasakannya setiap hari sehingga menjadi budaya. Apa yang ia dapatkan dalam Training LVE yang pernah ia ikuti bersama kolega di sekolah memiliki kaitan erat dengan definisi pendidikan tersebut.

“Itu bagaimana kita guru-guru menumbuhkan karakter (nilai-nilai positif) yang sudah ada dalam diri anak-anak. Namun yang lebih penting, bagaimana menumbuhkan nilai-nilai itu dari kami sebagi pendidik sehingga anak-anak meneladani kami,” ungkap Bahrissalim.

Lanjut Bahris mengatakan, tiap anak-anak peduli akan nilai-nilai dan memiliki kapasitas untuk berkarya dan belajar secara positif bila disediakan kesempatan. Untuk itu, ia mendorong bagi setiap guru untuk memahami paradigma tersebut atau memberikan kesempatan kepada anak-anak didik sehingga mereka dapat menumbuhkan dan mengembangkan perilaku positif dan kualitasnya.

Karena itu, Bahrissalim menyebut bahwa teknik Mendengar Aktif yang diajarkan dalam Training LVE kepada guru-guru sangat penting peranannya untuk menjadi soft skill para guru untuk menggali dan menghidupkan nilai-nilai dan kualitas dalam diri masing-masing anak-anak didik.

Dengan guru melakukan aktivitas mendengar aktif, anak-anak didik akan merasa dihargai, dipahami atau terpenuhi kebutuhan lima emosi dasarnya. Dengan merasa dihargai, mereka juga akan menghargai dan bersikap positif kepada teman-temannya dan orang lain di sekelilingnya.

Sebagai informasi, diskusi bertajuk Metode Pendidikan Nilai untuk Harmoni dalam Keberagaman ini diselenggarakan oleh Friedrich Naumann Foundation (FNF Indonesia) dan Perkumpulan INDEKS (Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial) serta didukung oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Diskusi ini terdiri dari dua sesi. Sesi I menghadirkan narasumber Taka Gani, Bahrissalim, dan Iqbal Hasanuddin yang beberapa pandangannya sudah disampaikan di atas. Adapun Sesi II, diskusi ini menghadirkan Nanang Sunandar (Direktur Eksekutif INDEKS), Muqowim (Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta), dan Rani Anggraeni (Pendiri Indonesia Bahagia Foundation). Diskusi ini dimoderatori oleh Mathelda Chris Titihalawa.

Jika pada diskusi Sesi I para narasumber lebih banyak memperkenalkan apa itu LVE, maka para narasumber di Sesi II lebih banyak membicarakan bagaimana LVE mungkin diterapkan dalam upaya menciptakan harmoni dalam perbedaan.

Nanang Sundar dalam presentasinya yang berjudul “Relevansi Metode Pendidikan Nilai dalam Upaya Inklusi Sosial dan Penegakkan Hak Asasi Manusia” menyebut bahwa negara Indonesia beberapa tahun terakhir ini skor kebebasan sipilnya turun meskipun instrumen-instrumen Hak Asasi Manusia sudah dirativikasi dan menjadi undang-undang.

“Salah satu problem kita adalah intoleransi. Masyarakat kita ini kurang friendly dengan kebinekaan atau diversity. Banyak yang takut dan curiga sehingga memunculkan tindakan-tindakan agresif hingga memakan korban. Kasus yang paling menonjol adalah kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan serta pelanggaran kebebasan berpendapat dan berekspresi” terang Nanang.

Untuk itu diperlukan upaya penyuluhan kepada masyarakat pentingnya toleransi dan penghargaan atas kebebasan dan hak-hak warga negara. Secara umum, advokasi Hak Asasi Manusia ada dua pedekatan. Pertama, rights-based (pendekatan berbasis hak melalui hukum atau aturan). Kedua, values-based (pendekatan berbasis nilai).

“Pendekatan values-based menitiktekankan pada awareness. Kalau melihat alurnya, pendekatan ini dimulai dari level yang sangat personal hingga inter-personal atau antara pribadi-pribadi yang saling berinteraksi. Jika yang berinteraksi semakin banyak, maka akan membentuk tatanan sosial sehingga tercipta peace building atau harmoni,” kata Nanang.

Nanang melanjutkan, LVE dalam konteks upaya menciptakan peace building atau harmoni dalam keberagaman sasarannya pada perubahan behavior individu dan masyarakat. Hal itu dapat dilakukan melalui dua hal. Pertama, aktivitas-aktivitas kampanye atau sosialisasi langsung kepada masyarakat melalui diskusi, seminar ataupun melalui penerbitan atau media sosial. Kedua, dengan mentraining key people, seperti, tokoh-tokoh masyarakat, guru, pemimpin, dsb. yang diharapkan menjadi kekuatan pendorong bagi perubahan.

Nara sumber kedua dalam Sesi II diskusi ini, Muqowim, menyampaikan bagaimana values-based untuk keberagaman dalam harmoni melalui pendekatan LVE diaplikasikan di lembaga pendidikan. “Values-based education itu untuk mencetak man of action. Hal ini bukan berarti pengetahuan tidaklah penting, namun pengaplikasian terhadap pengetahuanlah yang lebih ditonjolkan,” kata Muqowim.

Sedangkan narasumber terakhir, Rani Anggraeni Dewi yang juga berprofesi sebagai Couple Relationship Therapist dan Pre-martal consultant, menyampaikan bagaimana values-based untuk keberagaman dalam harmoni melalui pendekatan LVE diaplikasikan di lembaga keluarga.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *