Sang Muslim Ateis

INFORMASI BUKU

Diterjemahkan dan dipublikasikan secara terbatas dengan izin penulis sebagai materi advokasi/bahan bacaan workshop kebebasan berekspresi dan kebebasan atas agama.

Judul Buku      : Sang Muslim Ateis: Perjalanan dari Religi ke Akal Budi

Judul Asli        : The Atheist Muslim: A Journey from Religion to Reason

Penulis             : Ali A. Rizvi

Penerjemah      : Nanang Sunandar, Sukron Hadi

Penerbit           : Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial, https://indeks.or.id/

Tahun Terbit  : 2017

ISBN                : 978-602-61233-0-05

Donasi             : Rp 70.000,-

Kontak            : Sukron Hadi (WA: 0838 1154 5868)

SINOPSIS

Melalui buku yang mendapatkan Forkosch Award 2016 ini, Ali A. Rizvi menarasikan pemikiran dan kisah hidupnya—“epik seorang laki-laki yang berjuang,” tulis Richard Dawkins dalam endorsement-nya, “mendaki keluar dari lubang agama dogmatik untuk meraih matahari terbit pencerahan.” Ali—melalui perpaduan narasi menggugah emosi tentang kehidupan berisiko dari para “pembangkang” dengan argumentasi rasional yang bernas dan provokatif khas “New Atheist”—mengkritik kaum sarjana Muslim moderat dan liberal yang membentengi Islam dengan klaim kesempurnaan melalui pendekatan tafsir yang akrobatik. Apologisme mereka berkontribusi dalam melestarikan sikap anti-kritik yang menghambat sekularisasi, kemajuan saintifik, dan reformasi agama dalam dunia Muslim.

Di banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim, Islam melekat pada indentitas Muslim sebagai individu dan kelompok, meresap dan mendominasi dalam banyak aspek di ruang publik, termasuk kehidupan politik—bahkan di negara mayoritas Muslim yang demokratis dan sekuler. Akibatnya, kritik atas Islam (gagasan) kerap dianggap sebagai serangan kepada Muslim (manusia), seolah kemanusiaan seorang Muslim runtuh ketika Islam dikritik. Bisa dimengerti kenapa di banyak dunia Muslim, para “pembangkang” sering harus membayar mahal kritik mereka atas Islam: dikucilkan oleh keluarga dan komunitas, dibunuh oleh radikalis, dan bahkan—dalam banyak kasus—dipidana oleh pemerintah dengan hukuman fisik seperti pencambukan, penjara, hingga kematian.

Berkebalikan dari tudingan banyak Muslim kepada para ateis dan reformis sekuler, Ali berargumen bahwa kritik atas Islam tidak didorong oleh kebencian pada Muslim, tetapi oleh semangat kemanusiaan dan keprihatinan atas nasib masyarakat Muslim yang menjadi korban terbesar dari aksi-aksi teroris Muslim. Di negara-negara Barat, Muslim juga kerap menjadi sasaran kebencian anti-Muslim dari kelompok ekstrim kanan yang bangkit sejak serangan dramatis teroris 9/11 dan menguat seiring terorisme global ISIS. Meski demikian, Ali juga mengkritik kelompok kiri liberal yang—karena “maksud baik” melindungi hak minoritas Muslim—bukan hanya enggan mengkritik Islam, tetapi juga menuduh kritik sebagai “Islamofobia”. Kegagalan membedakan kritik atas Islam dari serangan kepada Muslim membuat kelompok kiri liberal di Barat dan kalangan Muslim apologis, tanpa sadar, mengikuti retorika radikalis.

1068total visits,2visits today